Menenun, Bentuk Tanggung Jawab Wanita Sembalun sebagai Seorang Istri

kumparanSTYLEverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengrajin tenun di Desa Beleq, Sembalun, Lombok (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pengrajin tenun di Desa Beleq, Sembalun, Lombok (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Indonesia kaya. Dua kata ini nampaknya sangat tepat untuk menggambarkan kekayaan alam Bumi Pertiwi.

Tak hanya alamnya yang indah, Indonesia juga dikenal sebagai negara yang memiliki budaya berlimpah. Salah satunya adalah budaya menenun yang hingga saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia.

Meskipun banyak ditemukan di daerah lain, namun latar belakang terbentuknya budaya menenun di masing-masing daerah pasti berbeda. Seperti di Desa Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, di mana kegiatan ini dijadikan sebagai salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh semua perempuan yang ada di sana.

Untuk melihat secara langsung kebiasaan menenun yang dilakukan oleh para perempuan Sembalun, kumparan bersama dengan peserta kumparan Getaway Sembalun mengunjungi salah satu dusun yang ada di desa Sembalun, Jumat (28/10).

Pengrajin tenun di Desa Beleq, Sembalun, Lombok (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Pengrajin tenun di Desa Beleq, Sembalun, Lombok (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Dari sekian banyak dusun yang ada, Dusun Lebak Lauk menjadi tempat tujuan kami untuk melihat (dan mempelajari) budaya menenun di sana. Setibanya di desa ini, pemandangan kegiatan menenun yang dilakukan oleh wanita Sembalun akan senantiasa kamu jumpai.

Kelihaian tangan para penenun dalam menyatukan tiap helaian benang menjadi sebuah kain membuat kami takjub. Menariknya, semua penenun yang ada di sini adalah wanita, baik ibu muda sampai wanita yang sudah berusia lanjut.

Usut punya usut, budaya menenun yang dimiliki oleh Desa Sembalun hanya boleh dilakukan oleh kaum wanita. Kenapa demikian?

Lokasi pembuatan tenun di Desa Beleq, Sembalun (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Lokasi pembuatan tenun di Desa Beleq, Sembalun (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Rozak, pemandu wisata yang memandu kumparan dan peserta kumparan Getaway Sembalun menjelaskan, bahwa setiap wanita yang tinggal di sini diharuskan untuk bisa menenun sejak usia dini. Hal ini dikarenakan, menenun menjadi bentuk tanggung jawab seorang wanita Sembalun dalam mengurus rumah tangga mereka nantinya.

"Wanita Sembalun yang andal menenun diperkirakan kelak akan menjadi istri baik yang mampu mengurus suami dan anak-anaknya," tutur Rozak kepada kumparan.

Selain itu, hanya wanita telaten dan rajin mempelajari teknik menenunlah yang mampu membuat kain tenun dengan apik. Proses belajar menenun ini nantinya akan membentuk sikap seorang wanita Sembalun saat berumah tangga.

Setelah asyik memperhatikan para penenun, peserta kumparan Getaway Sembalun diberikan kesempatan untuk mencoba menenun layaknya wanita Sembalun. Dua peserta asal Bandung, Merry dan Okta lantas mengajukan diri untuk mengambil kesempatan emas ini.

Lokasi pembuatan tenun di Desa Beleq, Sembalun (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Lokasi pembuatan tenun di Desa Beleq, Sembalun (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Menenun untuk pertama kalinya tentu bukan perkara mudah, karena jari jemari harus tepat dalam menyatukan tiap helaian benang. Tak hanya tangan, ujung kaki juga harus digerakkan secara bersamaan agar benang dapat tertarik dan menyatu membentuk corak. Walaupun sulit, namun keduanya tetap menikmati kegiatan menenun yang mereka lakukan.

Juga ada yang unik dari kegiatan menenun di Sembalun. Wanita yang tengah datang bulan biasanya akan dilarang untuk menenun. Masalah kesehatan menjadi alasannya.

Rozak mengatakan, menenun merupakan kegiatan yang memberdayakan seluruh anggota tubuh, mulai dari tangan, kaki, kepala, hingga ke tulang ekor dan tulang belakang. Sehingga, jika ada seorang wanita yang tengah haid lalu menenun, makan ditakutkan ia akan mengalami gangguan pada masalah organ dalamnya.

Dan, tak hanya sekadar kegiatan mata pencaharian biasa, menenun juga nyatanya menjadi salah satu daya tarik Desa Sembalun. Memiliki warna yang lebih cerah dan bercorak natural, harga kain tenun khas Sembalun ini dijual mulai dari Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung ukuran dan bahan yang digunakan.