4 Tips Kenali Informasi Hoaks di Internet

Akhir-akhir ini, ruang publik kita diisi dengan demonstrasi mahasiswa sampai kerusuhan di Papua. Sayangnya, isu-isu semacam itu sering kali dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan berita bohong atau hoaks.
Kemajuan teknologi memang memudahkan kita untuk menyebarkan dan mendapatkan informasi dengan cepat. Namun, pengguna perlu lebih teliti untuk menerima informasi-informasi tersebut.
Menurut penelitian UNESCO yang berjudul 'Journalism, Fake News and Disinformation' (2019), setidaknya kita perlu berhati-hati terhadap tiga jenis informasi yang tidak akurat: misinformasi, disinformasi, dan malinformasi.
Misinformasi adalah informasi yang keliru tetapi tidak dibuat dengan maksud menyebabkan kerugian bagi seseorang atau suatu kelompok. Istilah tersebut ditujukan kepada informasi yang ketidakakuratannya merupakan hasil dari kesalahan yang tidak disadari si pemberi informasi.
Adapun disinformasi adalah informasi yang palsu dan sengaja dibuat untuk menyakiti seseorang, kelompok sosial, organisasi atau negara. Disinformasi inilah yang seringkali disebut sebagai hoaks atau fake news (berita bohong).
Sedangkan malinformasi mungkin lebih berbahaya. Pasalnya, istilah tersebut merujuk kepada informasi yang didasarkan pada kenyataan, namun digunakan untuk menimbulkan kerugian pada seseorang, kelompok sosial, organisasi atau negara. Dengan demikian, meski informasi yang disampaikan sesuai dengan fakta, tetapi disampaikan secara parsial (sebagian) untuk mendukung posisi dari si pemberi pesan.
Untuk menghadapi ketiga bentuk informasi sesat tersebut, kalian mungkin perlu untuk mengikuti beberapa tips berikut.
Cek kredibilitas sumber
Langkah pertama yang paling mudah untuk mencegah kesesatan informasi adalah dengan mencari tahu sumber yang memberi tahu informasi yang kamu dapatkan. Misalnya, kalian dapat memulai pertanyaan kritis seperti siapa yang menulis informasi tersebut? Apa jenis domain yang dipakai oleh pengirim sumber? Apakah situs yang kalian baca sudah memenuhi standar pengutipan akademik?
Kalian juga perlu untuk memahami sudut pandang yang dipakai oleh pengirim. Jika melalui situs web, kalian bisa mengecek latar belakang melalui menu ‘About Us’. Jika kalian menerima informasi di media sosial dari seorang individu, kalian juga dapat melihat latar belakang konten yang disebarkan olehnya di masa lalu.
Lihat penulisan
Kalian juga dapat meneliti penulisan dari informasi yang kalian terima. Apakah informasi tersebut disampaikan secara rapi dan tidak, katakanlah, berlebihan dan memiliki banyak kesalahan ketik?
Selain itu, perlu juga untuk melihat redaksi penulisan dari informasi yang kalian terima. Menurut sebuah penelitian yang berjudul ‘Truth of Varying Shades’ (2017) dari University of Washington, ada keterkaitan bahasa dan berita bohong. Informasi yang keliru biasanya dibangun dengan kata-kata yang relatif seperti “paling” atau “buruk”, serta kata-kata yang sifatnya subjektif seperti “mengerikan”.
Cek keakuratan fakta dengan komparasi
Jangan lupa untuk cek informasi yang kamu terima. Kalian dapat melakukannya dengan melihat perbandingan informasi yang kamu dapatkan dari satu sumber dengan sumber lain.
Kalian juga harus memperhatikan pengutipan yang dirujuk oleh sumber informasi kalian. Jika kalian mendapatkan informasi yang penting dan kompleks, namun tidak disertai pengutipan yang mencukupi, maka ada sesuatu yang salah.
Lakukan reverse search pada gambar
Kita hidup di sebuah zaman di mana pengeditan foto dapat menghasilkan kualitas yang sama dengan foto asli. Kamu dapat melakukan pencarian untuk melihat sumber dari gambar yang kamu terima melalui fitur reverse search di Google Image.
