Deepfake Kini Makin Realistis: Punya Denyut Nadi, Makin Susah Dideteksi
·waktu baca 3 menit

Deepfake makin mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir, dan di masa depan, tidak menutup kemungkinan teknologi rekayasa AI ini makin sempurna sehingga sulit untuk dideteksi kepalsuannya.
Deepfake sendiri dibuat dengan memanipulasi video dan audio menggunakan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mendalam. Deepfake mengubah ekspresi wajah dan gestur melalui metode yang halus. Terkadang, deepfake digunakan untuk bersenang-senang, seperti membuat diri terlihat seperti binatang, atau menunjukkan seperti apa penampilan kita saat dewasa hingga tua.
Namun, teknologi deepfake juga sering digunakan para penjahat untuk membuat video palsu dengan tujuan tertentu, seperti memfitnah atau menjebak seseorang. Dan sebuah studi baru yang terbit di Frontiers In Imaging mengungkapkan bahwa tanda-tanda awal skenario mimpi buruk ini menjadi kenyataan sudah mulai terlihat karena metode pembuatan deepfake makin sulit dideteksi.
“Di sini kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa video deepfake berkualitas tinggi dapat menampilkan detak jantung yang realistis dan perubahan kecil pada warna wajah, yang membuatnya jauh lebih sulit untuk dideteksi,” papar Peter Eisert, profesor di Humboldt University of Berlin dalam sebuah pernyataan seperti dikutip IFL Science.
Setiap orang memiliki denyut nadi. Denyut nadi merupakan tanda vital yang telah digunakan di dunia medis selama berabad-abad untuk memeriksa kesehatan seseorang, atau memastikan orang masih hidup atau tidak.
Sementara analisis transmisi cahaya melalui kulit dan pembuluh darah telah menjadi adaptasi modern dari prinsip ini dan merupakan alat medis yang penting, misalnya oksimetri denyut nadi, sebuah perangkat yang mudah dipasang untuk mengukur kadar oksigen dalam darah dan denyut nadi.
Lebih jauh lagi, apa yang disebut remote photoplethysmography (rPPP) yang merupakan metode telehealhtcare menggunakan webcam untuk memperkirakan tanda-tanda vital dari jarak jauh. rPPP ini memiliki manfaat perawatan kesehatan, dan juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi deepfake.
Studi sebelumnya dengan menggunakan detektor deepfake berbasis rPPP menunjukkan alat tersebut mampu membedakan antara video asli dan deepfake dengan baik, sehingga membuat orang-orang percaya deepfake belum mampu meniru detak jantung. Namun tampaknya keyakinan ini sudah usang.
Bermain dengan Deepfake
Eisert dan rekannya mencoba bermain-main dengan Deepfake. Mereka menciptakan detektor deepfake canggih yang secara otomatis dapat mengekstrak dan menilai denyut nadi dari video, hanya memerlukan video berdurasi 10 detik dari wajah satu orang agar bisa berfungsi. Sistem berkode ini menggunakan metode baru untuk mengimbangi gerakan dan menghilangkan noise dari video.
Tim juga membuat kumpulan data video mengemudi yang digunakan untuk membuat deepfake berbagai identitas dengan gerakan wajah pada video yang direkam. Selama perekaman, detak jantung subjek dilacak menggunakan elektrokardiogram (EKG). Hal ini memberi tim ukuran yang bisa digunakan untuk menguji akurasi rPPP.
Tim kemudian menguji rPPP pada dua koleksi video lama orang sungguhan. Hasilnya menunjukkan bahwa rPPP dapat mengekstrak sinyal detak jantung dari semua video asli. Namun, bagaimana dengan deepfake?
Nah, tim menggunakan metode deepfake terbaru untuk menukar wajah di antara video asli dalam koleksi mereka. Dan seperti dugaan, rPPP juga mendeteksi denyut nadi dalam deepfake ini. Yang mengkhawatirkan, denyut nadi palsu ini juga sering kali tampak sangat realistis.
"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa detak jantung yang nyata dapat ditambahkan oleh penyerang dengan sengaja, tetapi juga dapat 'diwarisi' secara tidak sengaja dari video asli yang sedang mengemudi. Variasi kecil pada warna kulit orang asli ditransfer ke deepfake bersama dengan gerakan wajah, sehingga denyut nadi asli direplikasi dalam video palsu," tambah Eisert.
Jadi, apakah kita sudah kalah karena deepfake? Mungkin belum.
“Eksperimen kami menunjukkan bahwa deepfake saat ini mungkin menunjukkan detak jantung yang realistis, tetapi tidak menunjukkan variasi aliran darah yang realistis secara fisiologis melintasi ruang dan waktu di dalam wajah,” jelas Eisert. “Kami menyarankan agar kelemahan deepfake canggih ini dimanfaatkan oleh detektor deepfake generasi berikutnya."
