Kumparan Logo

Benarkah Memakai Smartphone Membuat Otak Malas dan Bodoh?

kumparanTECHverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
IIustrasi bermain smaratphone. Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
IIustrasi bermain smaratphone. Foto: Thinkstock

Smartphone sudah menjadi pasangan hidup manusia di era digital saat ini. Ia masuk ke dalam bagian kehidupan, mulai dari terbangun, hingga kembali tidur.

Notifikasi yang terus muncul membuat pengguna ketagihan untuk menggengam smartphone-nya, tapi ternyata ini bisa menimbulkan efek yang negatif. Ahli endokrinologi di Universitas California, Robert Lustig mengatakan kepada Business Insider bahwa banyaknya notifikasi yang selalu muncul di smartphone kita, sebenarnya sedang melatih otak untuk berada dalam keadaan stres dan ketakutan.

Lustig menambahkan keadaan seperti itu bisa membuat bagian otak bernama korteks prefrontal, yang biasanya berhubungan dengan beberapa fungsi kognitif, bisa benar-benar rusak, dan pada dasarnya akan mati.

"Kamu akhirnya melakukan hal-hal bodoh. Dan hal-hal bodoh itu cenderung membuatmu dalam masalah," katanya dikutip Business Insider.

Otak manusia sejatinya hanya dapat melakukan satu hal pada satu waktu. Sebuah penelitian pada tahun 2009 menjelaskan jika 97,5 persen dari populasi dunia tidak bisa melakukan banyak tugas sekaligus. Sisanya 2,5 persen memiliki kemampuan multitasking yang berhasil melakukan lebih dari satu tugas sekaligus.

Kecanduan smartphone (ilustrasi). Foto: Shutter Stock

Psikolog David Guy Myers yang mempelajari efek ini memperkirakan bahwa peralihan di antara tugas-tugas dapat menghabiskan sebanyak 40 persen dari waktu otak kita yang produktif. Otak manusia hanya dapat memproses begitu banyak informasi pada suatu waktu, sekitar 60 bit per detik.

Penelitian yang dilakukan kepada pengguna smartphone di Swiss juga menunjukkan bahwa menatap layar smartphone bisa membuat otak dan jari lebih gelisah.

Tahun 2018 lalu, para psikolog dan ilmuwan komputer menemukan hubungan yang tidak biasa dan berpotensi meresahkan, semakin banyak mengetuk layar, mengklik, mem-posting dan scrolling di media sosial, akan membuat "ribut" sinyal otak mereka.

Temuan itu mengejutkan para peneliti. Biasanya, ketika kita melakukan sesuatu lebih sering, kita menjadi lebih baik, lebih cepat dan lebih efisien dalam tugas itu. Tetapi para peneliti berpikir ada sesuatu yang berbeda terjadi ketika kita terlibat dalam media sosial, kombinasi dari bersosialisasi dan menggunakan smartphone kita ternyata bisa membebani otak.

Pakai smartphone membuat otak malas?

Semakin banyak tugas yang harus kita lakukan, akan membebani kinerja otak. Hadirnya smartphone bisa saja memudahkan tugas-tugas kita untuk selesai lebih cepat, tetapi ada konsekuensi di belakangnya.

Ada beberapa bukti bahwa membagikan tugas berpikir kita ke smartphone tidak hanya membuat otak kita lebih sakit, tetapi juga malas. Kita juga tahu bahwa membaca informasi baru di smartphone bisa menjadi cara yang buruk untuk belajar.

Ilustrasi Bermain Smartphone Foto: REUTERS/Aly Song

Para peneliti telah menunjukkan bahwa orang yang mengambil informasi yang rumit dari sebuah buku, alih-alih di layar, mengembangkan pemahaman yang lebih dalam, dan juga terlibat dalam pemikiran yang lebih konseptual.

"Mereka mungkin mencari informasi yang sebenarnya mereka ketahui atau dapat dengan mudah dipelajari, tetapi tidak mau melakukan upaya untuk benar-benar memikirkannya," kata Gordon Pennycook, peneliti di Universitas Waterloo.

Temuan-temuan tersebut tidak bermaksud untuk meresahkan. Para ilmuwan tidak mengatakan bahwa menggunakan smartphone secara otomatis akan merusak. Tetapi untuk memberikan saran dan pilihan penggunaan smartphone tertentu yang berlebihan tampaknya akan menganggu dan sangat merusak.