kumparan
7 Agustus 2017 16:23

Bahaya di Balik Manisnya Gula yang Mengancam Kematian

Seminar Media "Tepatkah Konsumsi Gula Anda?"
Seminar Media "Tepatkah Konsumsi Gula Anda?" (Foto: Luthfa Nurridha/kumparan)
Siapa yang tak suka mengkonsumsi makanan manis? Nampaknya semua manusia di dunia ini tak ada yang tak suka mengkonsumsi makanan manis. Kebiasaan masyarakat Indonesia yang menyesap secangkir teh hangat manis di pagi hari menunjukkan jika konsumsi gula di Indonesia masih tinggi.
ADVERTISEMENT
Padahal bahaya kesehatan mengancam siapa saja yang gemar konsumsi asupan gula berlebih. Obesitas menjadi salah satu penyakit yang paling mudah terpicu oleh adanya asupan gula berlebih yang mengendap di dalam tubuh.
Di Indonesia sendiri, kasus obesitas terus meningkat jumlahnya. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Riskesdas Depkes RI), angka prevalensi obesitas pada orang dewasa di Indonesia meningkat dari 16,8 persen di 2007 menjadi 31,4 persen di 2013.
Seminar Media "Tepatkah Konsumsi Gula Anda?"
Seminar Media "Tepatkah Konsumsi Gula Anda?" (Foto: Luthfa Nurridha/kumparan)
Menurut data yang diperoleh dari Data International Diabetes Federation tahun 2015 lalu menunjukkan jika jumlah penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan sebanyak 10 juta. Sedangkan, Data Sample Registration Survey di tahun 2014 menyatakan, diabetes telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia nomor tiga dengan presentase sebesar 6,7 persen setelah stroke (21,1 persen) dan penyakit jantung koroner (12,9 persen).
ADVERTISEMENT
Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc, pakar gizi dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menjelaskan penyebab tingginya angka obesitas dan diabetes di Indonesia.
"Salah satu penyebabnya adalah kultur rasa, di mana masyarakat Indonesia menyukai rasa manis pada hidangan yang mereka konsumsi," jelas Dr. Saptawati saat ditemui kumparan (kumparan.com) di acara "Tepatkah Konsumsi Gula Anda?" di Akmani Hotel, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (7/8).
"Padahal WHO sudah mencanangkan perang terhadap gula. WHO juga mengimbau pemerintah untuk memberikan pajak tinggi pada makanan yang tidak sehat," tambahnya.
Dr. Saptawati dan Dr. Asano
Dr. Saptawati dan Dr. Asano (Foto: Luthfa Nurridha/kumparan)
Dr. Saptawati pun menuturkan jika konsumsi gula harus dibatasi dan mengganti gula tambahan atau 'added sugar' dengan gula alami yang bisa ditemukan pada buah, sayur, susu dan produk susu.
ADVERTISEMENT
Meskipun penyakit diabetes tidak menyebabkan kematian namun Dr. Saptawati berujar jika komplikasi yang disebabkan oleh penyakit tidak menular diabeteslah yang akan menyebabkan kematian.
"Jika seseorang sudah menderita diabetes maka besar kemungkinan ia juga akan menderita penyakit kardiovaskular yang di mana penyakit ini bisa mengancam jiwa si penderita," ujar Dr. Saptawati.
Lantas berapa asupan gula yang boleh dikonsumsi masyarakat per harinya?
Pada tahun 2015, WHO merekomendasikan pembatasan asupan gula tambahan hingga kurang dari 10 persen asupan energi total pada orang dewasa dan anak.
"Peraturan Kemenkes RI No 30 tahun 2013, merekomendasikan konsumsi gula tidak melebihi 50 gram (5 sendok makan) per orang per harinya untuk mengurangi risiko diabetes," papar Dr. Saptawati.
ADVERTISEMENT
Anjuran penggantian gula tambahan dengan pemanis alami pun sangat disarankan oleh Dr. Saptawati. Pilihan pemanis alami dijual di Indonesian pun sudah banyak.
Terbuat dari tumbuhan dengan tingkat kemanisan yang menyamai gula pasir pada umumnya membuat pemanis alami menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin tetap mengkonsumsi makanan atau minuman manis namun tetap memperhatikan kesehatan mereka.
Jadi, sudah siapkah kamu membatasi jumlah asupan gula per harinya?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan