Desainer Didiet Maulana Batal Gelar Show Tenun Donggala di Palu

kumparanSTYLEverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Didiet Maulana (Foto: Dok. Didiet Maulana)
zoom-in-whitePerbesar
Didiet Maulana (Foto: Dok. Didiet Maulana)

Duka mendalam terkait musibah tsunami dan gempa di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah juga tengah dirasakan oleh desainer Didiet Maulana.

Pasalnya, Didiet dan para perajin Tenun Donggala dijadwalkan untuk menggelar fashion show pada tanggal 9 Oktober mendatang di Hotel Mercure Palu. Acara tersebut sudah dipastikan gagal karena tidak hanya lokasi fashion show yang kini telah porak poranda akibat gempa dan tsunami, tetapi hingga kini Didiet juga belum bisa tersambung dengan para tim dan perajin di Palu dan Donggala.

“Rencananya fashion show Tenun Donggala akan digelar pada 18 September, tetapi karena satu dan lain hal acara sepakat diundur hingga 9 Oktober mendatang. Sekarang dengan adanya musibah gempa dan tsunami yang menimpa Palu dan Donggala, acara tersebut sudah pasti dibatalkan dan hingga saat ini kami belum bisa menghubungi semua tim dan perajin di Palu,” tutur Didiet Maulana melalui wawancara telepon bersama tim kumparanSTYLE.

Acara tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengangkat Tenun Donggala agar lebih dikenal oleh masyarakat luas serta membantu meningkatkan kualitas produksi kain tenun asli Palu tersebut. Didiet juga menjelaskan bahwa acara fashion show tersebut dipersiapkan berdasarkan arahan dari istri Wakil Presiden, Mufida Jusuf Kalla dan Yanti Airlangga dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas).

Sebelumnya, desainer sekaligus creative director dari IKAT Indonesia ini bersama timnya berencana untuk berangkat ke Palu pada 7 Oktober 2018 mendatang. Didiet telah membuat janji untuk bertemu dengan Evi, salah satu perempuan perajin Tenun Donggala untuk makan bersama dan berkoordinasi. Sayangnya, pertemuan tersebut harus diurungkan lantaran Evi menjadi salah satu korban tsunami dan gempa Palu yang meninggal.

instagram embed

“Kami hanya mendapat kabar bahwa Bu Evi menjadi salah satu korban meninggal, tapi untuk keterangan meninggalnya seperti apa, kami belum mendapat info lebih lanjut. Bahkan kami belum bisa terhubung dengan tim Bu Evi ataupun keluarganya. Dari kemarin kami terus menghubungi semua tim dan perajin yang terlibat dalam projek ini tapi belum bisa karena akses komunikasi dan listrik terputus,” cerita Didiet.

Dukung Pengrajin Tenun Donggala

Proses pembuatan Tenun Donggala (Foto: dok. Didiet Maulana)
zoom-in-whitePerbesar
Proses pembuatan Tenun Donggala (Foto: dok. Didiet Maulana)

Sekitar sebulan yang lalu Didiet Maulana berangkat ke Palu dan Donggala untuk memberikan pelatihan persiapan fashion show kepada para perajin, desainer lokal, dan tim perwakilan dari pemuda-pemuda SMK di Palu.

Didiet yang terkenal akan kecintaannya dalam mengusung kain-kain khas Indonesia dalam setiap karyanya, kali ini mendapat kesempatan untuk membantu perajin kain Tenun Donggala. Dengan IKAT Indonesia, ia telah menyiapkan 10 tampilan kain Tenun Donggala untuk fashion show tersebut.

Didiet Maulana bersama dengan dua perajin Tenun Donggala (Foto: dok. Didiet Maulana dan Facebook Nino Rino Mastura)
zoom-in-whitePerbesar
Didiet Maulana bersama dengan dua perajin Tenun Donggala (Foto: dok. Didiet Maulana dan Facebook Nino Rino Mastura)

“Tujuan utama dari fashion show tersebut adalah untuk mengangkat Tenun Donggala agar semakin dikenal oleh banyak orang dan membantu meningkatkan kualitas produksi kain tersebut,” tuturnya.

Total terdapat 10 perajin yang diajak berkolaborasi. Masing-masing dimasukkan ke dalam lima kelompok yang terdiri dari perajin, desainer, penjahit, dan tim media sosial. Program tersebut juga bertujuan untuk mengajarkan para perajin dan desainer lokal untuk dapat mempresentasikan karyanya di hadapan publik dan juga media sosial.

Para perajin Tenun Donggala yang terdampak tsunami dan gempa di Palu dan Donggala (Foto: dok. Didiet Maulana)
zoom-in-whitePerbesar
Para perajin Tenun Donggala yang terdampak tsunami dan gempa di Palu dan Donggala (Foto: dok. Didiet Maulana)

Tenun Donggala sendiri merupakan salah satu kain khas Indonesia yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan. Menurut Didiet, keistimewaan Tenun Donggala adalah kainnya memiliki tekstur yang halus, motifnya diambil dari benda-benda sekitar yang ada di Donggala, seperti bunga dan makanan khas Donggala atau Palu.

Kain Tenun Donggala berbentuk gedogan atau kain panjang yang harus disambung terlebih dahulu, baru bisa dikreasikan. Zaman dulu, untuk memberikan kesan mewah, perajin kerap mengkombinasikan benang emas dan perak dalam pembuatan Tenun Donggala yang kemudian dijadikan sebagai selendang dan sarung.

Meski tengah berduka, Didiet tidak lantas putus asa untuk membantu melestarikan kain Tenun Donggala. Ia berencana mengubah konsep fashion show menjadi malam penggalangan dana.

Proses pembuatan Tenun Donggala (Foto: dok. Didiet Maulana)
zoom-in-whitePerbesar
Proses pembuatan Tenun Donggala (Foto: dok. Didiet Maulana)

“Saya ingin mengubah konsep pertunjukan yang tadinya hanya sebatas fashion show saja, diubah menjadi malam penggalangan dana untuk Donggala. Jadi nanti uang yang terkumpul akan digunakan untuk membantu proses penanganan dan penyelamatan awal bagi para perajin disana,” ungkapnya.

Ia kemudian menambahkan, sebagai bentuk kontribusinya terhadap para perajin, ke depannya Didiet Maulana dan tim akan membuat satu program tetap dan berkelanjutan guna membantu membangun dan melestarikan kembali Tenun Donggala.

Hingga kini, menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban akibat gempa dan tsunami yang melanda Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, sebanyak 832 orang meninggal. Di Kota Palu sebanyak 821 orang dan di Donggala 11 orang.