Diduga Bikin Remaja Bunuh Diri, Facebook dan Snapchat Digugat
·waktu baca 2 menit

Facebook dan Snapchat digugat usai diduga jadi penyebab seorang remaja meninggal bunuh diri. Dalam gugatan federal yang diajukan di Wisconsin, Amerika Serikat (AS), Donna Dawley menuduh kedua platform media sosial tersebut bertanggung jawab pada penurunan kesehatan mental putranya.
Dawley bercerita jika anaknya yang bernama Christopher menunjukkan kecanduan parah pada Facebook, Instagram, dan Snapchat pada tahun 2014, menghabiskan berjam-jam setiap hari dan sepanjang malam “tersedot” oleh smartphone-nya. Melansir Business Insider, Christoper juga jadi terobsesi dengan citra tubuhnya dan sering ditemukan menggunakan Instagram pada pukul 3 pagi.
Akibat hal ini, ia bunuh diri pada tahun 2015, ketika usianya 17 tahun. Bahkan saat tubuh Christoper ditemukan saudara perempuannya, ia masih memegangi smartphone miliknya.
Dawley diwakili oleh Social Media Victims Law Center (SMVLC) atau Pusat Hukum Korban Media Sosial mengatakan dalam gugatan bahwa kedua platform tersebut telah “sadar akan sifat adiktif dari produk mereka dan gagal melindungi anak di bawah umur atas nama lebih banyak klik dan pendapatan tambahan.”
Setiap produk terdakwa mengandung fitur produk unik yang dimaksudkan untuk mendorong kecanduan dan konten yang melanggar hukum dan penggunaan produk tersebut, sehingga merugikan pengguna di bawah umur terdakwa.
- Donna Dawley, dalam pengaduan -
Fitur pendorong yang dimaksudkan Dawley adalah hadiah dan piala untuk pengguna jika aktif menggunakan aplikasi. Demikian juga fitur likes dan followers di Facebook dan Instagram.
Tuduhan ini tentunya dibantah. Menurut seorang juru bicara Snapchat, aplikasi foto dan pesan tersebut dibangun untuk menjadi platform agar orang-orang saling terhubung dengan teman-teman mereka.
“Tidak ada yang lebih penting daripada keamanan dan kesejahteraan komunitas kami dan kami terus mencari cara tambahan untuk mendukung Snapchatter,” kata juru bicara Snapchat.
Gugatan itu muncul beberapa bulan setelah seorang whistleblower, Frances Haugen, memberikan informasi kepada pers, kemudian ke Kongres, tentang studi internal di Facebook dan Instagram yang menemukan bahwa aplikasi tersebut berdampak negatif pada kesehatan mental remaja.
Setelah pengungkapan Haugen, politisi di AS dan Inggris berbondong mengusulkan Undang-Undang yang diarahkan untuk mengatur perusahaan media sosial seperti Facebook.
