kumparan
2 Jan 2019 16:02 WIB

Womanpreneur: Cynthia Tenggara, Founder & CEO Berry Kitchen

Cynthia Tenggara, pendiri Berry Kitchen (Foto: Helmi Afandi/kumparan)

Di Berry Kitchen, kita sangat menjunjung tinggi kejujuran.

- Cynthia Tenggara, Founder & CEO Berry Kitchen

ADVERTISEMENT
Berry Kitchen bermula dari ketidakpuasan Cynthia Tenggara terhadap katering yang disuguhkan di kantor lama tempatnya bekerja. Menurutnya, pilihan menu katering saat itu membosankan, rasanya pun biasa saja.
Untuk mengatasi rasa jenuhnya, perempuan kelahiran 11 September 1985 ini coba mencari alternatif katering yang sesuai dengan seleranya. Sayang, kemajuan industri kuliner Jakarta tahun 2012 belumlah semaju sekarang.
Hanya ada katering rumahan dengan pilihan menu terbatas. Jumlah pemesanan dikenakan batas minimum, ongkos kirim pun mahal.
Merasa kecewa, ide cemerlang untuk mendirikan katering online dengan variasi menu menggiurkan muncul di benak Cynthia. Meski tak bisa memasak dan nol besar soal bisnis, tekadnya bulat berbisnis katering.
Nasib baik pun berpihak kepadanya. Cynthia dipertemukan dengan orang-orang yang mahir di bidang bisnis dan kuliner, yang hingga kini berjasa besar membesarkan Berry Kitchen.
ADVERTISEMENT
Di Berry Kitchen, Cynthia menghadirkan konsep katering online yang praktis dan mudah. Menarget pekerja kantoran yang ingin menyantap makan siang nikmat dengan bujet terjangkau, Berry Kitchen menyedikan 10-15 pilihan lauk setiap hari.
Anda bisa mengatur (customize) menu makan siang Anda sendiri, lengkap dengan panduan kalori yang tertera pada setiap lauk. Bersih, sehat, dan terjangkau.
Berawal dari lima orang karyawan pada 2012, Berry Kitchen kini menjelma jadi katering online terbesar Jakarta yang mempekerjakan lebih dari 100 karyawan.
Saat ini Berry Kitchen juga boleh dikatakan sebagai pemain utama bisnis katering online yang berusaha memuaskan kebutuhan ribuan pekerja kantoran di Jakarta.
Kepada kumparanSTYLE, Cynthia berkisah tentang jatuh bangunnya mendirikan Berry Kitchen hingga sesukses sekarang. Ia juga berbagi kisah tentang personal value, kultur perusahaan, dan pergumulannya menjalankan peran sebagai seorang istri, entrepreneur, sekaligus working mom yang sibuk.
Cynthia Tenggara, pendiri Berry Kitchen (Foto: Helmi Afandi/kumparan)
Simak obrolan ringan berikut ini.
ADVERTISEMENT
Anda sukses jadi pemilik katering online terbesar di Jakarta, padahal tidak mahir memasak sama sekali. Bisa cerita soal pendidikan, karier, dan perjalanan hingga mantap mendirikan Berry Kitchen?
Dulu saya kuliah di UPH, ambil jurusan Public Relations waktu itu. Selulus kuliah sempat kerja di RCTI selama dua tahun sebagai Tim Kreatif. Setelah itu bekerja di beberapa tempat, selalu di bagian marketing, sales, dan public relations.
Saya juga pernah bekerja di Groupon (sekarang jadi Fave) selama dua tahun dan melihat pertumbuhan company yang sangat signifikan.
Saya melihat kultur perusahaan yang sangat young (saat itu belum terlalu banyak start-up). Isinya anak muda semua, dan itu jadi eye opener kalau anak muda bisa mengerjakan sesuatu sampai company-nya bisa grow, punya revenue bagus, dan breakeven.
ADVERTISEMENT
Keluar dari sana pada 2012, saya berpikir ingin membuat perusahaan yang seperti itu juga, namun masih berpikir mau di bidang apa. Waktu itu di bidang fashion sudah ada Zalora, Lazada, dan lain-lain. Kalau mau jual elektronik online sudah banyak kompetitor yang uangnya enggak terbatas.
Yang saat itu belum ada adalah makanan, dan di Jepang kebetulan sedang booming food e-commerce.
Saya mantap berbisnis kuliner karena selama bekerja, saya selalu dapat katering makanan dari kantor. Tapi saya rarely-happy dengan makanannya karena saya pemilih dan mudah bosan. Saya coba Google dan telepon katering (lain) satu per satu. Selalu enggak bisa pilih (menu) dan ada minimum order, harga ongkos kirim juga mahal sekali.
ADVERTISEMENT
Apa pergumulan yang Cynthia hadapi saat ingin mendirikan Berry Kitchen?
Awalnya modal kecil, dari saya sendiri dan partner (suami dan Jason Lamuda, CEO Berry Benka). Karena suami saya dan Jason punya bisnis sendiri, jadi Berry Kitchen saya yang jalankan.
Tapi karena saya enggak bisa masak, kita ngobrol sama beberapa teman, ada lima sampai sepuluh orang. Saya juga punya partner chef. Itu wajib hukumnya karena saya enggak bisa masak.
Apa yang membuat Berry Kitchen istimewa ketimbang katering online lainnya?
Berry Kitchen adalah katering spesialis berkonsep 'you can customize your own menu'. Jadi setiap hari di website kita ada sekitar 15 menu, bisa dipilih menunya, ada takaran kalori juga.
ADVERTISEMENT
Kita ingin jadi company yang bisa memungkinkan customer me-manage makan siangnya secara online. Custome juga bisa memilih dengan leluasa waktu pengirimannya, apakah hari ini atau besok. Jauh lebih praktis ketimbang harus telepon dan bayar cash.
Tampilan menu makan siang di Berry Kitchen. (Foto: Dok. Berry Kitchen)
Berry Kitchen terkenal punya kultur perusahaan yang asyik. Bisa cerita tentang gaya kepemimpinan dan budaya yang Cynthia terapkan?
Di Berry Kitchen kita sangat menjunjung tinggi kejujuran. Di perusahaan ini, kalau ada karyawan yang mau enggak masuk kerja, bilang saja. Mau ada interview di tempat lain juga sama sekali enggak apa-apa.
Karena sekali bohong, menejemen enggak akan percaya lagi. Kita bisa SP 3 atau cut karyawan, bahkan karena kebohongan kecil sekalipun.
Tapi in return, we give you trust. Misalnya you want to do interview with another company, tell us. Karena saya berpikiran kalau Anda dapat pekerjaan yang lebih baik ketimbang Berry Kitchen, kita akan support.
ADVERTISEMENT
Ada karyawan yang izin karena mau nganter pacarnya wisuda juga it's okay, ketimbang bohong lalu enggak sengaja ketemu di sana.
Kita juga selalu terbuka dengan keadaan perusahaan. Mulai dari susah sampai senang, kita akan share semua. Itu adalah kultur yang kemanapun kita pergi, akan selalu seperti itu.
Mengapa kejujuran begitu penting di mata Anda?
Lebih ke personal values, sih. Dan saya merasa saat masih bekerja di perusahaan lama, saya enggak bisa jujur ke atasan, makanya saya jadi bohong-bohongan.
Misalnya saya melakukan kesalahan, saya jadi bohong dan menutup-nutupinya. Mau izin juga harus sangat hati-hati agar enggak bohong, tapi cerdik juga.
Saya ingin anak-anak saya (karyawan Berry Kitchen) enggak memikirkan hal begitu. Saat kerja fokus, jadi waktunya enggak habis memikirkan hal seperti itu.
ADVERTISEMENT
Bahkan ada karyawan yang ketahuan mengambil uang kecil (Rp 50 ribu) saja, langsung di cut. Bukan masalah nominalnya.
Kalau Anda bisa jujur dalam hal kecil, nanti ketika saya memberi tanggung jawab besar, Anda bisa jujur juga.
Di Berry Kitchen juga ada rules khusus. Kalau Anda bikin salah satu kali, kerugian seluruhnya ditanggung perusahaan. Kalau melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, kerugian ditanggung 50:50. Misalnya saja salah print kemasan atau salah file printing untuk ketiga kalinya, 100 persen ditanggung karyawan. Belajar dari kesalahan sendiri.
Apa milestone atau pencapaian berkesan untuk Cynthia selama tumbuh bersama Berry Kitchen?
Berry Kitchen memang enggak pernah dapat penghargaan. Tapi saya merasa setiap jumlah pack makanan bertambah, ada challenge baru, new hazzle.
ADVERTISEMENT
Sempat ada satu titik di mana kita stuck di angka 500 packs, enggak bisa naik ke 700 karena ada masalah tertentu.
Nanti dari 700 ke 1000 juga begitu, jadi saya rasa setiap lonjakan pesanan merupakan another milestones untuk kita.
Ini merupakan proses yang kita alami, seperti mendapatkan series A funding. Tadinya masih burn money jadi breakeven, it's an internal milestone yang memang enggak dirayakan keluar tapi berarti untuk kita.
Sekarang, Berry Kitchen bisa mengirim 3000 - 5000 pack makanan setiap hari.
Menu Berry Kitchen. (Foto: Dok. Berry Kitchen)
Tentu tak mudah bagi Cynthia untuk membagi waktu di tengah kesibukan sebagai pemimpin, istri, dan ibu. Ada tips khusus?
Memang susah, saya pun struggle dalam hal ini. Karena i need to manage my baby yang usianya baru dua tahun.
ADVERTISEMENT
Orang tua saya di Bogor, orang tua suami ada di Bandung, jadi enggak ada yang bisa dititipi, sedangkan saya enggak mau meninggalkan anak ke suster.
Akhirnya saya bawa ke kantor setiap hari. Kerjaan juga kadang bisa heboh sekali (sibuk) dan can't even take a break. It's tough, but it's possible.
Mungkin saat masih single Anda bisa do 100 percent at work, tapi setelah menikah dan punya anak pasti akan adjust.
Sadari bahwa you need help from others. And you have to set your priority. Karena kalau semua jadi priority, then it's not priority kan. Set your priority right!
Menurut Cynthia, lebih baik menjadi entrepreneur atau pekerja kantoran?
ADVERTISEMENT
Enggak ada yang salah dengan bekerja dan enggak ada yang salah dengan entrepreneur. It's just a different path saja. Karena masing-masing punya struggle sendiri.
Asal you can excel in whatever you do, i don't think entrepreneur is better than working too. Yang terpenting, jangan stay di level yang sama dalam waktu dua tahun. Misal dua tahun lalu excecutive, sekarang masih excecutive, empat tahun lagi masih excecutive. It has to be an improvement, itu yang saya terapkan ke anak-anak Berry Kitchen. Harus ada timeline untuk level up.
Saya juga selalu bilang ke karyawan untuk selalu bekerja (keluarkan effort) sesuai gaji yang diinginkan. Kalau sekarang Anda gaji misalnya Rp 5 juta tapi bekerja seperti gaji Rp 10 juta, menejemen pasti lihat. Karena Berry Kitchen masih kecil, it's easy to outshine the others kalau kita memang perform.
ADVERTISEMENT
Yang terpenting adalah mindset si pekerja sendiri. Mau kerja ataupun bisnis, excel saja di situ karena pasti naik.
Cynthia Tenggara, pendiri Berry Kitchen (Foto: Helmi Afandi/kumparan)
Kapan masa tersulit untuk Berry Kitchen?
Tahun pertama. Saya punya satu tabungan yang dikhususkan untuk investasi di Berry Kitchen. Awal berdiri saya sama sekali enggak ambil gaji, karena masih company baru.
Ada masa saat uang saya sisa untuk satu bulan hidup, berarti kalau Berry Kitchen enggak bisa make money dan enggak bisa gaji saya, saya akan tutup. Karena terasa it doesn't work.
Saya selalu komplain ke suami saya (saat itu masih pacar) mau tutup saja, sudah capek enggak dapat reward apa-apa. Tapi dia selalu bilang 'ini saatnya kamu untuk menabur. Yang penting menabur yang bagus, dan kamu akan dapat reward'.
ADVERTISEMENT
Dan benar, satu bulan sebelum gaji saya habis, company berhasil breakeven dan saya bisa ambil gaji walau sedikit. Itu 2012 awal.
Ada role model yang Anda jadikan panutan?
Veronica Colondam, pendiri Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB). Meski suaminya sukses sekali, tapi dia tetap fokus dan juga sukses membangun social entrepreneur nya. I adore her.
Lalu Sheryl Sandberg, COO Facebook. Saya pernah baca bukunya, dia lumayan struggle karena kesenjangan gender di AS, but she can do it dan jadi sukses. Juga Jack Ma. Mungkin karena dia teacher, jadi saya merasa banyak hal yang dia lakukan filosofis. Bukan hanya doing the business, tapi he has value in everything he do. Make sense dan relatable.
ADVERTISEMENT
Apakah Anda sudah merasa jadi pemimpin yang baik?
Pastinya belum, karena masih banyak kekurangan. Karena saya perempuan, jadi masih suka emosional. Karena saya punya anak jadi enggak selalu available.
Menurut saya, di luar sana masih ada banyak leader yang jauh lebih baik. Saya merasa anak-anak saya harus tahu bahwa saya human dan bisa make mistakes.
It's a learning process, menurut saya enggak akan ada orang yang bisa klaim dirinya sebagai pemimpin yang baik.
Ada mimpi atau future goals yang ingin diwujudkan?
Selain Berry Kitchen, saya ingin punya bisnis yang berdampak besar untuk kehidupan orang banyak. Contohnya seperti Gojek milik Nadiem Makarim.
Saya pribadi tidak bisa membayangkan hidup tanpa Gojek, pasti bingung cara beli makanan anak. Nah, saya ingin punya bisnis yang menyentuh banyak kehidupan, didoakan saja.
ADVERTISEMENT
---
Simak cerita perempuan inspiratif lainnya hanya di topik sheinpsiresme.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan