5 Istilah Kecantikan yang Umum Tertera pada Skincare dan Makeup

kumparanSTYLEverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilsutrasi produk kecantikan. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilsutrasi produk kecantikan. (Foto: Pixabay)

Saat Anda membeli sebuah produk kecantikan seperti makeup dan skincare, mengecek kandungan pada produk tersebut mungkin sudah menjadi kebiasaan yang Anda lakukan. Tentu, hal itu dilakukan guna memastikan bahwa produk yang dipakai sesuai dengan tipe kulit yang dimiliki.

Namun, tak jarang, beberapa istilah membuat Anda kebingungan. Mulai dari penggunaan bahasa asing, hingga bahasa ilmiah yang sulit untuk dimengerti. Oleh karena itu, berikut kumparanSTYLE merangkum 5 istilah umum yang sering Anda temukan di produk-produk kecantikan:

1. Hypoallergenic

Istilah ini memiliki arti bahwa produk yang Anda gunakan memiliki kemungkinan untuk menyebabkan reaksi alergi. Meski demikian, bukan berarti reaksi alergi ini bisa berlaku pada semua orang yang memakainya.

“Alergi dan iritasi adalah sebuah respon yang kompleks. Reaksi ini dapat terjadi pada bahan yang bersifat natural, bahan sintetis, pengawet, wewangian, dan faktor lainnya yang disesuaikan dengan gaya hidup masing-masing,” jelas Tracey Wilmot, Training and Education Director dari Murad kepada Refinery29.

2. Non-comedogenic

Istilah ini mungkin sering Anda temukan pada berbagai produk kecantikan, terutama makeup.

“Komedo adalah sebuah kata yang digunakan untuk menggambarkan kotoran hitam pada wajah. Sehingga, non-comedogenic memiliki arti bahwa formula dari produk tersebut tidak akan menyumbat pori-pori wajah yang bisa menghasilkan komedo,” jelas Tracey.

Namun, ia menambahkan, bukan berarti seluruh produk yang mengklaim non-comedogenic akan membebaskan Anda dari kemungkinan munculnya jerawat dan komedo. Semua tergantung pada kondisi kulit masing-masing.

Rekomendasi beauty brands ramah lingkungan (Foto: Dok. Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Rekomendasi beauty brands ramah lingkungan (Foto: Dok. Istimewa)

3. Natural

Istilah ini sangat umum ditemukan dalam sebuah produk kecantikan. Namun, apa arti sebenarnya?

“Sebuah produk diartikan ‘natural’ apabila mengandung bahan yang terbuat dari alam, dan bukan diciptakan secara buatan dalam laboratorium,” jelas dr. Anita Sturnham, dermatologist dari London, Inggris.

Ia menambahkan, apabila sebuah brand mengklaim bahwa produknya memiliki kandungan yang natural, maka brand tersebut perlu menyertakan bukti terhadap komposisi-komposisinya.

“Karakteristik produk natural juga bisa dilihat dari masa kadaluarsanya yang lebih cepat, mengingat bahan natural tanpa menggunakan bahan pengawet,” tambahnya.

Skincare yang digunakan Archangela Chelsea di malam hari (Foto: dok. ist)
zoom-in-whitePerbesar
Skincare yang digunakan Archangela Chelsea di malam hari (Foto: dok. ist)

4. Alcohol-Free

Penggunaan alkohol dalam produk kulit terbagi menjadi tiga kategori: simpel, berlemak (fatty), atau beraroma.

Alkohol berlemak, seperti cetyl alcohol atau caprylic alcohol, bekerja untuk menghindari kulit dari kehilangan kelembapannya. Sedangkan alkohol beraroma seperti benzyl alcohol, sering ditemukan pada produk-produk parfum.

Namun yang perlu diperhatikan adalah kandungan pada simpel alkohol seperti isopropyl alcohol dan denatured alcohol. Jika digunakan dalam konsentrasi berlebih, kandungannya dapat menyebabkan kulit menjadi kering.

5. Active Ingredients

Terakhir, adalah active ingredients, yang amat sering ditemukan pada produk perawatan kulit wajah. Istilah ini memiliki kandungan biologis yang aktif, sehingga dapat memberi efek pada kulit secara langsung.

Beberapa daftar komposisi active ingredients, antara lain: AHAs, PHAs, Retinol, dan vitamin C.