Mengenal Tenun Doyo, Kain Warisan Kutai yang Belum Eksis di Dunia Mode

Tak sulit untuk jatuh cinta dengan pesona dan keindahan kain Indonesia.
Dari Sabang sampai Merauke, hampir setiap wilayah Indonesia punya tenun andalan masing-masing. Beberapa daerah yang termahsyur sebagai penghasil songket adalah Palembang, Sumba, Sumatera Utara (Ulos), hingga Sumatera Barat (Songket).
Namun, tahukah Anda bahwa Kutai juga memiliki pusaka tenun yang tak kalah cantik dan istimewa?
Adalah Tenun Doyo, kain tradisional asli Kutai Barat, Kalimantan Timur. Alih-alih kapas, helaian benang tenun ini terbuat dari serat daun Doyo.
Daun doyo memiliki bentuk mirip pandan, dengan nama Latin Curculigo Latifolia. Ada enam jenis daun Doyo yang mudah ditemukan di Kutai.
Antara lain Doyo Pentih/Lilin, Doyo Temoya, Biang, Tulang, Bramang, dan Lingan. Serat daun ini dipilih karena kekuatan dan keawetannya yang luar biasa.

Cara menyulap daun Doyo jadi helaian benang tidaklah sulit. Permukaan Daun Doyo dikerik menggunakan pisau, sembari dibasahi air sungai yang mengalir.
Setelahnya, serat daun akan dijemur hingga mengering untuk diwarnai (nyarau) dengan pewarna alami. Pewarna kain tenun Doyo berasal dari kunyit (kuning), arang kayu damar (hitam), buah glinggam tua (merah), dan masih banyak lagi.
Selama berbulan-bulan, perempuan suku Dayak Benuaq memintal benang dan menenunnya jadi helaian kain tenun Kutai yang cantik. Alat tenunnya bernama Ngorak Uta, tebuat dari tiang kayu setinggi satu meter.
Tak hanya pakaian, tenun Doyo bisa dibuat jadi aneka aksesori dan kerajinan tangan yang bernilai jual. Seperti tas, syal, dan dompet.

Motif tenun Doyo pun beragam, dengan makna yang berbeda-beda. Antara lain Motif Naga, Limar, Kinas, Timang, Tukar Koray, Tipak Nuat, Timang Sesat Sungkar, Tipak Mening Knowala, Motif Tengkulutn Tongau, Motif Brabakng, dan Motif Upak Tolang.
Sayangnya, gaung keindahan tenun Doyo belum terdengar di dunia luar.
"Motifnya (tenun Doyo) modern, geometrik. Kebetulan tren fashion tahun 2018 kan embelishment," ujar Syahmedi Dean, penulis buku Tenun Doyo dan Sulam Tumpar, saat dijumpai kumparanSTYLE di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Yang membedakan motif tenun Doyo berbeda dengan kain tenun lainnya adalah unsur titik-titik hitam yang terdapat dalam susunan motifnya. Menurut Dean, titik hitam ini memberi kesan elegan dan eksotis pada rupa motif utama di setiap lembar tenun Doyo.
Desainer Indonesia pertama yang meluncurkan koleksi berbahan tenun Doyo adalah Billy Tjong. Warna elegan dan motif geometrik tenun Doyo disulap jadi busana yang chic dan modern.

