Kumparan Logo

Amazon Siap Saingi SpaceX di Bisnis Satelit untuk Ponsel

kumparanTECHverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Roket United Launch Alliance Atlas V lepas landas membawa satelit jaringan internet Project Kuiper milik Amazon dari Stasiun Angkatan Antariksa Cape Canaveral di Cape Canaveral, Florida, Senin (28/4/2025). Foto: Joe Skipper/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Roket United Launch Alliance Atlas V lepas landas membawa satelit jaringan internet Project Kuiper milik Amazon dari Stasiun Angkatan Antariksa Cape Canaveral di Cape Canaveral, Florida, Senin (28/4/2025). Foto: Joe Skipper/REUTERS

Amazon bersiap memperluas bisnis internet satelitnya dengan mengembangkan layanan konektivitas langsung ke ponsel. Perusahaan milik Jeff Bezos itu telah mengajukan permohonan lisensi kepada Federal Communications Commission (FCC) Amerika Serikat untuk mengoperasikan 5.105 satelit baru yang dirancang mendukung layanan direct-to-cell, yakni koneksi satelit yang dapat diakses langsung melalui perangkat seluler.

Dikutip dari TechCrunch, Amazon menargetkan peluncuran satelit-satelit tersebut mulai dilakukan pada 2028. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat layanan komunikasi berbasis satelit sekaligus memperluas jangkauan jaringan Project Kuiper, yang selama ini difokuskan pada layanan internet broadband.

Rencana tersebut muncul beberapa bulan setelah Amazon mengakuisisi bisnis satelit milik Globalstar. Perusahaan itu dikenal sebagai penyedia layanan komunikasi satelit yang digunakan Apple untuk menghadirkan fitur Emergency SOS via Satellite pada iPhone, serta melayani berbagai perangkat Internet of Things (IoT).

Melalui pengajuan ke FCC, Amazon mengungkapkan akan memanfaatkan spektrum radio milik Globalstar untuk mengembangkan layanan komunikasi satelit langsung ke ponsel. Infrastruktur tersebut nantinya akan diintegrasikan dengan jaringan satelit orbit rendah (Low Earth Orbit/LEO) milik Project Kuiper sehingga mampu menghadirkan layanan yang lebih luas.

Persaingan dengan SpaceX Semakin Sengit

Masuknya Amazon ke pasar direct-to-cell diperkirakan akan memperketat persaingan dengan SpaceX, yang saat ini menjadi pemain terbesar di sektor internet satelit sekaligus layanan komunikasi satelit untuk ponsel.

Jejak sekelompok satelit Starlink SpaceX yang melewati Uruguay seperti yang terlihat dari pedesaan sekitar 185 km utara Montevideo dekat Capilla del Sauce, Departemen Florida, pada 7 Februari 2021. Foto: Mariana SUAREZ/AFP

SpaceX terus memperkuat bisnisnya melalui pengembangan konstelasi satelit Starlink. Bahkan perusahaan tersebut telah mengalokasikan investasi sekitar US$20 miliar untuk memperoleh spektrum dari EchoStar sebagai bagian dari ekspansi layanan satelit ke perangkat seluler.

Potensi Pasar Masih Dipertanyakan

Meski semakin banyak perusahaan masuk ke bisnis direct-to-cell, prospek pasarnya masih menjadi perdebatan. Saat ini, sebagian besar layanan satelit ke ponsel masih memiliki kapasitas bandwidth yang terbatas sehingga umumnya hanya digunakan untuk mengirim pesan singkat atau berkomunikasi saat kondisi darurat.

Sebagai gambaran, berdasarkan data T-Mobile pada Mei lalu, penggunaan layanan satelit hanya mencapai 0,0002 persen dari total trafik jaringan. Sebagian besar penggunaannya terjadi di kawasan taman nasional. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa layanan satelit untuk ponsel saat ini masih lebih banyak dimanfaatkan di wilayah tanpa jangkauan jaringan seluler konvensional.

Terkendala Roket Peluncuran

Di sisi lain, Amazon masih menghadapi tantangan dalam merealisasikan proyek ambisius tersebut. Berbeda dengan SpaceX yang memiliki roket peluncur sendiri, Amazon belum mempunyai armada peluncuran satelit.

Amazon sebelumnya mengandalkan Blue Origin, perusahaan antariksa milik Jeff Bezos, untuk mengirim satelit ke orbit. Namun, program roket New Glenn mengalami penundaan setelah insiden anomali pada Mei lalu yang menyebabkan landasan peluncur mengalami kerusakan.

Akibat keterlambatan itu, Amazon bahkan harus mengajukan perpanjangan tenggat waktu kepada FCC untuk memenuhi kewajiban pembangunan jaringan satelit sesuai lisensi yang dimilikinya.