Kumparan Logo

Cara CEO NVIDIA Jensen Huang Pakai AI agar Dapat Jawaban Terbaik

kumparanTECHverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
CEO NVIDIA Jensen Huang menyampaikan pemaparan dalam acara diskusi pada Indonesia AI Day di Jakarta, Kamis (14/11/2024). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
CEO NVIDIA Jensen Huang menyampaikan pemaparan dalam acara diskusi pada Indonesia AI Day di Jakarta, Kamis (14/11/2024). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Salah satu pendiri dan CEO NVIDIA, Jensen Huang, sama seperti kita. Dia juga menggunakan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI).

Bedanya, Huang punya cara tersendiri dalam memanfaatkan AI. Ia memakai chatbot seperti seorang pasien berkonsultasi dengan banyak dokter.

Jensen Huang mengaku menghindari ketergantungan pada satu AI saja untuk menjawab pertanyaan. Sebaliknya, ia menggunakan beberapa chatbot dan meminta mereka untuk saling mengkritik jawaban masing-masing.

“Ketika Anda menerima jawaban dari AI, saya tidak akan menerimanya begitu saja. Biasanya, yang saya lakukan adalah bertanya ‘Apakah Anda yakin ini jawaban terbaik yang bisa Anda berikan?’” kata Huang, mengutip The Times of India.

Untuk membuktikannya, Huang melakukan perbandingan catatan artificial intelligence satu sama lain. Hal ini seperti mendengar beragam pendapat dari tiga dokter, sehingga pasien bisa menerima diagnosis terbaik.

Anda tahu, ini sama saja dengan mendapatkan tiga pendapat, tiga pendapat dokter. Saya juga melakukan hal yang sama. Saya menanyakan pertanyaan yang sama kepada beberapa AI. Dan saya meminta mereka untuk membandingkan catatan satu sama lain, lalu Anda tahu, berikan saya jawaban terbaik dari semuanya.

CEO Nvidia Jensen Huang berbicara saat konferensi pers di The MGM selama CES 2018 di Las Vegas pada 7 Januari 2018. Foto: Mandel Ngan / AFP

Ini bukan pertama kali Huang membahas pemanfaatan AI yang dilakukannya. Sebelumnya di Konferensi Global Milken Institute ke-28 pada Mei lalu, ia mengaku menggunakan chatbot sebagai tutor setiap hari.

“Di bidang yang relatif baru bagi saya, saya mungkin akan berkata, ‘Mulailah dengan menjelaskannya kepada saya seperti saya anak berusia 12 tahun,’ lalu tingkatkan hingga ke tingkat doktor seiring waktu,” ujar Huang.

Wawasan yang dimilikinya tentang kebiasaan AI muncul sebagai tanggapan atas pertanyaan tentang potensi dampak AI terhadap keterampilan kognitif. Hal ini sesuai dengan temuan studi MIT yang menunjukkan bahwa penggunaan alat seperti ChatGPT berdampak pada keterampilan kognitif.

Interaksi dengan AI, kata Huang, seperti sistem pertanyaan. Sehingga untuk merumuskan pertanyaan dengan baik harus berpikir analitis dan mempunyai nalar pada diri sendiri.

CEO Microsoft, Satya Nadella, juga menjadi salah satu orang selain Huang yang menggunakan AI untuk kesehariannya. Ia mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa ia menggunakan Microsoft Copilot untuk meringkas email-emailnya dan mempersiapkan rapat.

Reporter: Muhamad Ardiyansyah