kumparan
9 Juni 2018 11:08

Beberapa Suku di Indonesia yang Dianggap Pantang untuk Saling Menikah

Pernikahan antar suku (Foto: dok.The Bridedept & Antara/Maulana Surya)
Pernahkah Anda mendengar bahwa orang Jawa dilarang menikah dengan orang Sunda maupun sebaliknya? Ternyata perkara tersebut hingga saat ini masih dipercaya dan dipegang teguh oleh sebagian masyarakat kita.
ADVERTISEMENT
Bagi sebagian orang, pernikahan antar suku tertentu tersebut diyakini menjadi pernikahan yang nantinya akan berjalan tidak langgeng dan penuh sengsara.
Tak terbatas soal pernikahan suku Jawa dengan Sunda, namun juga berlaku di beberapa suku lainnya di Indonesia. Misalnya mitos terkait larangan pernikahan antara suku Jawa dengan Batak, antara Sunda dengan Minang dan sebagainya.
Sejatinya mitos itu merupakan bagian dari folklore atau legenda rakyat, yakni suatu kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan maupun isyarat.
"Mitos itu berangkat dari pengalaman seseorang, jadi ada suatu peristiwa (sejarah) yang berkembang di sana. Dalam konteks ini, mitos pernikahan antar suku yang berkembang berangkat dari pengalaman suku tertentu saat berinteraksi dengan suku lain yang akhirnya menimbulkan impresi-impresi. Kemudian impresi tersebut digeneralisasi, dan melahirkan stereotype yang berawal dari persepsi. Nah, kemudian persepsi tersebut cenderung beredar di masyarakat," papar Antropolog dari Universitas Indonesia, Dr. Irwan Martua Hidayana, M.A saat dihubungi kumparanSTYLE.
ADVERTISEMENT
Terlepas dari kesahihan atas suatu mitos yang berkembang di masyarakat. Persoalan larangan menikah antar suku di Indonesia tampaknya masih menjadi isu yang menarik untuk diperbincangkan.
Oleh karena itu, kumparanSTYLE merangkum berbagai mitos seputar pernikahan antar suku di Indonesia yang beberapa diantaranya pasti tidak asing lagi ditelinga Anda. Apa saja? Yuk simak!
1. Pernikahan antara suku Jawa dengan Sunda
Inspirasi kebaya pengantin Sunda (Foto: Dok. Isimewa)
Pernikahan antara dua suku ini sering menjadi bahasan yang paling sering ditemui di masyarakat kita. Menjadi hal yang cukup tabu untuk membiarkan dua suku ini bersatu dalam satu ikatan pernikahan.
Meskipun sering berjalannya waktu semakin banyak pernikahan yang terjadi antara suku Jawa-Sunda dan terbukti pernikahan tersebut di antaranya berlangsung baik-baik saja. Persepsi akan tabunya pernikahan antara suku Jawa-Sunda tersebut bukan berasal dari sesuatu yang tidak berdasar.
ADVERTISEMENT
Mitos larangan pernikahan Jawa-Sunda bermula dari sejarah perang Bubat antara Kerajaan Majapahit dari tanah Jawa dan Kerajaan Padjadjaran dari tanah Sunda. Perang tersebut seolah membawa 'sisa permusuhan' antar kedua suku ini. Sehingga munculah mitos jodoh antara orang Jawa dan Sunda.
kumparanSTYLE pun menghubungi seorang antropolog untuk menjabarkan hal tersebut. Notty J Mahdi, Antropolog dalam Forum Kajian Antropologi Indonesia ini memberi sudut pandang berbeda mengenai kepercayaan ini.
"Dalam masyarakat Jawa, berkembang pemahaman jika perempuan Sunda tidak bisa memegang uang karena mereka suka berdandan, tidak bisa memasak, mengurus rumah tangga, tidak sopan, dan lain-lain. Stereotype ini muncul karena pada suatu masa, saat orang-orang Jawa datang ke daerah Pasundan, mereka melihat kegemaran perempuan Sunda yang duduk-duduk di depan rumah dan berdandan. Hal ini berbeda dengan kebiasan perempuan Jawa. Perbedaan kebiasaan ini yang kemudian menimbulkan anggapan perempuan Sunda itu materialistis," paparnya saat dihubungi kumparanSTYLE melalui surat elektronik.
ADVERTISEMENT
2. Pernikahan antara Batak dengan Jawa
Resepsi Kahiyang Ayu-Bobby Nasution (Foto: Biro pers setpres)
Sedangkan mitos yang berkembang antara pernikahan suku Batak dan Jawa dapat dilihat dari kaca mata karakter masing-masing suku. Suku Batak terkenal memiliki watak yang cukup keras dan blak-blakan sehingga kerap dikenal dapat 'menindas' suku Jawa yang cenderung manut dan lembut.
Selain itu yang kebanyakan selalu diingat orang, suku Batak identik dengan orang yang beragama Kristen sedangkan Jawa itu Muslim. Walau ada saja orang Batak yang muslim, tapi begitu mendengar Batak pasti identik dengan Kristen.
Perbedaan agama tersebutlah yang mebuat pernikahan antara suku Batak - Jawa menjadi sesuatu yang kerap dihindari. Padahal jika dilihat saat ini, suku Batak tak hanya saja terdiri dari agama Kristen saja, banyak juga yang seorang muslim.
ADVERTISEMENT
"Ditambah adat istiadat kedua masyarakat ini yang kompleks dan rumit dalam life cycle atau putaran hidup manusia, dan berbeda satu sama lain. Marga penting dalam masyarakat Batak karna mereka mengikuti garis ayah. Bila pria Batak menikah dengan perempuan di luar Batak harus diadakan pesta adat pemberian marga pada istri non Batak agar keturunan mereka kelak dapat berperan dalam adat. Posisi dalam upacara tersebutlah yang sering dirasa masyarakat di luar Batak rumit dan melelahkan," papar Notty.
3. Pernikahan antara Sunda dengan Minang
Suntiang Minang (Foto: Nofri Fimal - Instagram)
Perempuan Sunda kerap dikenal dengan orang yang suka berfoya-foya dan matre. Sementara ada stereotip bahwa orang Minang itu pelit. Berlandaskan kombinasi dua karakter inilah yang menimbulkan asumsi bahwa keuangan mereka nantinya akan selalu tak stabil. Sehingga tak sedikit orang tua yang melarang pernikahan antar kedua suku ini.
ADVERTISEMENT
Ia memaparkan, masyarakat Minangkabau mengikuti adat matrilineal di mana garis ibu yang diikuti. Anak-anak keturunannya mengikuti marga ibu mereka. Perempuan-perempuan Minangkabau terbiasa menjadi pengambil keputusan dalam keluarga, begitupun dalam ranah ekonomi. Sesuatu yang amat berbeda dengan kebudayaan Sunda.
"Anak-anak Minangkabau belajar adat istiadat dari ibu mereka. Bisa dibayangkan kalau pria Minang menikah dengan perempuan Sunda. Sebaliknya pria Sunda yang menikah dengan perempuan Minang (dianggap) akan tertekan karena istrinya yang menjadi mengambil keputusan dalam rumah tangganya. Itu contoh-contoh yang sering saya dengar waktu penelitian di Bukittinggi," jelas Notty.
Selain itu, masyarakat Minangkabau memiliki ketakutan, bila pria menikah dengan perempuan di luar Minangkabau, akan putus obor adat mereka.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan