Donald Trump Larang Rombongan Air Force One Bawa Pulang Barang dari China
·waktu baca 2 menit

Presiden AS Donald Trump dan delegasi pejabat Amerika Serikat meninggalkan Beijing pada Jumat (15/4) setelah menjalani dua hari pembicaraan tingkat tinggi dengan pemerintah China yang dipimpin Presiden Xi Jinping.
Sebelum menaiki Air Force One, staf Gedung Putih dan para jurnalis diwajibkan menyerahkan berbagai barang yang mereka dapatkan selama perjalanan, termasuk ponsel burner milik staf, lencana identitas, hingga pin jas yang diberikan pihak China.
Barang-barang tersebut dibuang ke sebuah tempat sampah di bawah tangga pesawat Air Force One, menurut laporan seorang jurnalis yang tergabung dalam rombongan pers Gedung Putih, sebagaimana dikutip TechCrunch.
“Tidak ada barang dari China yang diizinkan masuk ke pesawat,” tulis koresponden Gedung Putih New York Post, Emily Goodin, dalam unggahannya di X.
Foto-foto selama kunjungan memperlihatkan sejumlah anggota delegasi pemerintah AS, termasuk Trump, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung, CEO Apple Tim Cook, CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk, CEO Nvidia Jensen Huang, hingga agen Secret Service mengenakan pin di bagian kerah jas mereka.
Goodin tidak menjelaskan alasan para pejabat dan wartawan diwajibkan membuang barang-barang tersebut. Namun, langkah itu diduga dilakukan demi alasan keamanan.
Meski pertemuan puncak berlangsung dalam suasana yang terlihat hangat, China tetap dianggap sebagai salah satu rival utama Amerika Serikat karena kemampuan intelijen dan spionasenya yang sangat maju. AS dan sekutunya juga sudah lama menuding China melakukan kegiatan mata-mata dan serangan siber.
Karena itu, bukan hal yang mustahil jika sejumlah barang pemberian tersebut diduga berpotensi telah disusupi alat penyadap, seperti praktik yang pernah dilakukan sejumlah pemerintah di masa lalu. Selain itu, ponsel burner yang digunakan selama perjalanan juga diduga menjadi target pengintaian.
Ponsel burner sendiri merupakan perangkat khusus yang sengaja digunakan untuk perjalanan berisiko tinggi. Ponsel itu biasanya dipakai sementara di lokasi yang dianggap rawan serangan siber, lalu dibuang setelah perjalanan selesai.
