Hiperpigmentasi pada Wajah dan Cara Mengatasinya

kumparanSTYLEverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Perempuan (Foto: Dok.Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perempuan (Foto: Dok.Thinkstock)

Bebas dari berbagai masalah kulit, selalu tampak sehat dan bercahaya adalah impian banyak perempuan. Namun tidak semua kita beruntung selalu memiliki kulit sehat dan terhindar dari berbagai masalah.

Ada beberapa masalah umum yang sering dihadapi perempuan terkait kulit, salah satunya adalah hiperpigmentasi.

Menurut dermatologis dr. Dartri Cahyawari, SpKK, hiperpigmentasi merupakan kondisi perubahan warna menjadi kehitaman atau kecoklatan pada kulit. “Hal ini dapat disebabkan paparan sinar UV, proses peradangan atau trauma pada kulit, reaksi alergi, infeksi, stres, hormonal, kehamilan, kosmetik, obat-obat atau karena nutrisi yang buruk maupun genetik,” jelasnya kepada kumparanSTYLE.

Selain hiperpigmentasi, menurut dr. Dartri kondisi kulit yang paling mengganggu di area wajah adalah melasma, hiperpigmentasi pasca inflamasi, dan periorbital darkening yang sering disebut dark circle atau mata Panda.

Untuk menghindari kondisi hiperpigmentasi ini, dr. Dartri menyarankan agar kita menghindari sinar ultraviolet (UV) secara langsung terutama pada pukul 10 hingga 14.00. Selain itu, kita juuga harus menggunakan sunscreen yang diulang pemakaiannya setiap 2 hingga 3 jam sekali.

Ilustrasi wajah perempuan (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wajah perempuan (Foto: Thinkstock)

“Yang paling penting juga menghindari faktor-faktor pencetusnya. Pada melasma, selain sinar UV juga harus diketahui pencetus lainnya seperti stres, obat hormonal, atau kosmetik. Pada hiperpigmentasi pasca inflamasi tentu saja kita harus menghindari penyebab terjadinya peradangan pada kulit seperti gigitan serangga, jerawat, dermatitis, dan trauma pada kulit. Sedangkan mata panda berhubungan dengan faktor genetik yang tentu sulit kita hindari tetapi dapat dikurangi dengan menurunkan tingkat stres, mengatur pola tidur, dan tidak sering menggosok area mata.”

Untuk penanganan lebih lanjut adalah dengan menggunakan obat-obatan pencerah kulit (whitening agents), tindakan peeling, dermabrasi dan laser. “Laser sebaiknya yang dilakukan oleh dokter yang mempunyai kompetensi dalam tindakan tersebut yaitu dokter spesialis kulit dan kelamin,” ujarnya.