Cara Unik China Terapkan Teknologi ke Manusia Demi Cegah Penularan Virus Corona

Pandemi virus corona COVID-19 telah menyebar di 198 negara dan menginfeksi hampir 500.000 orang di seluruh dunia. Di beberapa negara Asia, laju penyebaran virus ditekan dengan mengkombinasikan penapisan massal dan teknologi surveilans untuk melacak penyebaran virus.
Pemerintah China bekerja sama dengan anak perusahaan teknologi Alibaba, Ant Financial, mengembangkan aplikasi Alipay Health Code. Aplikasi ini pertama kali diluncurkan di Kota Hangzhou. Kini, Alipay Health Code telah dipakai di 200 kota di seluruh wilayah China.
Aplikasi ini digunakan sebagai “tiket” bagi warga yang mau melakukan aktivitas di luar rumah. Kalau tiket tidak keluar, maka warga tidak boleh keluar rumah.
Cara kerjanya, dengan mengirim QR Code berwarna ke para penggunanya. Tiap warna QR Code menunjukkan tingkat risiko infeksi virus corona COVID-19.
Warga China hanya diizinkan keluar dari rumah jika mendapat QR Code berwarna hijau. Jika QR Code yang diterima berwarna kuning, orang itu harus mengisolasi diri selama satu minggu di dalam rumah.
Sementara kode berwarna merah menunjukkan bahwa orang itu beresiko terpapar atau mempunyai gejala terinfeksi virus corona sehingga wajib mengkarantina diri selama dua minggu.
Pemerintah China maupun Ant Financial tidak menjelaskan secara detail cara kerja sistem ini. Namun, saat menggunakan aplikasi, para pengguna Alipay diwajibkan mengisi data diri secara detail, termasuk soal kondisi kesehatan, riwayat perjalanan, hingga kontak dengan pasien pengidap corona.
Selanjutnya, data itu diproses oleh sistem Alipay menggunakan perangkat big data untuk menentukan warna QR Code pengguna tersebut.
Namun, menurut laporan The New York Times, di dalam aplikasi itu terdapat program bernama “reportInfoAndLocationToPolice”. Program itu berfungsi mengidentifikasi data personal, lokasi, kota asal, dan nomor kode pengguna, dan memberikannya ke aparat keamanan.
Selain itu, warna QR Code juga ditentukan lewat data yang dimiliki pemerintah. Jika sistem ini melacak seseorang pernah berada dekat dengan pasien COVID-19 atau mengunjungi daerah rawan virus corona, maka sistem akan memberikan kode berwarna kuning atau merah.
Data pergerakan warga itu diperkirakan diperoleh dari data pemerintah China. Pemerintah merekam aktivitas pembelian tiket hingga perjalanan warga menggunakan transportasi publik seperti, pesawat, kereta api, dan bus. Sehingga, seorang warga yang pergi ke supermarket untuk membeli roti, dapat terlacak oleh pemerintah dan aparat penegak hukum.
Di beberapa titik keramaian seperti kawasan perkantoran, pusat perbelanjaan, stasiun maupun terminal aparat keamanan China akan memindai QR Code yang terdapat di telepon pintar milik warga sebelum mengizinkan mereka melanjutkan perjalanan. Selain itu, restoran, cafe, maupun pusat perbelanjaan hanya mengizinkan masuk warga dengan QR Code hijau.
Data pemindaian di setiap titik pemeriksaan akan dikirim ke server untuk melacak pergerakan warga dan menentukan warna QR Code mereka berikutnya.
Salah satu warga Hangzhou, Leon Lei mengatakan dia sempat mudik ke kota kelahirannya Anqing saat wabah corona merebak. Saat ingin kembali bekerja ke Hangzhou, dia diwajibkan untuk lebih dulu memakai aplikasi Alipay Health Code.
Saat pertama kali mendaftar, Lei mendapat kode berwarna hijau. Namun, sehari sebelum keberangkatan ke Hangzhou kode miliknya berubah menjadi merah. Lei menduga, kode merah disebabkan karena dirinya berasal dari Anqing yang bertetangga dengan Provinsi Hubei, episentrum wabah corona.
“Kita tidak pernah tahu bagaimana kode ini berubah warnanya. Ketika saya mendapat kode kuning atau merah, padahal saya tidak sakit, saya tidak tahu bagaimana bisa mengubahnya menjadi hijau,” ujarnya seperti dikutip dari The New York Times.
Per Februari lalu, otoritas di Provinsi Zhejiang mengatakan, aplikasi Alipay Health Code telah dipakai lebih dari 90 persen populasi. Dari semua pengguna, 98,2 persen mendapat kode berwarna hijau. Sementara hampir satu juta orang mendapat kode berwarna kuning atau merah.
Teknologi surveilans untuk melacak sebaran corona ini dikritik salah satunya oleh Peter Daszak, presiden EcoHealth Alliance, lembaga penelitian penyakit infeksi di New York, Amerika Serikat. Menurutnya, sistem teknologi yang berbasis pelaporan mandiri berpotensi tidak akurat.
“Sebab, banyak orang tidak mau mendapat stigma sebagai pasien atau orang yang membawa virus COVID-19,” ujarnya seperti diberitakan The Wall Street Journal.
Namun pemerintah China mengklaim bisa melacak jika ada warga yang berbohong ketika mengisi data kondisi kesehatan mereka. Pemerintah mengklaim dapat memverifikasi data pelaporan mandiri itu dengan data milik mereka. Bagi siapapun yang kedapatan berbohong, pemerintah China akan memberi QR Code merah yang membuat orang itu tidak dapat keluar dari rumah.
Korea Selatan
Selain China, negara lain yang sukses memanfaatkan teknologi untuk melacak dan mengisolasi pasien corona adalah Korea Selatan. Tapi, di Korea Selatan penggunaan teknologi dikombinasikan dengan penapisan secara massif dengan cara melakukan tes kesehatan untuk mendeteksi virus corona SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19.
Korea Selatan telah melakukan penapisan ke lebih dari 300 ribu warganya. Selain itu, mereka juga menggunakan teknologi pelacakan untuk menekan laju penyebaran virus.
Tes massal sangat penting sebagai cara deteksi dini. Itu adalah kunci dari keberhasilan kami menekan angka kematian dan penyebaran. Dengan cara itu, kami dapat meminimalisir penyebaran dan memberikan perawatan kesehatan secara cepat ke penderita corona,” kata Kang Kyung-wha, Menteri Luar Negeri Korea Selatan, dilansir BBC.
The Conversation melaporkan, pemerintah Korea Selatan menggunakan beberapa data untuk melacak pergerakan warga mereka. Pertama, data transaksi menggunakan kartu kredit dan debit. Proporsi penggunaan kartu kredit dan debit di Korea Selatan merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Kedua, menggunakan data pergerakan lokasi yang berasal dari telepon seluler. Di Korea Selatan tiap pengguna telepon seluler wajib mendaftarkan diri menggunakan identitas asli dan nomor kependudukan. Selain itu, Korea Selatan mempunyai sekitar 860 ribu transceivers yang membuat titik lokasi yang dikirim lewat telepon akurat.
Ketiga, Korea Selatan mempunyai sekitar 8 juta kamera CCTV. Kombinasi dari penggunaan tiga teknologi ini memungkinkan otoritas kesehatan Korea Selatan bekerja cepat melacak warga yang memiliki kontak dengan pasien positif COVID-19.
Ketika menemukan pasien baru, data pergerakan si pasien akan dibandingkan dengan data pasien lain yang sudah lebih dulu terinfeksi. Dengan cara itu, otoritas kesehatan dapat melacak dengan tepat di mana, kapan, dan siapa yang menulari pasien baru itu.
Sebaliknya jika data pasien baru tidak sesuai dengan pasien lain, itu berarti ada penderita COVID-19 yang tidak terlacak atau tidak memiliki gejala.
Bila menemukan kasus seperti itu, otoritas kesehatan akan melacak riwayat kontak pasien baru itu menggunakan tiga teknologi yang disebutkan di atas. Riwayat kontak dan perjalanan penderita corona dilacak lewat data transaksi bank, telepon seluler, dan kamera CCTV. Selanjutnya, orang-orang yang diketahui berkontak dengan pasien akan menjalani penapisan dan isolasi.
Hasil pelacakan dipublikasikan ke publik lewat situs pemerintah, aplikasi telepon pintar, dan pesan singkat. Publik akan mendapat informasi detail tempat-tempat mana saja yang pernah dikunjungi pasien positif COVID-19.
Informasi itu akan terus diperbaharui dalam hitungan jam atau bahkan menit, selama terdapat kasus baru yang diidentifikasi. Dengan begitu, publik dapat menghindari atau melakukan langkah antisipasi bila berada di lokasi tersebut.
Warga yang punya riwayat kontak atau perjalanan yang sama dengan penderita corona diwajibkan mengikuti penapisan. Setelah itu, dia wajib mengisolasi diri dan mengunduh aplikasi karantina pemerintah.
Aplikasi itu dapat melacak pergerakan warga yang diisolasi. Bila saat isolasi meninggalkan rumah, orang itu akan dikenakan denda hingga USD 2.500 atau sekitar Rp 40 juta.
Singapura
Negara lain yang menggunakan teknologi untuk menekan penyebaran corona adalah Singapura. Pemerintah Singapura meluncurkan aplikasi Trace Together pada Jumat pekan lalu (20/3).
Trace Together dapat melacak riwayat kontak pengguna dengan orang yang terinfeksi COVID-19. Aplikasi ini menggunakan teknologi Bluetooth dan efektif digunakan jika dipakai oleh banyak orang. Di Singapura, aplikasi ini telah diunduh setidaknya 620.000 orang.
Para pengguna aplikasi yang sedang berdekatan akan saling mengirimkan identitas anonim yang sudah terenkripsi ke dalam telepon pintar mereka. Hal itu dilakukan untuk merekam informasi waktu, durasi, hingga lokasi kontak sesama pengguna aplikasi.
Jika salah satu pengguna aplikasi positif terjangkit COVID-19, otoritas kesehatan akan mengambil data di aplikasi itu. Dengan cara itu mereka dapat melacak dengan siapapun yang pernah berkontak dekat dengan pasien untuk diisolasi. Dengan begitu penyebaran virus dapat dikendalikan.
