kumparan
22 Januari 2019 7:55

Alasan WhatsApp Batasi Forward Pesan Hanya Bisa Dilakukan 5 Kali

Ilustrasi WhatsApp (Foto: REUTERS/Thomas White)
Langkah besar WhatsApp membatasi pengiriman pesan terusan hanya sebanyak 5 kali, ternyata dilakukan berdasarkan sebuah riset mendalam, lantaran diketahui cukup banyak pengguna melakukan forward pesan dari sumber yang tak jelas asal-usulnya.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan riset internal WhatsApp, perusahaan menemukan 10 persen pesan yang ada di WhatsApp merupakan pesan terusan (forwarded) yang tidak tahu dari mana asal usulnya, sementara 90 persen pesan berasal dari kiriman personal atau one-to-one.
Hal ini membuat informasi hoaks yang tersebar lewat pesan terusan sulit dikendalikan. Dan oleh karenanya, WhatsApp merasa perlu menekan lalu lintas data dari pesan terusan yang dikhawatirkan adalah hoaks.
Fitur batasan pesan terusan ini diterapkan pertama kali di India pada pertengahan 2018 dan hasilnya memberi dampak positif. Victoria Grand, VP Public Policy & Communications WhatsApp, mengatakan kehadiran fitur ini di India berhasil menekan penurunan lalu lintas pesan forward sekitar 20 persen.
"WhatsApp sekali lagi mengerti fitur forward sangat bermanfaat, namun setelah melakukan penurunan angka batasan (pesan forward yang dikirim), ada juga penurunan perilaku forward pesan sebanyak 20 persen. Untuk itu dengan bangga kami umumkan fitur forward untuk Indonesia dan dunia diseragamkan (batasannya) jadi 5 pesan," ujar Victoria, dalam acara diskusi di Jakarta, Senin (21/1).
Notifikasi batasan 5 kali forward pesan di WhatsApp. (Foto: kumparan)
Menurut rencana, batasan 5 kali forward pesan ini akan dirilis global pada 22 Januari 2019.
ADVERTISEMENT
Fitur ini secara teknis bakal membatasi pesan terusan agar hanya bisa diterima oleh 5 kontak, baik itu kontak individu maupun grup obrolan. Group chat di sini masih dinilai 1 kali pesan terusan oleh WhatsApp, sekalipun grup tersebut diisi oleh 50 orang.
Kehadiran fitur ini bertepatan dengan momen pemilihan umum di Indonesia yang digelar 17 April 2019, dan diharapkan bisa menekan distribusi konten hoaks lewat WhatsApp.
Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, menyambut baik langkah yang diambil WhatsApp dan menilai WhatsApp menunjukkan keseriusannya untuk menciptakan pasar yang kondusif dan berkelanjutan di Indonesia.
"Mengapa kita harus membatasi pesan forward ini? Ini untuk mengurangi potensi viralnya hoaks," kata Rudiantara. "Saya menghormati kebijakan ini dari WhatsApp."
Menkominfo Rudiantara bersama Victoria Grand, VP Public Policy & Communications WhatsApp. (Foto: Kemkominfo)
Berdasarkan penelusuran Kominfo, banyak konten hoaks yang produksinya dimulai dari publikasi melalui akun media sosial seperti Facebook, Instagram, atau Twitter. Si penyebar membuat status kabar palsu lewat akun medsos yang besar kemungkinan adalah akun palsu. Dia kemudian melakukan screenshot atas pesan itu, lalu menghapus publikasi serta akun mereka sendiri. Setelah itu, gambar screenshot bakal diviralkan lewat WhatsApp.
ADVERTISEMENT
Teknik ini telah terendus oleh mesin pengais konten yang dioperasikan Kominfo.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan