Elon Musk: Kecerdasan Buatan Bisa Ciptakan 'Diktator Abadi'

Pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus menuai pro dan kontra di kalangan kalangan petinggi perusahaan teknologi. Ada yang mendukung pemanfaatan besar-besaran AI, tapi tidak sedikit juga yang khawatir jika AI bisa memberikan dampak buruk.
Bos SpaceX dan Tesla, Elon Musk, menjadi salah satu sosok yang terang-terangan mengkhawatirkan pengembangan AI yang tidak terkendali.
Dalam sebuah video dokumenter terbaru yang berjudul "Do You Trust This Computer?", Musk menyebut bahwa dengan menciptakan AI, sama saja manusia menciptakan 'diktator abadi'.
"Pada akhirnya ketika muncul diktator jahat, manusia akan mati. Tapi bagi AI, tidak akan ada kematian. Mereka akan hidup selamanya. Dan kalian semua akan menghadapi 'diktator abadi' dan kalian tidak bisa kabur," kata Musk, dilansir CNBC.

Dalam dokumenter yang dibuat oleh seorang sutradara yang juga membuat "Who Killed The Electric Car?" pada tahun 2006, Chris Paine, sang sutradara ingin mengeksplorasi berbagai macam bahaya kecedasan buatan seperti senjata otonom, teknologi Wall Street, dan algoritma yang mendorong munculnya berita palsu.
Musk juga mengaitkan bahaya teknologi kecerdasan buatan IBM, bernama Deep Blue, yang berhasil mengalahkan atlet catur legendaris di tahun 1997, Garry Kasparov, saat bertanding catur. Ia menilai bahwa sistem tersebut sangat pintar hingga ia bisa menang kapanpun ia mau.
Musk mengatakan bahwa AI tak harus jadi jahat untuk menghancurkan peradaban manusia. Ketika mereka dibuat untuk suatu tujuan, mereka bisa menghancurkan apapun yang mungkin menghalangi mereka untuk tujuan tersebut, sekalipun itu peradaban manusia.
"Jika AI memiliki tujuan dan peradaban manusia terjadi sebagaimana seharusnya, mereka bisa saja menghancurkan manusia jika itu adalah masalah tanpa berpikir panjang. Tanpa keberatan," kata Musk.

Sebelumnya, Musk juga pernah mengingatkan bahwa AI mungkin saja bisa memulai Perang Dunia III. Bahkan Musk mengatakan tahun lalu dampak AI lebih berbahaya daripada Korea Utara.
Musk percaya bahwa manusia harus mengendalikan teknologi AI untuk menghindari risiko yang tidak terkendali, seperti melenyapkan pekerjaan manusia.
