Kumparan Logo

Aplikasi Telegram Tumbang karena Masalah Server di Singapura

kumparanTECHverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Telegram. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Telegram. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Aplikasi pesan instan Telegram mengalami gangguan yang membuat para pengguna tak bisa berkirim pesan pada Rabu (20/9) sekitar pukul 15.00 WIB.

Pengelola Telegram mengakui layanan mereka sedang bermasalah dan ini mempengaruhi pengguna di Asia, termasuk Indonesia. Berdasarkan pengalaman, tim kumparan (kumparan.com) juga mengalami kesulitan dalam berkirim pesan dan halaman utama aplikasi itu memberi keterangan "Connecting..."

Telegram berkata masalah ini berasal dari jaringan utama server di Singapura. Penyebabnya ternyata adalah pemadaman daya utama di pusat data (data center) Telegram di Singapura.

Perusahaan berkata hal ini "seharusnya tidak terjadi" dan kini mereka masih melakukan investigasi juga perbaikan layanan.

embed from external kumparan
X post embed

Sekitar pukul 16.30, Telegram mengabarkan layanan ini sudah mulai bisa dipakai lagi oleh pengguna di Asia, namun mereka masih memperbaiki sejumlah masalah lain. Telegram menyampaikan permohonan maaf soal ini.

Aplikasi Telegram sempat kontroversial di Indonesia ketika Kementerian Komunikasi dan Informatika mengambil langkah blokir versi situs web layanan itu pada 14 Juli 2017. Kemkominfo berkata pengelola aplikasi ini tidak meresponsel permintaan blokir konten radikalisme dan terorisme yang dianggap mengancam keamanan negara Indonesia.

Aparat penegak hukum Indonesia melacak ada aktivitas pengiriman dokumen dalam jummlah besar di Telegram, dan oleh karenanya Kemkominfo memblokir versi situs web dari Telegram, sementara versi aplikasi masih berjalan.

Setelah diblokir, pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, merespons langkah pemerintah Indonesia dan ia terbang ke Jakarta untuk bertemu Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara.

Durov akhirnya berjanji membuat timnya akan merespons secara cepat segala permintaan filter konten radikalisme dan terorisme yang mengancam keamanan Indonesia. Dia juga berkata akan menyediakan jalur komunikasi ke pemerintah Indonesia khusus agar proses filter konten berjalan cepat.

Di tanggal 10 Agustus 2017, Kemkominfo akhirnya membuka blokir Telegram setelah Durov berjanji memenuhi segalap permintaaan Kemkominfo.