kumparan
5 Desember 2018 12:22

Inspirasi Womanpreneur: Putri & Kara, 2 Sahabat di Balik Label Pvra

Putri dan Kara, pendiri label lokal Pvra. (Foto: dok. Irfan Adi Saputra/kumparan)
Banyak yang bilang, hindari menjalankan bisnis bersama sahabat jika tidak ingin merusak pertemanan. Karena dikhawatirkan, jika timbul perbedaan pendapat akan berdampak kepada persahabatan yang selama ini telah dijalin.
ADVERTISEMENT
Tetapi, anggapan tersebut berhasil ditepis oleh dua orang sahabat bernama Kara Nugroho (30) dan Putri Katianda (30). Keduanya kompak menjalani bisnis dengan mendirikan label alas kaki, Pvra (dibaca: pura), pada 2015 silam.
Kara dan Putri yang merupakan teman satu kamar saat kuliah bisnis di Monash University Australia rupanya menaruh minat besar pada dunia fashion. Kara menggemari sepatu, sedangkan Putri adalah seorang pecinta perhiasan. Dan dari sanalah, keduanya sepakat untuk menggabungkan kegemaran masing-masing dengan membuat alas kaki bertahtakan perhiasan.
Dengan bermodalkan Rp 5 juta, Pvra merilis sandal dengan hiasan manik-manik sederhana yang dipasarkan melalui media sosial Instagram.
Antusiasme pembeli semakin meningkat ketika Pvra bekerja sama dengan beberapa influencer ternama, seperti Anda Alodita, Ayla Dimitri dan Ria Miranda. Tak sampai di situ, Pvra juga sempat berpartisipasi dalam gelaran Jakarta Fashion Week yang membuat namanya semakin dikenal di kalangan pecinta fashion.
Putri dan Kara bercerita tentang awal Pvra berdiri hingga tantangan yang dihadapi. (Foto: dok. Irfan Adi Saputra/kumparan)
Bagi Kara dan Putri, berbisnis dengan sahabat sendiri sama halnya seperti membangun rumah tangga dengan pasangan. Ada banyak hal yang harus dikomunikasikan, didiskusikan, dan dipertimbangkan. Masing-masing juga harus memiliki keterbukaan satu sama lain. Jika tidak melakukan hal tersebut, menurut mereka membangun bisnis bersama sahabat bisa berubah jadi bencana.
ADVERTISEMENT
Pada rubrik Inspirasi Womanpreneur kali ini, kumparanSTYLE berkesempatan berbincang dengan Kara dan Putri di kantor Pvra yang berlokasi di Cipete, Jakarta Selatan, Senin (4/12). Keduanya berbagi cerita seputar awal mula merintis bisnis alas kaki hingga bagaimana menjadi seorang profesional saat menjalankan bisnis dengan sahabat. Simak percakapan kami di bawah ini:
Halo Kara dan Putri. Bisakah Anda menceritakan perjalanan karier Anda sebelum akhirnya mantap mendirikan Pvra?
Putri: Saya dulu pernah bekerja menjadi product manager sekitar dua tahun di salah satu perusahaan elektronik pada 2012. Setelah itu, saya juga sempat bekerja di agensi. Di situlah saya berpikir ingin buat bisnis yang waktunya lebih fleksibel dan saya bisa spend more time untuk keluarga. Akhirnya, terciptalah Pvra.
ADVERTISEMENT
Kara: Dulu saat kuliah saya pernah part time di toko sepatu, begitu balik ke Indonesia saya kerja di bidang ritel online sebentar dan cukup lama bekerja di ritel brand-brand high-end. Sebenarnya seru, tapi lelah dan sangat makan waktu padahal saya suka dunianya. Dari situlah saya berpikir ingin buat bisnis yang ideal dan ramah untuk perempuan. Akhirnya menyatukan ide dengan Putri, kami membuat Pvra di 2015.
Perhiasan sebagai pemanis alas kaki dalam koleksi Pvra (Foto: dok. Pvra)
Mengapa Anda berdua memilih menjalankan bisnis alas kaki?
Kara: Jadi ceritanya, kami memang ingin jadi brand yang dikenal dengan satu produk unggulan. Itulah mengapa kami tidak ingin mengeluarkan koleksi baju, aksesori atau yang lainnya. Saya pribadi memang suka sekali dengan sepatu dan Putri suka perhiasan. Kami gabungkan apa yang menjadi kesukaan kami karena kami lihat di Indonesia belum ada alas kaki dengan perhiasan. Kami pikir itu adalah kesempatan yang bagus.
ADVERTISEMENT
Masih ingat bagaimana cara memasarkan produk Pvra untuk pertama kalinya? Bagaimana antusiasme orang-orang saat pertama melihat Pvra?
Kara: Saat itu orang-orang mulai banyak pakai Instagram dan kami memasarkan produk dengan bermodalkan unggahan foto dan nomor telepon pemesanan produk. Modalnya juga hanya kamera, adik Putri sebagai model karena kebetulan kakinya jenjang, dan handphone untuk upload foto. Benar-benar ala kadarnya saja karena kami belum bisa menyewa desain grafis. Kami dari awal selalu mengerjakan semuanya berdua. Ada juga tukang payet perhiasan, dulunya masih freelance sampai sekarang dia jadi pimpinan untuk merangkai payet.
Awal bikin sandal hanya 72 pasang dan kami berpikir itu bisa dijual dalam waktu tiga bulan. Kami bikin Instagram, posting foto, minta tolong saudara sepupu, teman, semua orang yang kami kenal termasuk teman kantor untuk bantu promosikan di media sosial masing-masing. Kami percaya setiap teman kami pasti punya teman lagi, walaupun followers-nya hanya 100 orang tapi siapa tahu ada yang nyangkut.
ADVERTISEMENT
Pertama kali launching kami punya 80 followers di akun @pvra.official. Stok sandal kami yang tadinya kami pikir baru bisa terjual dalam waktu tiga bulan ternyata habis dalam tiga minggu. Kami juga lumayan kaget karena antusias semua orang cukup besar, apalagi setelah produknya sampai di mereka kemudian dipakai dan jadi banyak yang lihat, followers semakin nambah.
Menurut Anda berdua, apa titik balik yang membuat Pvra menjadi salah satu label lokal yang sukses menunjukkan eksistensinya?
Kara: Saat itu kami kerja sama pertama kali di Instagram dengan Andra Alodita, waktu itu dia lagi hamil jadi dia memang setiap hari pakai sandal. Dia lihat produknya dan dia suka, jadi dia mau posting. Dari situ exposure-nya mulai tinggi. Setelah itu kami juga melihat teman-teman influencer yang engagement-nya tinggi di Instagram, sering kasih produk juga.
ADVERTISEMENT
Tetapi gongnya adalah waktu kami kerja sama dengan Ayla Dimitri yang memang marketnya benar-benar pecinta fashion. Tidak tahu ada hubungannya atau tidak, tapi setelah kerja sama dengan Ayla, kami dapat penawaran untuk ikut Cleo Fashion Award. Itu adalah ajang kompetisi untuk desainer muda untuk mendesain satu koleksi yang akan ditampilkan di Jakarta Fashion Week dan alhamdulillah kami menang juara pertama dan dapat hadiah beasiswa untuk ambil kursus di Insituto Marangoni Italia.
Setelah itu kami ikut seleksi IFF (Indonesia Fashion Forward) da Alhamdulillah terpilih menjadi generasi ke-6 IFF bersama 6 desainer lainnya. Dari situ kami dibimbing oleh mentor dari Inggris kurang lebih satu tahun untuk persiapan show lainnya di JFW tahun berikutnya. Kami dapat exposure lagi yang berbeda, dan itu semua secara tidak langsung membuat market semakin naik.
ADVERTISEMENT
Dalam memproduksi alas kaki, kabarnya Pvra juga turut memberdayakan ibu rumah tangga untuk menjadi pengrajin payet dan manik-manik. Bisa diceritakan bagaimana ide awalnya?
Kara: Setelah kami berjalan enam bulan dan punya modal lebih untuk berkantor di luar rumah, kami yang saat itu masih jadi karyawan melihat bahwa bisnis ini menjanjikan. Akhirnya kami resign dari pekerjaan masing-masing dan menyewa kantor kecil ukuran 30m x 30m. Hal itu kami lakukan biar kami selalu ingat bahwa ada kewajiban untuk bangun pagi setiap hari, berangkat ke kantor, dan bayar sewa kantor.
Kantor kami waktu itu ada di daerah Prapanca. Isinya ada 4 orang, kami berdua, 1 admin dan 1 pengrajin payet. Nah, di belakang kantor kebetulan memang banyak pemukiman dan ibu-ibu itu suka melihat kami keluar-masuk ruko kecil. Akhirnya mereka bertanya, ini kantor apa sih, ujung-ujungnya mereka bertanya apakah ada kerjaan untuk mereka.
ADVERTISEMENT
Kami ingin membantu, tetapi waktu itu lingkup kerjanya kan belum banyak dan masih bisa kami handle sendiri. Akhirnya kami berpikir mereka bisa diperbantukan untuk membersihkan sepatu yang baru datang dari pabrik. Awalnya hanya satu orang, lama-lama jadi tiga orang. Kami lihat mereka cukup komitmen dalam bekerja, karena banyak dari mereka yang dulunya bekerja kemudian menikah, hamil, dan punya anak. Setelah anaknya besar dan bisa ditinggal, mereka tidak tahu harus cari kerja di mana.
Akhirnya, kami berpikir, daripada hanya membersihkan sepatu, mengapa tidak dilatih untuk menjadi pengrajin payet. Kami sudah punya satu orang senior yang bisa payet dan bisa melatih. Biasanya mereka akan bekerja probation 3 bulan, jika sudah memenuhi syarat akan kami hire untuk kerja full time.
ADVERTISEMENT
Awalnya yang hanya dua tiga orang, sekarang kami punya 30 orang pengrajin payet dan sekitar 10 orang yang membantu packaging dan bersih-bersih. Alhamdulillah mereka senang karena bisa berkontribusi untuk perekonomian keluarga mereka, bisa menghasilkan uang untuk anak sekolah juga.
Pvra bisa dipakai untuk acara kasual maupun semi formal. (Foto: dok. Pvra)
Selama menjalani bisnis ini, apa tantangan yang dihadapi?
Putri: Ketika memulai bisnis, kami mencari semua orang yang bisa bikin sepatu dan kami minta dibuatkan sampel. Begitu sampelnya datang, kami merasa ini gagal. Dan itu bukan satu dua saja, dari seluruh pengrajin yang kami minta buatkan sampel, hampir setengahnya gagal membuat sampel sesuai dengan yang kami mau. Sampai-sampai kami berpikir, ''kok begini banget, ya?".
Setelah beberapa waktu, akhirnya kami bertemu produsen yang bisa membuat sepatu sesuai standar kami. Tetapi, setiap kami keluarkan produk masih selalu ada saja sampel yang kurang sesuai, sayangnya kami sudah pesan banyak dan kami tidak bisa kembalikan itu. Jadi solusinya adalah kami campur dengan warna lain.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan pengalaman itu, kami membuat quality control ke dalam beberapa tahap. Dari produknya datang, payet-nya pun ada quality control sendiri, apalagi kalau bahan yang kita pakai itu kulit. Tidak semua kulit itu mulus, ada saja yang kena baret. Hal-hal seperti tu yang harus kami perhatikan.
Kara: Terkadang sudah lulus quality control beberapa tahap, sampai ke customer dibalikin lagi. Sebenarnya, challenge-nya jualan online adalah custome tidak pegang bahannya langsung. Ketika mereka lihat foto produk, mereka berharap produk aslinya 100 persen sama.
Kami juga harus edukasi customer mengenai perbedaan kulit asli dan kulit imitasi. Kulit imitasi kan mulus, kalau kulit sapi pasti bertekstur seperti kerutan. Itu yang kami coba untuk edukasi ke customer. Sulit tapi pelan-pelan mereka mengerti. Bedanya adalah ketika dipakai, akan lebih nyaman dibanding kulit imitasi.
ADVERTISEMENT
Pertama kali memasarkan produk lewat Instagram dan kini sudah memiliki toko offline di Plaza Indonesia. Apakah selanjutnya akan fokus di butik offline?
Kara: Sampai sekarang kami masih sangat bergantung dengan Instagram. Walaupun kami sudah punya toko offline, tapi menarik marketnya itu sendiri dari Instagram. Dari Instagram mereka selalu berkembang. Ada perkembangan yang menguntungkan kami tetapi ada juga yang justru menyulitkan.
Yang menguntungkan, sekarang Instagram ada fitur Instastory, kami bisa posting video. Karena kami punya Instagram business jadi mereka bisa kasih kita insight yang berguna sekali. Kami bisa tahu berapa banyak orang yang lihat postingan, engagement di tiap post juga kami bisa tahu, post yang bagus apa yang jelek apa kami juga tahu.
ADVERTISEMENT
Yang menyulitkan kami adalah dulunya Instagram itu kan dulunya chronological, sekarang berubah. Dulu kalau kami mau launching, kami bisa kasih info satu hari sebelumnya dan orang bisa lihat. Sekarang itu tidak ada efeknya karena kami tidak tahu kapan orang akan melihat postingan kami kecuali mereka turn on notification di Instagram.
Awal-awal Instagram berubah kami sempat terkena efeknya, likes turun banyak, target market kurang tercapai. Tapi untungnya Instagram bikin Instastory yang engagement-nya jauh lebih tinggi. Kami juga pakai line broadcast, karena kalau ada berita apa-apa kami bisa infokan ke pelanggan kalau mereka sudah add line kami.
Kalau dilihat-lihat, kami masih aktif di media sosial. Walaupun kami punya store fisik di Plaza Indonesia, itu sifatnya pop-up. Rencananya setelah pop-up di Plaza Indonesia kami mau buka pop-up store di tempat lain lagi.
ADVERTISEMENT
Kami ingin punya toko yang sifatnya keliling, pindah-pindah ke tempat lain. Karena kami merasa market sekarang lebih suka sesuatu yang excitement-nya tinggi dan terus berganti. Kalau terlalu monoton, market millenials sepertinya tidak masuk. Cara menyiasatinya ya seperti itu.
Sudah lama bersahabat, pastinya sudah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagaimana cara mengatur hubungan sebagai partner bisnis agar tidak merusak persahabatan?
Putri: Berantem pasti ada. Justru karena kami roommate sejak kuliah jadi sudah tahu baik dan buruknya. Kalau ada yang tidak suka, bisa dibicarakan.
Kara: Kalau menjadi partner bisnis, kami bukan hanya pikirkan kelebihannya saja, tetapi harus pikirkan kekurangannya agar kita bisa terima kekurangan itu. Kami pun banyak mendengar ada banyak teman yang bisnis berdua habis itu pecah, mungkin karena tidak bisa terima kekurangannya di awal. Kami sudah tinggal bareng sejak kuliah, ibaratnya sudah tahu baik buruknya seperti apa.
Putri dan Kara di kantor Pvra yang berlokasi di Cipete, Jakarta Selatan. (Foto: dok. Irfan Adi Saputra/kumparan)
Selama menjalankan bisnis bersama, apakah pernah bertengkar? Apa yang menjadi penyebabnya?
ADVERTISEMENT
Kara: Pernah, di awal-awal berbisnis. Mungkin karena kami tidak membagi job description dengan jelas, kami mengerjakan semuanya serabutan. Akhirnya kami bagi porsinya masing-masing dan itu sangat membantu sekali jadi kami tahu tugas serta tanggung jawab masing-masing.
Sekarang, untuk masalah produksi keputusannya ada di Putri. Untuk hal-hal yang berhubungan dengan marketing keputusannya di saya. Kalau dulu karena campur aduk yang mengerjakannya, jadi bingung.
Untungnya adalah kami membuat bisnis setelah bekerja kantoran kurang lebih lima tahun. Jadi tahu yang namanya struktur organisasi, payroll, pajak, dan hal-hal lainnya yang harus kami ketahui walaupun itu prosesnya ribet. Tapi menurut kami, membangun perusahaan itu bukan sekadar untuk berjualan saja, kami harus make sure seluruh pegawai kami yang ada 54 orang ini happy, apalagi 98 persen adalah perempuan semua.
Pvra kini bisa didapatkan secara offline di Plaza Indonesia. (Foto: dok. Pvra)
Bagaimana cara membedakan waktunya, kapan berperan sebagai sahabat dan kapan berperan sebagai partner bisnis?
ADVERTISEMENT
Putri: Mungkin obrolan antara sahabat dan pekerjaan tidak dijadikan satu. Tetapi nyatanya terkadang sulit, sih. Apalagi kalau weekend, ketemunya dengan dia lagi dia lagi. Keluarga kami pun kenal dekat, suami kami juga kenal satu sama lain.
Kara: Itu enaknya kalau kerja bareng sahabat, bisa ngobrol dan diskusi di mana pun. Beda dengan partner bisnis yang sepertinya lebih kaku kalau secara profesional. Di pikir-pikir, semua ide-ide yang buat Pvra berkembang adalah ide yang tidak kami dapatkan di kantor. Misalnya, untuk pop-up store Pvra kemarin, itu kami sedang dinner di Plaza Indonesia dan tiba-tiba kepikiran untuk bikin pop-up store di sana. Besoknya kami kontak pihak PI untuk meeting dan prosesnya cepat sekali. Dalam beberapa bulan toko itu jadi.
ADVERTISEMENT
Kalau kami tidak melakukan langkah-langkah seperti itu, tidak akan jadi. Kadang kalau sudah duduk di kantor sudah sibuk dengan kerjaan masing-masing, jadi ide-ide kami banyak yang terlahir dari segelas kopi dan sepiring pasta saat kami sedang pergi ke luar berdua.
Tumbuh sebagai brand lokal yang mampu memberdayakan perempuan, apa rencana dan resolusi Pvra ke depan yang belum terealisasikan?
Kara: Kebetulan pop-up store kami yang pertama akan segera selesai, jadi kami sedang persiapkan untuk pop-up store yang kedua. Dan karena Pvra besar di Indonesia, kami ingin mencoba ikut beberapa aktivitas di beberapa negara. Makanya kami ingin re-branding cara orang-orang mengucapkan nama brand kami.
Daripada menyebutnya sebagai 'pura', kami ingin mereka mengucapkannya 'pi-vi-ar-ay'. Kami merasa itu pengucapan yang lebih gampang diterima secara global dan market internasional. Kami memang sudah ada rencana untuk go international, ada beberapa event yang kami mau ikuti.
ADVERTISEMENT
Selain itu, kami juga rencananya ingin menambah produk, jadi tidak sepatu saja. Kemarin kami bikin kaus kaki tapi hanya special edition saja. Kami juga pernah bikin scarf untuk hadiah dan ternyata banyak customer yang suka. Itu adalah aksesori pelengkap yang ingin kami hadirkan di bawah brand Pvra supaya dari brand alas kaki bisa berkembang jadi brand aksesori.
Simak cerita perempuan inspiratif lainnya di topik sheinspiresme.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan