Woman
·
21 April 2018 15:05

Cinta hingga Kritik Buku, Berikut Kutipan Menginspirasi Surat Kartini

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Cinta hingga Kritik Buku, Berikut Kutipan Menginspirasi Surat Kartini (36377)
R.A. Kartini (Foto: Wikimedia Commons)
Kartini hidup lebih dari satu abad sebelum masa kita hidup sekarang. Namun, jika kita membaca tulisannya dalam surat-surat yang ia kirim kepada sahabat-sahabatnya, kita akan tercengang betapa majunya cara berpikir putri Jawa yang masih muda tersebut.
ADVERTISEMENT
Ia dipingit pada usia 13 tahun, hal yang normal untuk perempuan Jawa terutama dari kalangan ningrat di masa itu. Namun dinding yang mengungkungnya tidak membatasi pemikiran Kartini. Ia rajin membaca dan menulis. Ia mengungkapkan keresahan atas hal-hal yang terjadi di sekelilingnya yang menurutnya tidak sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi. Ia ingin berbuat banyak untuk masyarakat di sekitarnya, dan ia memiliki cita-cita yang sangat tinggi.
Namun sayang, begitu banyak hal yang menghalangi cita-cita Kartini saat itu. Meski demikian, warisannya tetap ada hingga masa kini berkat kecakapannya dalam menulis. Kartini menulis dengan sangat indah, sehingga surat-suratnya tidak pernah bosan untuk dibaca.
Surat-surat itu kemudian dibukukan oleh beberapa pihak, termasuk oleh sang penulis legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.
ADVERTISEMENT
Berikut kumparanSTYLE (kumparan.com) mengambil beberapa kutipan dari surat-surat Kartini tentang berbagai hal yang dapat menginspirasi dan juga membakar semangat.
1. Tentang Kehidupan Perempuan
Cinta hingga Kritik Buku, Berikut Kutipan Menginspirasi Surat Kartini (36378)
RA Kartini (Foto: Wikimedia Commons)
“Terlalu banyak penderitaan di dalam dunia wanita kami. Tetapi sebelum aku angkat bicara melawan kezaliman yang merajalela di dalam duniaku itu, aku harus mempertimbangkannya baik-baik; aku harus tahu apa yang aku lakukan, karena dengan angkat suara itu aku memanggil kebencian semua orang, yang mendapatkan keuntungan dari kezaliman itu, menjadi penimpa kepalaku."
2. Tentang Kritik Buku dan Emansipasi Wanita
Cinta hingga Kritik Buku, Berikut Kutipan Menginspirasi Surat Kartini (36379)
RA Kartini (Foto: Wikimedia Commons)
“Bagiku, Hilda van Suylenburg masih tetap Ratu di antara segala karya yang terbit sampai dewasa ini tentang Emansipasi Wanita. Aku akan menunggu kesempatan untuk menyatakan kritik(!!!)ku atas Modern Vrouwen, tetapi menurut perasaanku buku itu kehilangan semangat dan ilham yang ada pada Hilda van Suylenburg.”
ADVERTISEMENT
3. Tentang Kepedulian Terhadap Pemuda Lainnya
Cinta hingga Kritik Buku, Berikut Kutipan Menginspirasi Surat Kartini (36380)
Sekolah Kartini di Bogor yang didirikan pada 1918 (Foto: Wikimedia Commons)
“O, biarlah dia mencicipi kesenangan, yang didambakan oleh jiwa kami bertahun lamanya, dan yang tiada dapat kami kecap."
“Buatlah kami berbahagia, dengan jalan membahagiakan orang lain, yang mempunyai keinginan, perasaaan, dan aspirasi seperti kami. Kami mengerti apa artinya mengeramkan damba membara di dada. Duh, biarlah jiwa muda yang indah, tiada kehilangan tenaganya yang segar! Jiwanya itu harus dapat diperas buat kepentingan Rakyat, yang memang membutuhkan tenaga-tenaga seperti tenaganya!”
4.Tentang Pengabdian Sosial
Cinta hingga Kritik Buku, Berikut Kutipan Menginspirasi Surat Kartini (36381)
Raden Ajeng Kartini (Foto: Arsip Nasional)
“Kerja! Kerja! Kerja! Perjuangkan kebebasanmu! Baru kemudian kalau kau telah bebaskan dirimu sendiri dengan kerja, dapatlah kau menolong yang lain-lain!"
“Indah dan mulia tugas yang memanggil kita untuk berjuang bagi kepentingan agung, bekerja buat kemajuan wanita Pribumi yang tertindas, peningkatan rakyat Pribumi, pendeknya menjadi berarti bagi masyarakat, bekerja bagi keabadian…”
ADVERTISEMENT
5.Tentang Cinta
Cinta hingga Kritik Buku, Berikut Kutipan Menginspirasi Surat Kartini (36382)
RA Kartini (Foto: Wikimedia Commons)
"Cinta! Apa yang kita ketahui tentang cinta? Bagaimana kita dapat mencintai seorang laki-laki yang tidak pernah kita kenal sebelumnya? Bagaimana laki-laki itu dapat mencintai kita? Tentu saja mustahil. Perempuan dan laki-laki muda dipisahkan, dan tak pernah diijinkan untuk berjumpa."
“Tidak ada yang dapat kita lakukan mengenai hal tersebut. Suatu hari itu akan terjadi, bahwa saya harus menuruti seorang suami yang tidak saya pernah saya kenal. Cinta hanyalah dongeng bagi dunia kami di Jawa. Bagaimana seorang suami dan istri bisa mencintai satu sama lain jika mereka baru bertemu setelah mereka terikat dalam pernikahan?”