Gaji Enggak Dibayar, Buruh Pabrik iPhone di India Ngamuk

Ribuan buruh Wistron Infocomm Manufacturing, pabrik yang membuat iPhone untuk Apple, di Bengaluru, India, mengamuk dalam demonstrasi yang berlangsung akhir pekan lalu. Mereka mengamuk dan menggeledah perusahaan karena penundaan pembayaran gaji dan upah lembur.
Menurut laporan The Hindu, para pekerja pabrik mengaku tidak menerima gaji atau upah lembur selama tiga atau empat bulan. Sebuah sumber mengatakan protes dimulai tak lama setelah shift kerja mereka berakhir, namun berubah menjadi kericuhan pada pukul 6 pagi pada hari Sabtu (12/12).
Dalam sejumlah video yang viral di Twitter, para pekerja merusak properti perusahaan, termasuk furnitur, kipas angin, lampu, dan televisi. Mereka juga membakar mobil yang diparkir di lokasi pabrik.
"Situasi terkendali sekarang. Kami telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki insiden itu," kata polisi setempat kepada AFP, Minggu (13/12).
Tidak ada korban luka dalam insiden ini. Petugas juga telah menahan 100 orang yang terlibat kericuhan.
Wistron Infocomm Manufacturing sendiri adalah pabrik milik perusahaan asal Taiwan bernama Wistron Corporation. Perusahaan ini memiliki sekitar 15.000 karyawan, tapi hanya 1.400 dari mereka yang benar-benar aktif. Sisanya adalah pekerja kontrak yang ditempatkan melalui lima perusahaan outsourcing.
Menurut laporan The Hindu, perusahaan awalnya mengoperasikan tiga shift dengan durasi masing-masing delapan jam. Namun, saat ini mereka hanya punya dua shift dengan durasi masing-masing 12 jam. Itu artinya setiap karyawan dipaksa bekerja lembur empat jam setiap hari.
Menurut para karyawan, kebanyakan dari mereka digaji sekitar 13.000 rupee (Rp 2,5 juta) hingga 15.000 rupee (Rp 2,9 juta). Seorang pekerja anonim mengatakan kepada The Hindu kalau tidak ada yang "mendengar kesengsaraan" para pekerja.
"Selain gaji tidak dibayarkan, kami juga menghadapi masalah pemotongan gaji. Begitu banyak pelecehan di tempat kerja. Bahkan setelah bekerja sepanjang hari dalam sebulan, kebanyakan dari kita mengalami kehilangan gaji karena sistem kehadiran yang rusak," kata pekerja tersebut.
"Mereka memanggil kami untuk lembur, tetapi di akhir pekerjaan mereka mengatakan itu adalah kompensasi. Saat kami melamar, HR tidak pernah memberikan sanksi."
Adapun pihak Wistron enggan memberikan komentar, menurut laporan The Hindu.
