Desain Sesuai Karakter Eropa Jadi Alasan Indonesia Ikut Ambiante 2017

kumparanSTYLEverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Konferensi Pers Bekraf di The Hermitage, Menteng (Foto: Nadia Jovita Injilia Riso/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi Pers Bekraf di The Hermitage, Menteng (Foto: Nadia Jovita Injilia Riso/kumparan)

Indonesia akan kembali ikut dalam pameran Home Decor di Eropa melalui Ambiente 2017 di Frankrut. Akan ada enam delegasi Indonesia yang akan berangkat ke Frankrut untuk memamerkan produk kriya mereka ke pasar Eropa. 

Aloysius Baskoro selaku kurator yang memilih keenam brand yang akan berangkat ke Frankrut membeberkan alasan dipilihnya brand-brand tersebut.  "Yang pertama, kita cari kualitas desain yang sesuai dengan karakter pasar di Eropa. Jadi konteksnya enggak terlalu yang tradisional, memiliki keunikan, kontemporer, dan juga menggunakan material lokal," tutur Aloysius usai konferensi pers di The Hermitage, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (1/2). Misalnya saja, Magno milik Singgih Kartono. Menurut Aloysius, Magno yang merupakan brand furniture yang terbuat dari kayu memiliki desain yang bagus, secara pasar bagus, dan memiliki quality control. Kemudian Kandura Studio milik Fauzy Kamal dan Nuanza Ceramics milik Roy Wibisono yang memiliki produksi cukup stabil.  Aloysius sangat menekankan produksi dalam setiap kriya. Menurutnya, produksi akan menopang para pelaku usaha untuk membuat branding produknya. Tidak hanya itu, Aloysius juga menekankan kualitas produksi, desain kontemporer, dan image internasional yang kuat. "Kalau di tampilkan di luar negeri punya wajah Indonesia yang berbeda. Wajahnya bukan lagi wajah Jepara, Lombok, tapi Indonesia yang nge-blend dengan wajah yang lebih modern," tuturnya.  Menurutnya, bukan berarti yang lama dihilangkan, tapi harus berpikir secara global. Konsep lama sudah pernah dipamerkan kementerian yang lain dan tak perlu diulang lagi.  Yang penting, menurut Aloysius, tetap mengedepankan unsur Indonesia dari sisi penggunaan material, di desain oleh orang Indonesia, dan dibuat di Indonesia.  Cerita dalam Produk Tidak hanya itu, keenam brand tersebut dipilih karena memiliki cerita yang mereka tampilkan dalam produk mereka. Aloysius memberi contoh cerita yang ada dalam produk Magno milik Singgih Kartono "Cerita produknya itu untuk sustainability. Untuk menanam pohon kembali. Itu cerita yang menurut saya value yang menjual," tuturnya.  Value inilah yang belum dilihat di pasar Indonesia. Pasar di Eropa, kata dia, cenderung melihat hidden value, yaitu menceritakan sesuatu lewat produk. Laku tidak laku, namun pasar di Eropa suka dengan konsep seperti itu.  Meski demikian, bukan berarti cerita lebih penting dibandingkan produk. Cerita dan produk, kata Aloysius, merupakan hal yang berbarengan.  "Kalau enggak punya konsep, ini cuma komoditas. Dia sebagai barang saja. Tapi konsep juga enggak ada barang kan enggak bisa dijual. Jadi harus jadi satu. Jadi nanti kan orang emosinya bermain," pungkasnya sebelum menyudahi pemaparan.