Kelas 2 SMP, Usia Tepat Berikan Anak Ponsel Sendiri

Internet, gadget, dan media sosial. Ketiganya merupakan hal yang tak terpisahkan dalam kehidupan umat manusia.
Rasanya di era yang begitu modern ini, hampir semua orang memiliki ponsel atau smartphone masing-masing. Mulai dari anak berusia balita, remaja, orang dewasa, hingga lansia sekalipun.
Perkembangan zaman yang semakin pesat tak urung membuat banyak orang tua khawatir dan bingung. Kapan saat yang tepat untuk mengizinkan anak memiliki smartphone sendiri?
Jika anda memiliki anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar, pasti pernah berhadapan dengan rengekan si kecil yang minta dibelikan smartphone sendiri.
Cepat atau lambat, kalimat andalan seperti 'teman-teman di sekolah sudah punya handphone semua, Ma. Cuma aku yang belum,' hingga 'aku pengin punya handphone sendiri, biar bisa gampang nanya PR ke teman yang lain,' pasti akan mampir di kuping anda.
Banyak orang tua yang luluh dan akhirnya memberikan smartphone untuk balitanya. Namun tak sedikit juga yang tetap bersikap tegas dengan tak membelikan smartphone untuk anaknya.
Alasannya, dunia maya terlalu kejam dan berbahaya untuk si kecil. Sangat sulit untuk 'mengamankan' si anak dari informasi yang belum sepantasnya ia ketahui.
Bahkan mendiang Steve Jobs, pendiri Apple, melarang anaknya untuk bermain menggunakan iPad ciptaannya sendiri. Semua karena ia sadar betul akan dampak negatif yang ditimbulkan teknologi terhadap perkembangan kreatifitas dan keterampilan sosial anak.

Selain itu, gadget dikhawatirkan berdampak negatif terhadap nilai akademik anak di sekolah. "Kemunculan smartphone dan media sosial sudah menyebabkan guncangan serius yang belum pernah ada dalam waktu yang sangat lama," ujar psikolog Jean Twenge, seperti dilansir Pure Wow.
Para orangtua pun beramai-ramai menciptakan tagar #waituntil8th atau 'tunggu hingga si kecil duduk di kelas delapan'. Kelas dua SMP dinilai sebagai usia tepat bagi anak untuk memiliki ponsel sendiri.
Namun di balik itu semua, pola asuh orangtua tetap memegang peran utama. "Para orang tua, ini saatnya bagi kita untuk mempertimbangkan kemungkinan apa saja yang menyebabkan anak kita memisahkan diri. Itu karena kitalah yang memisahkan diri sendiri lebih dulu, terlalu sibuk menatap layar smartphone kita ketimbang anak," ujar Jean lagi.
Namun di balik itu semua, pola asuh orangtua tetap memegang peran utama. "Para orangtua, ini saatnya bagi kita untuk mempertimbangkan kemungkinan apa saja yang menyebabkan anak kita memisahkan diri. Itu karena kitalah yang memisahkan diri sendiri lebih dulu, terlalu sibuk menatap layar smartphone kita ketimbang anak," ujar Jean lagi.
"Hasil penelitianku menunjukkan bahwa cara terbaik mendidik anak agar mampu menggunakan teknologi dengan bijak adalah dengan menjalani peran kita sebagai mentor yang baik: Secara aktif mendorong anak kita untuk menggunakan teknologi, juga mendukung dan mendampingi anak untuk menggunaknnya secara tepat," jelas Jean dengan tegas.
Anak yang secara aktif dibimbing oleh orangtuanya cenderung memiliki perilaku online yang lebih sehat dibandingkan anak yang tidak. Intinya, semua tergantung pada bagaimana cara orangtua mendidik anak-anaknya.
