BuzzFeed Tutup Divisi News karena Tidak Profit
ยทwaktu baca 3 menit

Perusahaan media BuzzFeed asal AS menutup unit bisnis sekaligus brand portal berita investigasi mereka, BuzzFeed News, karena tidak profit atau tidak menghasilkan keuntungan. Pengumuman tersebut disampaikan oleh CEO BuzzFeed, Jonah Peretti, ke para staf pada Kamis (20/4).
Penutupan BuzzFeed News merupakan bagian dari gelombang PHK di grup bisnis BuzzFeed yang berupaya mengurangi 15 persen atau sekitar 180 tenaga kerjanya, dari total 1.200 karyawan. PHK ini memengaruhi divisi bisnis, konten, admin, dan tim teknologi BuzzFeed.
Perusahaan BuzzFeed mendapatkan dampak yang luar biasa dari pandemi dan resesi ekonomi. Nilai saham mereka anjlok di bursa, mengalami penurunan iklan digital, dan mereka mengakui audiens telah berubah.
"Sementara PHK terjadi di hampir setiap divisi, kami telah memutuskan bahwa perusahaan tidak dapat lagi terus mendanai BuzzFeed News sebagai organisasi mandiri," tulis Peretti dalam sebuah memo kepada staf.
Menghadapi semua kendala tersebut adalah alasan mengapa kami harus mengambil keputusan sulit untuk memangkas lebih banyak pekerja dan mengurangi pengeluaran.
- Jonah Peretti, CEO BuzzFeed -
Konten news selanjutnya akan difokuskan untuk tayang di HuffPost, sebuah portal berita yang diakuisis oleh BuzzFeed pada 2020. Bisnis HuffPost dinilai menguntungkan dan memiliki audiens lebih besar ketimbang BuzzFeed News.
Sementara brand BuzzFeed itu sendiri, yang beralamat di BuzzFeed.com, fokus pada konten hiburan.
Manajemen mengatakan, portal berita HuffPost dan BuzzFeed akan membuka kesempatan kerja kepada sejumlah staf BuzzFeed News.
CEO Akui Kesalahan Mengelola BuzzFeed News
Peretti mengakui dia telah membuat keputusan yang salah dalam mengelola BuzzFeed News. Dia juga menyampaikan, mungkin tidak ada model bisnis yang berkelanjutan untuk konten berita online berkualitas tinggi.
Saya membuat keputusan untuk berinvestasi berlebihan di BuzzFeed News karena saya sangat menyukai pekerjaan dan misi mereka. Ini membuat saya lambat menerima kenyataan bahwa platform besar itu tidak akan memberikan dukungan distribusi konten atau keuangan yang diperlukan untuk mendukung jurnalisme premium yang dibuat khusus untuk media sosial.
- Jonah Peretti, CEO BuzzFeed -
BuzzFeed telah berjuang selama beberapa tahun terakhir untuk meningkatkan bisnis mereka. Perusahaan telah bereksperimen membuat artikel dengan bantuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), membuat kuis untuk membangun engagement, hingga membuat panduan perjalanan wisata untuk mengoptimalkan pencarian artikel di mesin Google.
Sebelumnya, BuzzFeed telah memangkas hampir 12 persen tenaga kerjanya, atau sekitar 180 staf, pada Desember 2022.
BuzzFeed News sendiri pernah menerima Pulitzer Price pada 2021 atas liputan investigasi mereka tentang penahanan ratusan ribu Muslim di kota Xinjiang, China. Pulitzer dianggap sebagai penghargaan prestisius dalam bidang jurnalisme di AS.
BuzzFeed terdaftar di bursa saham AS pada 2021 dan harga sahamnya hancur lebur sejak debut. Saham BuzzFeed pada awalnya dihargai 10 dolar AS per lembar saham, tetapi terus turun, bahkan saat ini di bawah 1 dolar AS.
