Kumparan Logo

1 Miliar Data Penduduk China Diduga Bocor di DarkWeb

kumparanTECHverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi hacker. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hacker. Foto: Shutter Stock

Seorang hacker mengeklaim telah berhasil mencuri informasi pribadi dari satu miliar warga China. Jika benar, ini akan jadi pencurian data terbesar sepanjang sejarah.

Pengguna internet anonim yang diidentifikasi sebagai “ChinaDan” mengunggah aksinya itu di forum hacker Breach Forums, pekan lalu. Lebih dari 23 terabytes (TB) data seharga dijual dengan harga 10 Bitcoin atau sekitar 200 ribu dolar (sekitar Rp 2,9 miliar)

“Pada 2022, database Shanghai National Police (SHGA) bocor. Database itu berisikan banyak informasi dari jutaan masyarakat China,” demikian bunyi unggahan, sebagaimana dikutip Reuters.

ChinaDan mengaku basis data yang berhasil ia curi berisi informasi tentang satu miliar penduduk China, serta beberapa miliar catatan kasus, termasuk: nama, alamat, tempat lahir, nomor ID nasional, nomor ponsel, semua detail kejahatan atau kasus.

Reuters sendiri sudah mencoba memverifikasi keaslian posting-an tersebut, namun dari, ChinaDan hingga kepolisian Shanghai tidak memberi komentar.

Sementara itu, posting-an ini ramai dibahas secara luas di platform media sosial Weibo dan WeChat China selama akhir pekan. Banyak pengguna khawatir hal tersebut benar adanya.

Pelanggaran terburuk dan terbesar

Kendra Schaefer, kepala penelitian kebijakan teknologi di konsultan Trivium China mengatakan dalam sebuah posting di Twitternya, hal ini sulit untuk dikonfirmasi kebenarannya. Namun jika apa yang diklaim ChinaDan benar, maka ini akan menjadi salah pelanggaran terbesar dan terburuk.

“Yang paling jelas itu akan menjadi salah satu pelanggaran terbesar dan terburuk dalam sejarah,” kata Schaefer.

Di saat bersamaan, kabar 1 miliar data penduduk Asia dijual di darkweb turut diikuti dengan meningkatnya proses verifikasi pengguna baru terhadap orang yang ingin melakukan pertukaran mata uang kripto. Hal tersebut diungkapkan oleh CEO Binance Zhao Changpeng.

Menurut Changpeng, kebocoran ini bisa terjadi karena bug dalam penyebaran Elastic Search oleh agen pemerintah.

Klaim peretasan ini muncul usai pemerintah China berjanji untuk meningkatkan perlindungan privasi data pengguna online, menginstruksikan raksasa teknologinya untuk memastikan penyimpanan yang lebih aman setelah keluhan publik tentang penyalahgunaan data.