Kumparan Logo

Dari Papua ke Pasar Global: Telkomsel DCE Buktikan AI Jadi Teman UKM Naik Kelas

kumparanTECHverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pelaku UKM terbaik Telkomsel DCE 2026 menerima penghargaan di Bandung, 2 Juli 2026. Foto: Telkomsel
zoom-in-whitePerbesar
Pelaku UKM terbaik Telkomsel DCE 2026 menerima penghargaan di Bandung, 2 Juli 2026. Foto: Telkomsel

Di atas panggung DCE Academy & Summit 2026, Dian Lestari berdiri mewakili brand-nya, Ruma Papua. Perempuan asal Jayapura ini memproduksi minuman teh probiotik berbahan baku lokal Papua, rendah gula, bernilai kesehatan, dan diproduksi bersama perempuan Papua sebagai mitra usaha. Apa yang dia kerjakan itu membawanya dapat penghargaan Best of the Best DCE 2026 sekaligus UKM Terbaik DCE 2026 Terbaik Kategori F&B.

Dian adalah satu dari 12 finalis pelaku UKM yang mendapatkan pendampingan pemanfaatan teknologi AI dalam program Digital Creative Entrepreneurs (DCE) 2026 yang diselenggarakan Telkomsel.

"Sejak hari pertama mengikuti DCE, kami mendapatkan pendampingan yang sangat membantu untuk melihat bisnis dengan lebih strategis," kata Dian Lestari. "DCE memberi kami ruang untuk bertumbuh lebih percaya diri."

Ruma Papua dari Jayapura yang bisa memenangkan penghargaan tertinggi DCE 2026 menjadi penting, tentang bagaimana pendampingan yang tepat, dan teknologi AI yang dijelaskan dalam bahasa yang bisa dipahami bisa mendukung produk lokal yang kuat menjadi bisnis yang siap bersaing jauh melampaui batas wilayahnya.

Inilah cerita yang sesungguhnya ingin diceritakan oleh Telkomsel lewat program CSR Digital Creative Entrepreneurs (DCE) Academy & Summit 2026.

DCE merupakan program kurasi ketat yang mendapatkan perhatian publik, karena ada 2.900 pendaftar UKM dari penjuru Indonesia yang registrasi, lalu diseleksi menjadi 500 peserta untuk sesi onboarding, sebelum akhirnya diperketat menjadi 12 UKM terbaik yang lolos ke DCE Academy & Summit 2026 di Bandung, 2 Juli 2026.

Sebanyak 12 pelaku usaha ini mewakili empat kategori: Fashion, Food & Beverages, Craft, dan Personal Care. Mereka berasal dari Jawa Barat, Jawa Timur, D.I. Yogyakarta, Bali, Sumatera Utara, Papua, DKI Jakarta, dan wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Tema yang diusung tahun ini adalah: "AI-Enabled SMEs Growth: How Locals Go Global" untuk membuktikan bahwa kecerdasan buatan bukan hanya milik perusahaan teknologi besar, melainkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan oleh penjual baso aci dari Garut, pembuat batik dari Sleman, atau produsen kolagen dari Probolinggo.

Event Telkomsel DCE Academy & Summit 2026 di Bandung, 2 Juli 2026. Foto: Telkomsel

12 UKM, 12 Kisah yang Mewakili Kekuatan Indonesia

Yang membuat program ini terasa berbeda dari banyak program pendampingan UKM lainnya adalah keberagaman nyata dari para pesertanya, yang mencerminkan realita bisnis lokal Indonesia yang sesungguhnya.

Di kategori Fashion, ada Guru Batik dari Sleman, Yogyakarta, yang mengembangkan batik kontemporer dengan filosofi unik: setiap motif adalah narasi visual yang merekam pengetahuan dan nilai budaya, dengan tagline "batik ketika dibalik menjadi kitab." Di kategori yang sama, ada LAF Project dari Cibaduyut, Bandung, brand alas kaki yang sudah menembus pasar Asia Tenggara, dan Astagunaku dari Blitar yang mengolah kain batik cap dan jumputan menjadi produk fesyen ramah lingkungan.

Di kategori Food & Beverages, selain Ruma Papua yang memenangkan penghargaan tertinggi, ada Rangu Pisan dari Garut yang membawa baso aci khas Sunda ke pasar nasional dalam kemasan modern, dan Coffest Roastery dari Pematang Siantar —brand kopi yang lahir dari kebutuhan personal sang pendirinya yang menderita GERD dan kesulitan menemukan kopi yang aman.

Kategori Craft menghadirkan Sugar Souvenir dari Bandung —meraih Best Craft— yang memproduksi suvenir fungsional dari limbah plastik daur ulang, Play and Replay dari Sidoarjo dengan mainan kayu aman dan estetis yang diproduksi bersama ibu rumah tangga setempat, serta Redivivus dari Bali yang mengubah gabus botol anggur bekas menjadi aksesori tangan.

Di Personal Care, Shaany Collagen dari Probolinggo meraih Best Personal Care dengan inovasi mengolah limbah sisik ikan menjadi kolagen murni berkualitas tinggi — sekaligus memberdayakan ibu rumah tangga dari keluarga pra-sejahtera sebagai bagian dari model social enterprise-nya. Ada pula TallowNara dari Bogor yang membuat moisturizer dan sabun cair dari lemak sapi halal dan organik, serta Cultivia dari Jakarta yang menghasilkan essential oil dan aromaterapi dari tanaman rempah yang ditanam di lahan eks-tambang kaolin di Belitung.

Para peserta dari 12 UKM finalis Telkomsel DCE Academy & Summit 2026 di Bandung, 2 Juli 2026. Foto: Telkomsel

Abdullah Fahmi, VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel, menjelaskan apa yang sesungguhnya ingin dicapai perusahaan melalui program ini. "Melalui DCE Academy & Summit 2026, Telkomsel ingin memastikan teknologi, termasuk AI, dapat dipahami dan dimanfaatkan secara relevan oleh pelaku UKM," katanya. "Bagi kami, inovasi digital bukan hanya tentang teknologi yang semakin maju, tetapi tentang bagaimana teknologi tersebut membantu pelaku usaha mengambil keputusan lebih baik, menjangkau pelanggan lebih luas, dan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat."

Abdullah Fahmi, VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel. Foto: Telkomsel

DCE membekali pesertanya dengan kurikulum praktis yang mencakup tren pasar dan pengembangan produk, akses pendanaan, branding dan digital marketing, networking, leadership, hingga pemanfaatan kanal digital seperti live shopping.

Di puncak acara, para finalis juga menjalani sesi pitching langsung di hadapan juri, bazaar UKM, dan sesi networking dengan pelaku ekosistem kreatif dan bisnis.

Sejak DCE pertama kali dijalankan pada 2021 hingga 2026, program ini secara kumulatif telah menerima lebih dari 12.800 pendaftar UKM, mendampingi lebih dari 1.180 alumni, mencetak 22 alumni terbaik, menghadirkan ratusan sesi webinar dan mentoring bersama ratusan pakar, serta menyalurkan dukungan dana hibah miliaran Rupiah.

Bukan angka yang kecil untuk sebuah program CSR. Dan yang lebih penting, beberapa alumni DCE terbukti berhasil memperluas pasar, meningkatkan omzet dan kapasitas produksi, serta memperkuat model bisnis berbasis dampak sosial dan lingkungan.

UKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Ia menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto dan menyerap mayoritas tenaga kerja nasional. Namun, secara historis, mereka adalah kelompok yang paling lambat mengadopsi teknologi baru, bukan karena tidak mau, tapi karena tidak ada yang mendampingi proses adaptasinya.

Program seperti Telkomsel DCE mencoba menjembatani jarak itu, dengan membangun kapasitas pemahaman —bagaimana membaca data penjualan, bagaimana memanfaatkan algoritma media sosial, bagaimana memutuskan kapan dan di mana AI benar-benar membantu bisnis.