Keyhole, Bedah Tumor Otak Melalui Alis yang Tidak Tinggalkan Bekas

kumparanSTYLEverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hasil rontgen MRI  (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Hasil rontgen MRI (Foto: Thinkstock)

Semua orang nampaknya setuju jika perkembangan teknologi saat ini sangat mempengaruhi keberlangsungan hidup seseorang. Bagaimana tidak, bahkan kecanggihan teknologi ikut mempengaruhi kemajuan teknik pengobatan di berbagai rumah sakit yang membuat pasien kini lebih mudah dalam mendapatkan diagnosis dari dokter.

Jika tadinya tindakan penanganan suatu penyakit memakan waktu cukup lama, maka kini tindakan seperti operasi hanya menguras waktu beberapa jam saja. Seperti metode bedah tumor otak bernama Keyhole yang kini mulai diperkenalkan di Indonesia.

Salah satu dokter yang melakukan teknik bedah Keyhole, dr. Agus C. Anab, SpBS menjelaskan jika meningkatnya pasien tumor otak di Indonesia membuat para tim medis Tanah Air mempelajari serta mendalami teknik pengobatan untuk menangani tumor otak yang lebih efektif dan juga efisien.

"Setiap tahunnya pasien tumor otak terus meningkat bahkan mencapai angka 25 ribu. Angka ini diluar dari kasus tumor otak lainnya yang tidak diketahui oleh kami, para dokter," ungkap dr. Agus saat ditemui kumparan (kumparan.com) di acara 'Keyhole: Teknik Bedah Tumor Otak Melalui Alis Mata' di Hotel Atlet Century, Jakarta Pusat, Jumat (13/10).

Jenis tumor otak yang bermacam-macam juga menjadi alasan butuhnya metode bedah terbaru yang mampu mengangkat tumor dengan cepat dan tentunya tanpa meninggalkan bekas luka pasca operasi.

"Ada beberapa jenis tumor otak. Ada yang letaknya di tepi atau di dalam. Oleh karena itu, kami membutuhkan teknologi yang terus berkembang untuk mengoperasi pasien dengan efektif dan tentunya lebih efisien," terang dokter yang biasa disapa Aca itu.

Teknik Keyhole, bedah tumor melalui alis mata. (Foto: Luthfa Nurridha/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Teknik Keyhole, bedah tumor melalui alis mata. (Foto: Luthfa Nurridha/kumparan)

Teknik keyhole surgery supra orbital approach merupakan tenik bedah tumor otak yang dilakukan melalui alis mata. Operasi dengan lubang kecil sebesar 1-2 cm pada alis mata ini ditemukan oleh seorang profesor bedah saraf dari Jerman bernama Axel Perneczky pada 1999 silam.

Khususnya di Eropa, teknologi itu terus berkembang dan saat ini dr. Aca dan tim tengah mempopulerkan metode bedah ini sejak tahun 2012.

Menurut dokter alumnus Universitas Airlangga Surabaya ini, teknik Keyhole mempunyai banyak kelebihan dibanding cara-cara konvensional. Pasien mendapat banyak keuntungan, yaitu luka sayatan kecil sehingga proses penyembuhan sangat cepat, risiko infeksi kecil, pendarahan minimal, dan secara kosmetik lebih bagus karena bekas sayatan tersamarkan oleh alis mata.

"Yang perlu saya tegaskan disini adalah bahwa metode bedah Keyhole dilakukan secara hati-hati dan lebih aman karena tidak menyentuh atau merusak bagian otak yang lain," tegasnya.

Tim medis yang melakukan metode bedah Keyhole. (Foto: Luthfa Nurridha/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Tim medis yang melakukan metode bedah Keyhole. (Foto: Luthfa Nurridha/kumparan)

Operasi yang memakan waktu rata-rata 5 hingga 6 jam ini mampu mengangkat tumor baik yang ada di bagian tepi atau belakang otak. Alat mikroskop khusus digunakan untuk melihat tumor secara jelas sampai titik objek terdalam.

Meski lubang sayatan yang dibuat sangat kecil, namun metode ini juga bisa dilakukan untuk tumor yang sudah berukuran besar akibat didiami terlalu lama.

"Metode ini bisa juga dilakukan pada tumor yang sudah besa, bedanya hanya pada waktu tindakannya saja yang membutuhkan waktu lebih lama karena mili demi mili tumor harus diambil secara hati-hati," jelasnya.

Tidak seperti dengan metode bedah konvensional, pasien yang sudah ditangani dengan teknik keyhole dipastikan oleh dr. Aca bisa segera pulih dan dapat melakukan rutinitas harian dalam waktu cepat, tanpa adanya terapi lebih lanjut pasca operasi.

Di Indonesia, metode ini baru bisa ditemui di Surabaya yaitu tepatnya di National Hospital dan kemungkunan metode ini akan segera diterapkan di beberapa rumah sakit lain yang tersebar di Indonesia.