kumparan
6 Maret 2019 16:05

Kerja Keras dan Passion, Kunci Elvera N. Makki Meniti Karier dari Nol

Elvera N. Makki, Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia
Elvera N. Makki, Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia Foto: Nugroho Sejati/kumparan
“Do you want to have a bigger responsibility? If you don’t want to have a bigger responsibility, it’s okay for you to be there and stay there for years. Tapi kalau Anda punya inspirasi untuk kariernya naik dan menanjak, ya banyak hal yang harus dilakukan. Ada knowledge, ada kedewasaan, ada tanggungjawab. How far do you wanna go?”
ADVERTISEMENT
Seberapa jauh Anda ingin mencapai mimpi Anda? Hal inilah yang selalu ditanyakan Elvera N. Makki, Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia kepada dirinya sendiri ketika ia meniti kariernya.
Menurut Elvera, dalam menaiki tangga karier, dibutuhkan perjuangan, kesabaran, dan proses pembelajaran dalam setiap langkahnya. “Saya berada di tahap seperti sekarang, karena saya betul-betul memulainya dari nol,” ungkap perempuan kelahiran 1976 ini dalam wawancaranya dengan kumparanSTYLE, beberapa waktu lalu.
Sebelum duduk sebagai Director & Country head of Corporate Affairs di bank multinasional Citibank, Vera -nama panggilannya- telah menjajaki berbagai bidang industri, mulai dari PR Agency, consumer goods, hingga otomotif.
Elvera N. Makki, Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia
Elvera N. Makki, Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Bidang komunikasi memang betul-betul menjadi passion Vera, sehingga apapun bidang industrinya, ia tetap dapat menjalankannya secara maksimal. Dengan passionnya tersebut, Vera tak hanya sukses membangun karier sebagai seorang praktisi Public Relations terkemuka, ia juga meraih prestasi sebagai praktisi PR pertama dari Indonesia yang meraih gelar sertifikasi ABC (Accredited Business Communicator), yang berasal dari International Association of Business Communicator yang berpusat di San Francisco, Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
Kepada kumparanSTYLE, Vera tak hanya membagikan perjalanan kariernya yang ia mulai dari bawah, namun juga bercerita mengenai perannya sebagai ibu dari tiga anak, tantangan yang ia jalani sebagai woman leader, hingga prinsip-prinsipnya dalam berkarier. Simak perbincangan kami bersama Elvera N. Makki berikut ini.
Bagaimana perjalanan karier Anda di bidang komunikasi dan public relation ini?
Sudah cukup panjang sebenarnya. Saya memulai karier saya dari masa kuliah saat mengambil jurusan International Relations di Universitas Parahyangan Bandung. Saya ‘mencuri start’ dengan bekerja part-time siaran di radio, dan sesekali jadi reporter juga.
Di tahun 1998, saya ke Amerika Serikat melanjutkan kuliah di University of Houston, Texas, karena dapat beasiswa untuk ambil literature selama satu tahun. Saat kuliah di Amerika pun saya nggak bisa diam. Setiap sore saya bekerja di cafe sebagai manager.
ADVERTISEMENT
Ketika balik ke Indonesia, saya bekerja di sebuah hotel dan tak lama kemudian pindah ke consultant agency Ogilvy, sebagai public relation (PR). Nah, saat itulah sebenarnya awal mula saya mendalami dunia PR hingga sekarang.
Elvera N. Makki, Direktur Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia
Elvera N. Makki, Director, Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Setelah dari Ogilvy, saya memutuskan untuk menikah dan kembali ke Amerika selama 3,5 tahun bersama suami. Di sana, saya berusaha tetap produktif dengan menjadi contributing writer untuk Jakarta Post dan majalah Cosmopolitan Indonesia. Selain itu, saya juga bergabung dengan komunitas public relation di Amerika untuk memastikan bahwa saya tetap keep up dengan ilmu-ilmu seputar public relation.
Sepulangnya ke Indonesia, saya kembali bekerja di consultant PR, lalu pindah ke industri fast moving consumer goods, dan ke dairy company, lalu dunia otomotif dan akhirnya sekarang di perbankan.
ADVERTISEMENT
Apakah bidang komunikasi ini memang aspirasi Anda sejak dulu?
Jadi begini, sebenarnya ada life changing experience dalam hidup saya. Sewaktu kecil, saya itu sangat introvert dan pemalu. Dulu kalau ada banyak orang, saya menangis dan kalau disapa, saya kabur.
Nah, di kelas 5 SD, saya berusaha menaklukan ketakutan itu. Saat itu saya diberi kesempatan untuk jadi dirigen di Hari Anak Nasional di Istora Senayan, dan memimpin sekitar 1000 anak-anak SD dari seluruh Indonesia. Akhirnya, saya jadi senang ketemu banyak orang, saya merasa bersemangat dan produktif ketika ketemu orang baru.
Sifat itu yang akhirnya terbawa sampai sekarang. Sehingga, kalau dibilang dunia komunikasi ini aspirasi saya sejak dulu, bisa dibilang iya. Karena seperti kebanyakan anak-anak, cita-cita saya pun sempat berubah. Namun, jika ditarik benang merahnya, semuanya sama, yaitu yang berhubungan dengan komunikasi dan melibatkan banyak orang.
Elvera N. Makki, Direktur Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia
Elvera N. Makki, Director Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Anda membangun karier di industri yang berbeda- beda. Pelajaran penting apa yang Anda dapatkan dari pengalaman tersebut?
ADVERTISEMENT
Banyak sekali. Untuk menjadi PR yang handal, interpersonal skill-nya harus bagus. Wawasan pun harus luas. Dan semua perjalanan karier saya itu, membuat semuanya semakin terasah. I’m trained to do a lot of things at the same time, I’m trained to engage with people from different backgrounds, I’m trained to work flexible and work under pressure, terutama kalau lagi ada isu dan crisis communication.
Tiap industri itu memang ada tantangannya sendiri. Saat di fast moving consumer goods, it’s very fast, varian produk yang banyak dengan kompetisi yang sangat detail. Industri ini terkait dengan consumer behaviour, jadi saya pun banyak belajar tentang consumer behaviour.
Lalu di dairy industry juga sangat tough, karena kaitannya dengan health. Pro-kontranya pun banyak dan saya banyak berhubungan dengan dokter, dan pengetahuannya pun beda lagi. Karena mereka pakar, strategi pendekatannya juga berbeda.
ADVERTISEMENT
Di otomotif, seru. Saya banyak bertemu dengan komunitas Mercedes-Benz di seluruh Indonesia, jadi lebih banyak fun-nya. Tantangannya, saya harus menghafal dan memahami specs dan teknologi untuk automotive industry.
Dan sekarang di Citibank, dunia perbankan itu industri yang highly regulated, peraturannya banyak sekali. Saya harus benar-benar paham. Karena ada Otoritas Jasa Keuangan, semuanya harus sesuai dan selaras dengan peraturan dan mandat dari OJK.
Ketika memutuskan berpindah bidang kerja, bagi saya selain karena opportunity yang lebih baik, saya juga harus menemukan values yang sama, seperti family oriented, fairness, gender equality, respect to each other.
Ada anggapan bahwa dunia perbankan itu merupakan industri yang lebih dikuasai laki-laki. Bagaimana dengan Citibank?
Justru sebaliknya, di Citibank, lebih dari 50 persen untuk senior position dari asisten Vice President ke atas, di isi oleh perempuan. Alhamdulillah kalau di Citibank secara global dan Indonesia, menganut filosofi meritocracy, bahwa seseorang dinilai based on performance mereka.
ADVERTISEMENT
Sehingga, jika membicarakan tantangan dalam hal kesetaraan gender, di sini jarang sekali ditemui. Kita di Citibank itu ada namanya Citi Indonesia Women Council, untuk memastikan bahwa karyawan-karyawan yang perempuan dapat berkinerja secara optimal tanpa hambatan-hambatan yang sifatnya gender-based. Lalu kita kasih forum untuk mereka, juga kelas-kelas agar menjadi woman leader yang keren. Kita ingin pastikan bahwa mereka nyaman di sini, dan bisa berkembang. Kalau ada keluhan-keluhan, ada forumnya.
Elvera N. Makki, Direktur Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia
Elvera N. Makki, Director Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Sebagai woman leader, tantangan apa yang Anda rasakan setiap harinya? Dan bagaimana menyesuaikan dengan peran Anda sebagai ibu?
Banyak sekali, tapi juggling waktu pastinya. Anak saya ada tiga orang, dan berada di fase yang berbeda. Anak perempuan saya yang pertama, usia 15 tahun dan baru kelas satu SMA, lalu yang kedua laki-laki, usia 12 tahun kelas 6 SD, dan yang terakhir masih empat tahun.
ADVERTISEMENT
Nah, dalam membagi waktu untuk ketiga anak ini saya harus melakukan approach yang berbeda. Contohnya, yang paling kecil masih mau main dan peluk-pelukan, sedangkan yang gede sudah nggak mau dipeluk-peluk, lalu yang tengah sudah mau UN dan harus didampingi.
Semua ini membuat saya setiap pagi harus juggling waktu, dan memutuskan mana yang harus didahulukan. Jika ada sesuatu yang harus saya kerjakan, terkadang, saya baru tidur jam setengah empat, lalu jam setengah tujuh harus sudah bangun lagi. Alhasil, saya hanya tidur tiga jam saja.
Bagaimana Anda bisa tetap memiliki energi yang banyak dengan kondisi seperti itu? Apalagi saat dalam keadaan kurang tidur?
Biasanya saya suka compensate (mengimbangi) waktu tidur. Nah, compensate itu membutuhkan dua hari untuk bisa kembali normal. Jadi kalau hari ini saya tidur tiga jam, saya harus pastikan selama dua malam berikutnya saya bisa tidur delapan atau sembilan jam. Kalau setelahnya saya tidur ngaco lagi, nggak apa-apa, asal digantikan oleh dua hari setelahnya. Saya juga balance out dengan tanggal-tanggal merah yang saya jadikan waktu untuk compensate waktu tidur yang kurang.
ADVERTISEMENT
Memang kadang melelahkan sih, tapi untungnya saya di-support juga oleh suami dan anak-anak yang sudah mengerti dari dulu bagaimana pola kerja saya. Mereka sudah terbiasa melihat ritme pekerjaan ibunya, jadi ya oke-oke saja.
Elvera N. Makki, Direktur Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia
Elvera N. Makki, Director Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Prinsip Anda sebagai pemimpin?
Prinsipnya yang pertama teamwork. Yang kedua, freedom of speeches. Setiap meeting saya selalu bilang, ini bukan meeting saya menyampaikan brief, tapi ini brainstorming. Jadi kalau ada ide, kalau ada keresahan, silakan dikeluarkan. Keputusan akhir memang ada di saya, tapi I will listen, and I will consider all of your thoughts. Saling berempati aja, saling menghargai, dan saling percaya. Dan kepercayaan itu penting banget dalam memimpin.
Dan ketiga, responsibility, itu harus dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Dalam hal karier, kita semua kan memiliki waktu 24 jam. Nah, dengan waktu yang sama-sama 24 jam, mau jadi staff atau jadi direktur, itu kan pilihan bagaimana kita menggunakannya. Ada staff yang lembur, ada direktur yang juga lembur. Tapi perbedaannya adalah di responsibility. Semakin ke atas, tanggung jawabnya pun semakin besar. Kalau tim saya ada yang salah, saya harus backup. Tapi kalau saya salah, tim nggak backup saya, ya nggak apa-apa, because it’s not their responsibility. Di situ kan perbedaannya.
ADVERTISEMENT
Pertanyaannya adalah, do you want to have a bigger responsibility? If you don’t want to have a bigger responsibility, it’s okay for you to be there and stay there for years. Tapi kalau Anda punya inspirasi untuk kariernya naik dan menanjak, ya banyak hal yang harus dilakukan. Itu kan nggak bisa hanya diatur dalam hitungan tahun saja. Misal ‘saya tiga tahun pasti naik, lima tahun pasti naik,’ kan nggak gitu. Tapi ada knowledgenya, ada kedewasaannya, ada tanggung jawabnya. Jadi semua itu balik lagi ke kita, how far do you wanna go?
Selain juggling waktu, ada lagi tantangan yang Anda hadapi?
Saya ini orangnya banyak ide. Kalau dilihat dari tulisan, grammatology, katanya saya itu serakah ide. Jadi saya tahu bahwa saya harus bisa mengontrol itu.
ADVERTISEMENT
Contohnya, jika memang sudah tahu bahwa jadwal pekerjaan saya padat, kemudian ada anak-anak yang harus diprioritaskan, maka ide-ide serakah itu harus saya tone down. Iya idenya bagus, tapi siapa yang mau mengerjakan? Kebanyakan ide juga harus diimplementasikan. Cara menyiasatinya, saya lihat ide mana yang paling mungkin untuk dikerjakan. Lihat juga timnya kira-kira siap atau nggak, saya nggak boleh egois.
Elvera N. Makki, Direktur Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia
Elvera N. Makki, Director Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Terkait dengan kesibukan kerja dan anak, apakah Anda sering merasa bersalah?
Perasaan guilty itu pasti ada, terutama saat juggling-nya antara waktu anak-anak dan pekerjaan. Tapi ya gini, suami saya kan juga sebagai mentor bagi saya, dan dia selalu bilang, just be yourself, just be honest with yourself, then you will find the answer. Suami saya tidak pernah memaksa saya untuk berhenti kerja atau memaksa saya mencari pekerjaan lain. Dia hanya bilang; just make sure that you are happy, so that everyone else also happy. Just be honest and think through what you are doing, dan tujuannya harus benar. Niatnya harus selaras. Jika tujuan saya bekerja salah satunya untuk keluarga, semua yang saya kerjakan juga harus seiring dengan family values.
ADVERTISEMENT
Bagaimana Anda mengatasi hal itu semua? Mulai dari tekanan pekerjaan, juggling waktu, kewajiban bersama keluarga?
Bagaimana saya mengatasi semuanya? I deal with that. Just put everything on the table, dan benang-benang kusut itu satu persatu diurai. Seperti, ‘Ok, Vera, yang mana yang mau dikerjain duluan? Yang ini dulu, atau yang itu dulu?’
Kalau saya merasa nggak bisa, saya akan cerita atau ngobrol dengan tim. Jadi komunikasi juga penting. Karena ketika kita berkomunikasi, kita akan terbantu.

Yang namanya team work, leadership, bantuan itu ada kalau kita speak up. Perempuan itu kadang kaya gitu ya, juggling dengan pikiran sendiri, tidak dituangkan, dan akhirnya berdrama sendiri. Nah, itu nggak boleh.

Jadi caranya, ya dijalani, dihadapi. Tapi ya itu tadi, karena karakter saya gampang happy, saya tidak pernah membiarkan diri saya sampai stres atau down banget. Kalau sudah ada tanda-tanda seperti: “Wah ini gue kayaknya udah mau pusing nih”, saya langsung cari yang bisa buat seneng. Mulai dari ngajak anak jalan, ngajak sekeluarga dinner, nonton bareng, atau sama tim meeting ke luar, ajak karaoke bareng, jadi menyiasatinya dengan hal-hal kecil.
Elvera N. Makki, Direktur Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia
Elvera N. Makki, Director Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Bagaimana dengan quality time untuk diri sendiri?
ADVERTISEMENT
Pasti ada, saya biasanya ke salon. Frekuensinya seminggu dua kali. Biasanya creambath dan massage bisa meringankan pikiran dan tubuh yang sedang tegang. Kalau malas ke luar tinggal panggil ke rumah.
Apalagi ya yang bikin happy? Ya itu paling, baca buku.
Sedang baca buku apa saja? Dan bisa kasih rekomendasi beberapa buku yang pernah Anda baca?
Saat ini saya sedang baca banyak banget buku, dengan topik yang random. Yang pertama itu tentang Wall Street, yang kedua Algorithm to Live by, lalu bukunya Michelle Obama yang Becoming, juga buku tentang entrepreneurship, judulnya Discipline Entrepreneurship.
Terus karena saya banyak berhubungan dengan anak-anak generasi muda dalam kegiatan CSR Citibank, saya juga baca buku berjudul Flourish dari Martin Seligman, kemudian sedang baca Everybody Lies, tentang big data. Di waktu yang sama, saya baca Ernest Hemingway yang Island in the Stream.
ADVERTISEMENT
Jadi biasanya, setelah baca yang hardcore, saya baca yang ringan seperti ini. Dalam baca buku pun, saya mencoba untuk seimbang antara buku fiksi dan non fiksi.
Elvera N. Makki, Direktur Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia
Elvera N. Makki, Director Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Terakhir, apa tips dan nasihat Anda untuk perempuan-perempuan yang ingin sukses berkarier di dunia komunikasi?
Pertama, tentunya harus memiliki interpersonal skill yang bagus. Alasannya, Anda akan berhubungan dengan banyak pihak, termasuk ke atas (atasan dan klien), ke bawah (bawahan), dan ke samping (rekan kerja). Nah, kita harus tahu bagaimana cara menempatkan diri. Mulai dari cara berkomunikasi yang baik, cara menyampaikan pendapat, hingga cara bernegosiasi yang benar. Kita harus memiliki sifat positif, karena tugas kita adalah to spread positive messages, building an image, and reputation. Kalau kita minderan, gampang bete, baperan, pesimis, ya udah kelar, susah. It comes with responsibility.
ADVERTISEMENT
Kedua, hard skill juga harus bagus, seperti menulis yang terstruktur, tidak banyak typo, excellent grammar, bahasa Indonesia dan Inggris yang terus diasah.
Ketiga, jangan berhenti untuk belajar. Di zaman sekarang, technology disruption-nya banyak sekali. Semakin berkembang, channel komunikasi pun semakin banyak. Ada Instagram, Twitter, Vlog, Blog, Facebook. Itu kan beda semua cara komunikasinya, jadi harus dipelajari terus.
Keempat, jangan berhenti untuk develop yourself. Ikut akreditasi dalam bidang komunikasi dan public relation. Lebih bagus lagi kalau mengikuti akreditasi yang setara internasional.
Dan kelima, yang paling penting itu sebenarnya strategic thinking and strategic communication. Alasannya, supaya Anda bisa memberikan advice ke manajemen, karena PR itu harus dekat dengan CEO, harus dekat dengan the number one person. Sehingga trustworthiness-nya pun harus terjamin. Nggak boleh salah ngomong, split of the tongue, itu semua yang mengatur harus dari PR.
Elvera N. Makki, Direktur Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia
Elvera N. Makki, Director Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
ADVERTISEMENT
Simak cerita perempuan inspiratif lainnya hanya di topik sheinspiresme.