Mengenal Air Purifier, Pembersih Udara yang Bisa Deteksi Bakteri Mikro

Paparan matahari, polusi kendaraan bermotor hingga suhu udara yang cukup menyengat membuat seseorang lebih memilih untuk berada di rumah. Alasannya, berada di rumah mampu meminimalisir terkena polusi dan udara di sekitarnya lebih higienis.
Padahal, hal tersebut belum tentu benar adanya. Polusi di dalam ruangan lebih berbahaya dari polusi di luar ruangan yang tanpa disadari mengancam kesehatan serta menghambat aktivitas. Padahal, dengan berada di dalam udara bersih, bayi, anak, atau janin yang berada di dalam kandungan dapat terhindari dari gangguan perkembangan otak dan penyebab cacat kognitif serta motorik.
Untuk itu, diperlukan sebuah alat yang dapat menghalau serta mendeteksi polutan-polutan berbahaya tersebut. Alat tersebut biasa disebut dengan air purifier atau pembersih udara.

Air purifier adalah suatu alat yang mampu menghilangkan serta menyaring bakteri dan polusi kotor di dalam ruangan yang biasanya menjadi pencetus alergi, penyebab timbulnya asma, dan menghilangkan aroma tidak sedap dari rokok. Lantas, rumah yang seperti apa yang biasanya dipasang pembersih udara?
Dituturkan oleh Justi Salusiana selaku PT. Higienis Indonesia, idealnya semua ruangan di dalam rumah yang mengandung banyak polutan perlu dipasangi air purifier. Tetapi biasanya, air purifier dipasang di ruangan yang paling banyak didiami, misalnya kamar tidur.

“Air purifier harus dipasang di ruangan tertutup agar lebih maksimal kerjanya. Boleh dipasang 24 jam nonstop di dalam ruangan,” tutur Justi di acara peluncuran Blueair New Classic Purifier di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (5/9).
Ia melanjutkan, penggunaan air purifier sebenarnya sudah umum digunakan di rumah-rumah di luar negeri. Namun di Indonesia khususnya bagi orang-orang yang tinggal di kota besar, masih banyak orang yang belum paham akan pentingnya penggunaan pembersih udara ini.
“Kalau pakai air purifier sehari-hari memang tidak terlalu kerasa. Tapi manfaatnya jangka panjang. Jadi jarang sakit-sakitan, jarang flu. Kalau di rumahnya masih banyak polutan, sebaiknya pakai purifier,” lanjutnya.
Menurutnya, masyarakat Indonesia kini mulai sadar dengan penggunaan pembersih udara yang digunakan dan dianjurkan oleh dokter. Biasanya, keluarga yang baru memiliki bayi, atau pasangan yang istrinya tengah hamil biasanya menggunakan purifier.
“Mereka khususnya para orang tua sudah sadar akan bahaya polusi bagi anak mereka, jadi biasanya yang baru punya anak pakai air purifier di rumah. Dan pembersih udara itu bukan menyedot debu-debu kecil yang ada di lantai, tetapi partikel polutan kecil yang sangat mikro dan tidak terlihat mata. Di situlah fungsinya air purifier,” papar Justi lagi.
Sayangnya, banyak orang masih sulit membedakan air purifier dan air conditioner alias pendingin ruangan. Mereka beranggapan jika telah menggunakan air purifier tidak perlu menggunakan AC lagi. Padahal, keduanya adalah alat yang berbeda fungsinya.

“Air purifier kan untuk membersihkan udara di ruangan, lebih efisien dan hemat dari segi pemakaian listrik jadi bisa dipakai 24 jam nonstop. Kalau AC kan mendinginkan ruangan dan tarikan listriknya besar. Merawat air purifier juga mudah, gak perlu diapa-apain, dipakai selama 6 bulan, setelah itu filternya diganti,” terang Justi sebelum mengakhiri perbincangan.
Salah satu air purifier yang baru diluncurkan adalah Bluueair New Classic yang tersedia untuk berbagai jenis ruangan. Menariknya, alat ini terdapat fitur wifi untuk memudahkan penggunanya mengontrol dari jarak jauh melalui smartphone dan dijual mulai dari Rp 6,5 jutaan hingga Rp 14,4 jutaan. Anda bisa mendapatkan alat ini di Electronic City dan beberapa department store seperti Metro dan Centro. Air purifier ini juga bisa dibeli secara online di Bhinneka, Blibli, dan Lazada.
