Alasan Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Penerbangan Pesawat

Penyebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau ke sebagian wilayah Lampung, Jawa Barat, Banten, dan Jabodetabek, menyebabkan penundaan banyak penerbangan pesawat di Indonesia pada Minggu, 6 September 2026. Keputusan penundaan penerbangan diambil oleh berbagai pihak Indonesia atas alasan keselamatan, karena abu vulkanik di udara dapat membatasi jarak pandang, hingga berbahaya bagi mesin pesawat.
Abu vulkanik berasal dari materi bebatuan yang hancur, mineral, dan kaca vulkanik yang dimuntahkan puluhan ribu kaki ke udara hingga mencapai ketinggian pesawat terbang. Saking halusnya, abu vulkanik bisa masuk ke dalam ruang antara mesin baling-baling pesawat yang berputar dan bisa menyebabkan penyumbatan pada baling-baling.
Partikel-partikel abu vulkanik yang telah menerobos baling-baling tersebut cukup abrasif dan dapat mengikis bilah-bilah kompresor (yang meningkatkan tekanan udara pada pesawat). Jika hal itu terjadi, mesin kompresor tidak akan bisa bekerja dengan baik.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan bahwa, penutupan sementara bandar udara di Indonesia akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau merupakan hasil kolaborasi dan keputusan bersama seluruh stakeholders penerbangan nasional. Keputusan ini diambil oleh Otoritas Bandar Udara melalui koordinasi intensif bersama BMKG, Perum LPPNPI (AirNav Indonesia), serta para pengelola bandar udara yang mencakup Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU), InJourney, otoritas setempat, dan TNI.
Sinergi lintas sektor ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan darurat yang diambil menempatkan keselamatan operasional penerbangan sebagai prioritas utama.
- Andri Ramdhani, Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG -
Menurut Dicky Budiman, Peneliti Keamanan Kesehatan Griffith University, Australia, sekaligus Dosen Manajemen Bencana di Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI, Jakarta, abu vulkanik mengandung kristal silika, mirip serpihan kaca yang tajam dan dapat merusak.
Dalam konteks penerbangan, apabila abu vulkanik panas itu menerobos ke ruang bakar, ia dapat melelehkan dan menghasilkan zat seperti gelas cair (molten glass). Gelas cair tersebut kemudian bakal membeku pada bilah turbin, menghalangi aliran udara, dan akan menyebabkan mesin mogok.
Kerusakan mesin bukan satu-satunya masalah yang mengerikan. Abu vulkanik yang membentur kaca depan pesawat akan membatasi pandangan pilot, merusak lampu, badan pesawat dan komponen eksternal lainnya. Oksigen di dalam kabin juga akan terkontaminasi, mengharuskan penumpang untuk memakai masker oksigen untuk bantuan pernapasan.
Menurut Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, partikel abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran sangat kecil, kurang dari 2 milimeter. Ukuran yang halus ini membuat abu mampu menembus sistem penyaringan alami di hidung manusia dan langsung masuk ke saluran pernapasan bagian dalam hingga ke alveolus atau kantong udara di paru-paru.
Secara kimiawi, partikel abu vulkanik diselimuti oleh senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung berbagai logam berat dan mineral.
- Dr. Daryono, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) -
Direktorat Meteorologi Penerbangan BMKG, juga menyebutkan bahwa abu vulkanik berpotensi membuat gangguan sistem navigasi dan sensor. Selain itu, hal lain yang berpotensi adalah terjadinya perubahan rute dan keterlambatan penerbangan.
