Kumparan Logo

Diakuisisi Starman, GoPro Bidik Sektor Pertahanan dan Antariksa

kumparanTECHverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gopro Hero 8 Black. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Gopro Hero 8 Black. Foto: Shutter Stock

GoPro, perusahaan yang selama ini dikenal sebagai produsen kamera aksi, sepakat melakukan merger dengan Starman Optical, perusahaan teknologi optik-fotonik milik Starman Holding. Kesepakatan tersebut bernilai sekitar US$285 juta atau sekitar Rp 5 triliun itu diproyeksikan mengubah arah bisnis GoPro ke pasar infrastruktur kecerdasan buatan (AI), pemerintahan, pertahanan, robotika, dan kedirgantaraan.

Namun, transaksi tersebut belum rampung. GoPro dan Starman Optical baru menandatangani perjanjian merger definitif pada 1 September 2026. Transaksi masih menunggu persetujuan pemegang saham GoPro serta regulator dan ditargetkan selesai pada akhir 2026.

Berdasarkan kesepakatan, pemegang saham GoPro akan menerima pembayaran tunai sekitar US$1,14 per saham dengan nilai agregat US$285 juta. Setelah transaksi selesai, pemegang saham GoPro saat ini akan mempertahankan sekitar 10 persen kepemilikan di perusahaan gabungan.

GoPro Perluas Bisnis ke AI dan Pertahanan

Merger dengan Starman Optical menandai perubahan strategis bagi GoPro. Setelah transaksi selesai, perusahaan akan menggabungkan teknologi pencitraan dan optik GoPro dengan teknologi optical transceiver milik Starman.

Optical transceiver merupakan perangkat yang mengubah data menjadi sinyal cahaya dan sebaliknya untuk memungkinkan transmisi data berkecepatan tinggi melalui jaringan serat optik. Teknologi tersebut semakin penting seiring pertumbuhan kebutuhan infrastruktur pusat data AI.

Dalam pengumuman resmi, GoPro menyatakan perusahaan gabungan akan memanfaatkan kemampuan optik, pencitraan, dan portofolio kekayaan intelektualnya untuk memasuki pasar komersial sekaligus memperluas bisnis ke sektor pemerintahan, pertahanan, robotika, dan kedirgantaraan.

GoPro menyebut perusahaan telah mengembangkan teknologi pencitraan dan optik selama lebih dari dua dekade serta memiliki lebih dari 2.500 paten AS.

Pendiri sekaligus CEO GoPro, Nicholas Woodman, mengatakan merger tersebut diharapkan dapat menjadikan perusahaan sebagai penyedia solusi pencitraan dan optik asal Amerika Serikat yang melayani pasar konsumen, komersial, dan pertahanan.

Sementara itu, CEO Starman Holding Charles Tebele mengatakan kombinasi keahlian optik dan kekayaan intelektual GoPro dengan teknologi transceiver Starman serta kemampuan manufaktur di AS akan membuka peluang untuk membawa kembali produksi komponen strategis ke Amerika Serikat.

Bukan Kali Pertama GoPro Menjajaki Sektor Pertahanan

Perubahan arah bisnis ini sebenarnya sudah mulai terlihat beberapa bulan sebelum kesepakatan merger diumumkan.

Pada April 2026, GoPro mengumumkan rencana untuk menjajaki peluang bisnis di sektor pertahanan dan kedirgantaraan. Perusahaan menggandeng firma konsultan Oliver Wyman untuk mengidentifikasi penggunaan teknologi GoPro di sektor tersebut, termasuk menganalisis segmen pasar, potensi sinergi teknologi, kemitraan, dan strategi masuk pasar.

Paul Reichert, salah satu pelatih fotografi yang melatih kru NASA Artemis II untuk mengambil foto bulan menunjukkan kamera aksi GoPro yang dibawa ke dalam pesawat di Pusat Antariksa NASA Lyndon B. Johnson di Houston, Texas, AS, 14 April 2026. Foto: Danielle Villasana/REUTERS

GoPro mengatakan kameranya telah digunakan dalam berbagai aplikasi pertahanan, pemerintahan, dan kedirgantaraan. Salah satu penggunaan terbaru adalah pada misi Artemis II, ketika kamera GoPro dipasang pada bagian luar pesawat ruang angkasa Orion dan digunakan untuk dokumentasi di dalam wahana.

Setelah pengumuman tersebut, GoPro menerima sejumlah pertanyaan terkait peluang merger dan akuisisi. Pada Mei, dewan direksi kemudian memulai proses strategis untuk mengevaluasi berbagai opsi, termasuk kemungkinan penjualan atau merger perusahaan.

Kondisi Keuangan Mendorong Perubahan Strategi

Merger ini juga terjadi setelah GoPro menghadapi tekanan finansial selama beberapa tahun.

Perusahaan mengalami penurunan kinerja bisnis dan pada 2026 mengungkapkan keraguan mengenai kemampuannya untuk mempertahankan kelangsungan usaha tanpa tambahan pendanaan. GoPro juga memiliki utang sekitar US$92 juta yang akan dilunasi melalui transaksi dengan Starman.

Laporan Reuters menyebut GoPro menghadapi tekanan dari kenaikan harga chip memori serta persaingan ketat dengan produsen kamera asal China seperti DJI dan Insta360. Pendapatan perusahaan juga terus mengalami tekanan setelah sebelumnya mencapai puncak kesuksesan sebagai produsen kamera aksi.

Karena itu, ekspansi ke sektor AI, pertahanan, dan pasar komersial menjadi bagian dari upaya GoPro untuk mencari sumber pertumbuhan baru sekaligus memanfaatkan aset teknologi yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun.