5 Tips bagi Leader untuk Menghadapi Karyawan yang Ingin Resign

Masa-masa menjelang dan sesudah lebaran biasanya terjadi tren turn over yang tinggi dalam perusahaan. Banyak karyawan yang menunggu momen pembagian THR sebagai waktu yang tepat untuk meninggalkan perusahaan dan mencoba tempat baru.
Fakta ini menjadi bagian dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Robert Walters, perusahaan konsultan rekrutmen spesialis yang tersebar di 28 negara.
Dalam hasil riset dalam bentuk whitepaper berjudul Acquiring Insights from the Exit Process to Build a Better Workplace yang diluncurkan Mei lalu oleh Robert Walters Asia, terungkap berbagai data menarik mengenai tingkat keloyalan staf pada perusahaan.
Riset tersebut misalnya menemukan bahwa mayoritas profesional, di angka 39% menghabiskan rata-rata 3-4 tahun di sebuah jabatan. Sebanyak 11 % profesional mengungkapkan bahwa ada dua alasan utama mereka meninggalkan posisi dalam perusahaan, yaitu; keterbatasan kesempatan untuk berkembang dan merasa dibayar tidak sesuai dengan kemampuan mereka.
Survei ini melibatkan 771 pencari kerja dan 496 hiring managers di China, Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Singapore, Taiwan, Thailand dan Vietnam.
Berdasarkan penelitian tersebut, Robert Walters menyimpulkan bahwa dalam pasar tenaga kerja yang bersaing saat ini, kemampuan perusahaan untuk mempertahankan top talent mereka menjadi sesuatu yang sangat kritikal.
Ketika banyak dari perusahan yang berfokus pada proses rekrutmen untuk mendapatkan kandidat terbaik, penelitian dari Robert Walters ini juga menyarankan agar perusahaan memberi perhatian lebih pada proses keluarnya karyawan, untuk mempelajari lebih dalam alasan mereka meninggalkan perusahaan.
Hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab bagian Sumber Daya Manusia (SDM) namun juga bagi Anda leader yang akan menjadi pintu pertama yang didatangi karyawan ketika mereka ingin resign.
Untuk itu, kumparanSTYLE berbincang dengan Rachmi Fauzi, Manajer Sumber Daya Manusia Robert Walter Indonesia, yang memberikan 5 tips bagaimana bagi Anda seorang leaders menghadapi anggota tim yang ingin resign.
1. Belajar membaca tanda-tanda.

Sekitar 85% leader yakin bahwa mereka mengetahui tanda-tanda karyawan yang ingin resign, seperti penurunan efisiensi kerja, ketidakhadiran, mengalami beberapa gangguan kerja, dan pelepasan diri.
Belajar membaca tanda-tanda bahwa seorang karyawan tidak nyaman di perusahaan sangat penting sehingga masalah dapat diatasi pada tahap awal sebelum karyawan memutuskan untuk resign. Selain itu, tindakan ini juga diperlukan untuk mencegah karyawan lain terpengaruh oleh hal-hal negatif dan penurunan produktivitas.
2. Menerapkan komunikasi yang terbuka.
Menurut whitepaper Robert Walters, hanya sekitar 42% karyawan yang mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap leader maupun perusahaan sebelum mereka memutuskan untuk berhenti. Tingkat retensi yang tinggi, hanya dapat dicapai dengan memastikan karyawan dapat dengan nyaman berbagi feedback dan kritik yang membangun dengan leader-nya.
Lebih lanjut, diperlukan strategi untuk mendorong komunikasi terbuka termasuk menciptakan peluang untuk mengembangkan networking dan membangun tim di luar kantor. Hal tersebut dapat membantu mengembangkan rasa kesetiakawanan dan kesetiaan.
3. Cari sampai akar permasalahan yang terjadi, hal-hal yang menyebabkan ketidaknyamanan karyawan.
Untuk mencari akar permasalahan yang terjadi, seorang leader memerlukan bantuan dari departemen SDM untuk mengatur pertemuan intim dengan karyawan yang akan mengundurkan diri.
Jika masalahnya berkaitan dengan pekerjaan, ada baiknya leader menciptakan tantangan baru untuk membuat karyawan tetap terlibat dan merasa dibutuhkan. Jika masalahnya bersifat pribadi, disarankan untuk menetapkan jalur komunikasi yang terbuka dan jujur untuk membantu karyawan sebisa mungkin dan memastikan bahwa dampak permasalahannya terhadap perusahaan adalah minimal.
4. Siapkan rencana ‘counter offer’ dan minta bantuan pihak lain.

Jika karyawan yang cukup penting bagi tim Anda memutuskan untuk resign, dan perusahaan ingin mempertahankannya, cobalah untuk memberikan saran atau pengajuan ke departemen SDM untuk memberikan penawaran yang menarik kepada karyawan (kenaikan gaji, tambahan benefit, dan sebagainya).
Masih dari whitepaper Robert Walters, “Acquiring Insights from the Exit Process to Build a Better Workplace”, 65% perusahaan mengatakan bahwa counter offer yang diberikan kepada profesional yang mengundurkan diri selalu berakhir dengan penolakan.
Untuk memperkecil kemungkinan ini, Robert Walters menyarankan untuk berdiskusi dengan agensi perekrutan yang dapat melakukan pre-screen candidate. Mengapa? Karena pada umumnya, karyawan akan lebih terbuka kepada recruiter ketimbang HR manager/leader mereka sendiri. Perekrut dapat menilai motivasi karyawan untuk resign, dan bahkan membantu untuk mengurangi daya tarik offering dari perusahaan yang dituju oleh karyawan.
Namun, perlu diwaspadai, meskipun kenaikan gaji dapat menarik beberapa kandidat untuk jangka pendek, biasanya ada penyebab lain yang membuat karyawan tidak nyaman di perusahaan. Selain menawarkan kenaikan gaji yang menarik, leader juga dapat mempertahankan karyawan dengan mengembangkan atau men-set KPI untuk memberikan jalur karier yang jelas bagi mereka.
5. Belajarlah dari exit interview form karyawan
Berdasarkan penelitian Robert Walters, 72% dari karyawan yang diminta untuk mengisi exit interview form merasa bahwa mereka dapat memberikan saran yang konstruktif bagi perusahaan. Meskpiun begitu mereka berpikir bahwa hal ini hanyalah bagian dari SOP dan bukan sebuah langkah yang berharga untuk dilakukan.
Dari sisi perusahaan, exit form akan sangat berguna bagi mereka untuk menentukan desain/strategi pengembangan SDM perusahaan. Jika hal ini diimplementasikan dengan baik, maka dapat menarik dan bahkan mempertahankan karyawan yang ada. Terlebih, dokumen ini dapat memberikan informasi kepada perusahaan bahwa hubungan yang terjalin dengan eks-karyawan masih dalam status yang baik. Dan membuka peluang untuk merekrut kembali sang karyawan di masa mendatang.
