Kumparan Logo

WPP Media Hadirkan 400 Pemimpin Bisnis di Jakarta, Bahas Ekonomi Kreator

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
WPP Media Indonesia bakal menggelar Content Day 2026: The Age of Influence di Ciputra Artpreneur, Jakarta pada Kamis (15/10). Foto: Instagram @wppmedia.id
zoom-in-whitePerbesar
WPP Media Indonesia bakal menggelar Content Day 2026: The Age of Influence di Ciputra Artpreneur, Jakarta pada Kamis (15/10). Foto: Instagram @wppmedia.id

WPP Media Indonesia akan mempertemukan lebih dari 400 eksekutif pemasaran dan pemimpin bisnis dari kawasan Asia Pasifik dalam acara Content Day 2026: The Age of Influence. Acara yang memasuki penyelenggaraan kelima ini akan berlangsung di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada Kamis (15/10).

Content Day 2026 akan menjadi forum diskusi mengenai perubahan lanskap industri pemasaran, khususnya peran kreator konten, kecerdasan buatan (AI), dan kepercayaan konsumen dalam mendorong pertumbuhan bisnis.

Dalam kesempatan yang sama, WPP Media bersama Kalodata juga akan meluncurkan APAC Creator Economy Landscape Study 2026, sebuah laporan yang memetakan perkembangan ekonomi kreator di 15 pasar Asia Pasifik.

Salah satu temuan yang disoroti adalah nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) social commerce di Asia Pasifik yang telah melampaui 23,2 miliar dolar AS, tumbuh 81 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).

Pertumbuhan tersebut turut didorong oleh aktivitas pemasaran afiliasi. Berdasarkan laporan itu, GMV afiliasi mencapai 14 miliar dolar AS atau meningkat 121 persen secara tahunan, dengan kontribusi sebesar 65 persen terhadap keseluruhan transaksi social commerce.

Ekosistem ini juga didukung oleh 19,4 juta afiliator aktif di kawasan Asia Pasifik.

Pergeseran Perilaku Konsumen di Era Ekonomi Kreator

Laporan WPP Media dan Kalodata turut menyoroti perubahan cara konsumen berinteraksi dengan konten digital. Aktivitas pemasaran kini tidak lagi hanya bertumpu pada jumlah tayangan, likes, atau komentar, tetapi juga kemampuan konten mendorong transaksi.

Di Indonesia, misalnya, volume konten tercatat meningkat 37 persen, sementara jumlah tayangan tumbuh 9 persen. Namun, tingkat interaksi atau engagement tradisional justru turun 11 persen secara tahunan. Secara regional, penurunan engagement mencapai 3 persen.

Temuan ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumen menuju interaksi yang lebih berorientasi pada pembelian, seperti mengklik tautan afiliasi, keranjang belanja, hingga kartu produk yang disematkan dalam konten.

Perubahan tersebut juga mendorong pelaku industri untuk mengevaluasi efektivitas strategi pemasaran. Pengukuran berbasis cost per engagement (CPE) dinilai tidak lagi cukup untuk menggambarkan kontribusi konten terhadap bisnis.

Selain itu, studi tersebut menemukan peningkatan peran nano-kreator dalam ekosistem pemasaran digital. Pangsa kelompok kreator ini meningkat sekitar empat kali lipat hingga mencapai 22 persen dari total kreator.

Seiring perkembangan tersebut, sejumlah merek mulai memanfaatkan teknologi otomatisasi untuk mengelola kolaborasi dengan kreator dalam jumlah besar. Konten yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menguji efektivitas materi pemasaran sebelum diperluas melalui iklan berbayar.

CEO WPP Media Indonesia, Sri Widowati, mengatakan perubahan ini menuntut perusahaan untuk melihat pemasaran sebagai ekosistem yang melibatkan kreator dan komunitas, bukan sekadar penempatan iklan.

"Selama bertahun-tahun, pemasaran merek bertumpu pada formula yang dianggap aman, yaitu keyakinan bahwa relevansi dapat dibeli dengan data dan belanja iklan yang memadai," ujar Sri dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10).

"Era tersebut telah berlalu. Merek modern bukan lagi sekadar iklan linier berdurasi 30 detik, melainkan sebuah mosaik dinamis yang terbentuk melalui ribuan titik interaksi dengan kreator dan komunitas," lanjutnya.

Menurut Sri, Content Day 2026 dan studi terbaru tersebut diharapkan dapat membantu para pemimpin bisnis memahami cara mengukur kontribusi ekonomi kreator terhadap hasil bisnis secara lebih konkret.

Hadirkan Pemimpin Industri hingga Kreator Konten

Selain peluncuran studi, Content Day 2026 akan menghadirkan sejumlah pemimpin perusahaan untuk membahas transformasi bisnis, strategi mempertahankan margin keuntungan, serta penguatan merek di tengah ketidakpastian ekonomi.

Diskusi yang dimoderatori Sri Widowati tersebut akan menghadirkan Head of Mobile Experience Demand Generation and Marketing Samsung Andi Airin, General Manager for Personal Care Unilever Ana Maria Paslaru, Chief Digital and Marketing Officer L'Oréal Indonesia Isabel Falco, serta Digital Transformation Brand Growth & Influence Director Paragon Corp Niken Sistha Sasmaya.

Pembahasan mengenai perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen juga akan melibatkan perwakilan sejumlah perusahaan global, antara lain Meta, Google Indonesia, Meltwater, TikTok Global Solutions, dan WARC.

Sejumlah nama yang dijadwalkan hadir di antaranya Matthew Drury dari Meta, Veronica Utami dari Google Indonesia, Dean Lanauze dari Meltwater, Xu Zhe dari TikTok Global Solutions, serta Rica Facundo dari WARC. Diskusi juga akan melibatkan Aditya Aima dari AnyMind dan Yosuke Fukada dari PopStar.

Pengunjung undangan juga dapat menyaksikan demonstrasi pemanfaatan teknologi AI untuk industri pemasaran melalui sejumlah platform, seperti WPP Open, Brand AI, dan Influencer.AI.

Sementara itu, perspektif dari industri kreatif akan dihadirkan melalui diskusi bersama kreator TikTok Shadira Firdausi, sutradara sekaligus pelaku industri film Umay Shahab dari Sinemaku Pictures, serta Angga Nggok dan Imam Darto dari Podkesmas. Sesi tersebut akan dipandu oleh Pandu Brodjonegoro dari L'Oréal Dermatological Beauty.

CEO WPP Media Asia Pasifik, Helen McRae, menilai kawasan Asia Pasifik memiliki peran penting dalam perkembangan industri media global, terutama melalui integrasi konten, komunitas, dan perdagangan digital.

"Asia Pasifik merupakan episentrum transformasi media global, tempat konten, komunitas, dan perdagangan melebur dalam satu guliran singkat," kata Helen.

Ia menambahkan, kolaborasi antara perusahaan teknologi, pemilik merek, dan kreator diharapkan dapat mendorong pengukuran efektivitas pemasaran yang lebih jelas, pemanfaatan AI, serta pertumbuhan merek secara berkelanjutan.