Kehadiran E-Commerce dalam Memberdayakan Perempuan

kumparanSTYLEverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

com-Ilustrasi Belanja Online Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi Belanja Online Foto: Shutterstock

Kehadiran e-commerce di Indonesia seolah menjadi 'pahlawan' dalam memudahkan orang-orang untuk berbelanja. Di sana, tersedia banyak sekali pilihan barang. Anda hanya perlu mencari apapun yang ingin dibeli, mulai dari kosmetik, peralatan rumah tangga, fashion, hingga peralatan dapur bisa Anda beli dengan mudah.

E-commerce terus berkembang dan semakin memanjakan kebutuhan konsumen. Tentu saja kehadiran e-commerce selaku platform belanja online memiliki keuntungan dan pengalaman transaksi yang berbeda dibandingkan belanja secara offline di toko.

Fenomena itu membuat MarkPlus, Inc, selaku perusahaan konsultan marketing dan riset, melakukan penelitian tentang seberapa jauh e-commerce memberdayakan perempuan. Riset ini bertujuan untuk melihat brand-brand mana saja yang menjadi pilihan utama konsumen perempuan.

Hasilnya Shopee menjadi brand yang paling diingat oleh perempuan dengan persentase 56 persen. Selanjutnya diikuti Tokopedia dan Lazada.

Survei ini dilakukan pada Februari 2019 dengan 1.200 sampel, mulai dari mahasiswi hingga ibu rumah tangga. Rentang usia responden dari 18 tahun hingga 55 tahun. Survei dilangsukan di 17 provinsi mulai dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Tengah, Yogyakarta dan daerah lainnya.

Aplikasi Shopee. Foto: Muhammad Fikrie/kumparan

Riset ini juga melihat bagaimana e-commerce bisa memberdayakan perempuan baik dari sisi konsumen maupun penjual.

“Apa yang mendorong para perempuan bertransaksi di e-commerce hingga seperti apa e-commerce bisa memudahkan hidup mereka,” ucap Head of Communication, Hi-Tech and Media Industry MarkPlus, Inc, Rhesa Dwi Prabowo dalam acara Smart Women Talks: Empowering Women Through E-Commerce #UntukPerempuan di Jakarta Pusat pada Kamis (4/4) lalu.

Hasil survei menunjukkan, dari sisi penjual mempunyai alasan utama dalam membuka bisnis e-commerce. Memiliki penghasilan sendiri menjadi alasan paling utama. Menariknya terdapat perbedaan dua generasi dalam menggunakan e-commerce. Dalam hal ini, perbedaan antara Gen X dan Gen Y.

Gen X adalah mereka yang terlahir dari tahun 1960 hingga 1980-an. Sedangkan Gen Y untuk mereka yang lahir pada 1977 sampai 1995.

“Gen X itu ingin memiliki penghasilan sendiri, atau mandiri. Sedangkan untuk Gen Y mereka ingin mengaktualisasi diri, lalu ada yang ingin mempunyai bisnis sendiri dan memberdayakan lingkungan sekitar,” jelas Rhesa.

Smart Women Talks: Empowering Women Through E-Commerce, Farhana E Devi, Executive Diricetor of Strategic Planning Hakuhdo (kedua dari kiri), Rhesa Dwi Prabowo, Head of Communication, Hi-Tech and Media Industry MarkPlus, Inc, (tengah), Tika Latifani Mulya, Vice President Elzatta Hijab (kanan Foto: MarkPlus, Inc.

Sedangkan dari sisi pembeli, mayoritas perempuan merasakan mudahnya belanja dengan e-commerce karena bisa dilakukan di mana saja.

Menurut Farhana E. Devi, Executive Director of Strategic Planning Hakuhudo, e-commerce telah memberikan wadah untuk melawan keterbatasan perempuan selama ini.

“Misal kita bilang ibu rumah tangga, dia diharapkan untuk mengurus rumah. Kalau bisnis konvensional dia harus menunggu toko. Sementara dengan adanya e-commerce, dia bisa multitasking. Sambil jaga anak, bisa sambil liat stok dan kirim barang. Jadi selama ini e-commerce menghilangkan keterbatasan waktu dan finansial untuk perempuan yang ingin berbisnis,” ucap Devi saat ditemui kumparan dalam acara yang sama.

Devi menambahkan, pemberdayaan tidak hanya berbisnis dan mempunyai uang saja tapi juga untuk mengekspresikan diri.

“E-commerce justru memudahkan, dulu memulai bisnis biayanya sangat tinggi. Kalau sekarang, everything is virtual. Bahwa empowered tidak hanya sekadar memiliki mata pencaharian, tapi juga bisa menyalurkan ekspresi,” pungkasnya.