China Tuduh Nvidia Langgar UU Anti-Monopoli, Perang Dagang AS Makin Panas

Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar China (SAMR) menemukan dugaan pelanggaran Undang-Undang Anti-monopoli yang dilakukan oleh raksasa teknologi Nvidia. Hal ini menambah eskalasi terbaru dalam perang dagang antara China dengan Amerika Serikat.
Pernyataan dari regulator pasar China itu dibuat setelah penyelidikan awal terhadap praktik bisnis Nvidia, dan muncul saat kedua negara tersebut mengadakan pembicaraan dagang di Madrid.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menyatakan pengumuman dari Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar China sebagai "waktu yang buruk". Eskalasi kedua negara selama enam bulan terakhir meningkat sejak Presiden AS mengenakan tarif besar-besaran kepada China.
"Ini peringatan bahwa jika paradigma pengendalian ekspor AS beroperasi dengan cara yang sama seperti beberapa tahun terakhir, akan ada konsekuensinya, dan China bersedia merugikan perusahaan-perusahaan AS," kata Zhengyuan Bo, mitra di perusahaan riset Plenum, dilansir Reuters.
Dugaan awal SAMR kemungkinan merupakan balasan atas keputusan pemerintahan Trump yang telah memasukkan 23 perusahaan China ke dalam daftar hitam, perdagangan AS. Hal ini bisa menambah ketidakpastian bagi bisnis Nvidia di China.
Huang mengunjungi China tiga kali tahun ini untuk menunjukkan komitmennya terhadap pasar China. Menjual teknologi AI ke negara tersebut merupakan kunci ambisi Amerika Serikat untuk menjadi pemimpin dalam bisnis ini.
Kendati demikian, Nvidia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya akan mematuhi hukum dan terus bekerja sama dengan semua lembaga pemerintah terkait saat mereka mengevaluasi dampak kontrol ekspor terhadap persaingan di pasar komersial.
Pernyataan dari SAMR tak merinci seperti apa Nvidia melanggar UU Anti-monopoli China. Nvidia berhadapan dengan denda antara 1% dan 10% dari penjualan tahunan mereka dari tahun sebelumnya jika terbukti melakukan praktik monopoli.
Lima tahun lalu, China telah menyetujui kesepakatan Nvidia untuk membeli Mellanox Technologies dengan syarat Nvidia akan terus memasok chip GPU berteknologi tinggi ke pasar China.
Namun, perusahaan tersebut terpaksa menghentikan penjualan chip tercanggihnya karena kontrol ekspor yang diterapkan oleh pemerintahan AS. Mellanox membuat peralatan jaringan berkecepatan tinggi untuk pusat data dan Nvidia menggabungkannya dengan chip-nya untuk menawarkan komputasi awan yang canggih.
"Kekhawatiran sebenarnya adalah potensi China untuk memberlakukan langkah-langkah baru yang membatasi kemampuan Nvidia dalam menjual solusi jaringan kepada pelanggan China," ujar Ray Wang, kepala analis semikonduktor di Futurum Group.
Lian Jye Su, kepala analis di konsultan Omdia mengatakan Nvidia mungkin diharuskan menjual chip di China tanpa disertai teknologi Mellanox. Meski begitu, keputusan yang tidak menguntungkan Nvidia dalam penyelidikan anti-monopoli tidak mungkin mempengaruhi laba bersih perusahaan.
Reporter: Muhamad Ardiyansyah
