kumparan
10 Januari 2018 9:41

Go-Food Siap Merangkul Merchant Besar Maupun Kecil

GoFood Festival (Foto: Luthfa Nurridha/kumparan)
Layanan pesan antar makanan dalam aplikasi Go-Jek, Go-Food, kini telah tumbuh pesat. Belum genap tiga tahun, Go-Food diklaim sudah menjadi layanan pengiriman makanan terbesar di luar China.
ADVERTISEMENT
Perkembangan Go-Food ini tak lepas dari peranan pengusaha kuliner UMKM yang bergabung menjadi mitranya. Saat ini sebanyak 80 persen mitra Go-Food merupakan pengusaha kuliner UMKM dan selebihnya diisi oleh mitra yang berasal dari gerai-gerai ternama.
CEO Go-Jek, Nadiem Makarim, mengenang jatuh-bangunnya untuk mengajak para pengusaha kuliner bergabung dengan Go-Food diawal peluncuran, saat menjadi pembicara di acara Go-Food Festival di Blok M, Jakarta, Selasa (09/01).
"Waktu dulu itu lumayan susah. Jadi mungkin teman-teman ingat saat awal peluncurkan Go-Food kita malah diem-diem masukin menu restoran itu ke aplikasi, jadi nanti tiba- ada driver gojek 1-2 dateng. Setelah banyak dan menjadi viral, kita datang ke resto tersebut dan memperkenalkan diri. Jadi kita buktikan dulu dengan cara kerja nyata," ucap Nadiem.
Nadiem Makarim di Acara Gojek Swadaya (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Hal itu terbukti ampuh untuk mengaet para pengusaha kuliner. Sejak diluncurkan pada pertengahan tahun 2015, saat ini tercatat sudah ada 125 ribu merchant yang tergabung dalam jaringan Go-Food.
ADVERTISEMENT
Untuk bisa terus meningkatkan layanannya itu, Go-Jek membuka pintu selebar-lebarnya bagi pengusaha makanan, baik kecil maupun besar, untuk bergabung dan menjadi mitra Go-Food. Menurut pria lulusan Universitas Havard ini, banyak keuntungan yang bisa didapatkan jika menjadi mitra Go-Food, di antaranya dapat meningkatkan omzet penjualan dan memperluas bisnis.
Tenant makanan di GoFood Festival (Foto: Luthfa Nurridha/kumparan)
Nadiem mencontohkan pengusaha makan yang menjadi mitra Go-Food saat ini memiliki porsi omzet yang lumayan besar yang dihasilkan dari Go-Food.
"Sekarang sudah menjadi kebutuhan, karena rata-rata 30 persen omzet dari berbagai merchant itu dari go food," kata Nadiem.
Selain dari sisi omzet, ada keuntungan lain yang didapat saat menjadi mitra Go-Food. Contohnya, pengusaha kuliner tidak perlu lagi memikirkan soal distribusi dan pemasaran untuk menjalankan bisnis kulinernya. Semua itu akan dibantu oleh Go-Jek.
ADVERTISEMENT
"Benefitnya itu macam-macam. Dulu kalau buka restoran hanya oleh orang-orang kaya, sekarang itu menjadi mudah. Banyak yang buka dari rumah jadi enggak mesti butuh tempat yang bagus luas karena sering kita temui banyak yang tempat makan kecil yang menggunakan Go-Jek sebagai delivery-nya," terang pria yang mendirikan Go-Jek sejak tahun 2010 ini.

Enggak usah capek untuk marketing, enggak perlu memikirkan distribusi, karena ada Go-Jek jadi bisa fokus untuk masak.

- Nadiem Makarim, CEO dan Founder Go-Jek

Untuk bergabung sebagai mitra Go-Food, Go-Jek memiliki standar tersendiri. Bagi pengusaha makan yang ingin bergabung cukup mendaftarkan bisnis kulinernya bisa melalui situs Go-Jek. Proses yang dilalui nanti akan dilakukan pengecekan oleh tim internal mereka.
"Kita punya tim yang melakukan QC (quality check) untuk masuk ke Go-Food, kita akan datengi usaha-usaha yang ingin mendaftar dan melakukan berbagai verifikasi. Ini biasanya dilakukan untuk pengusaha home made skala kecil," pungkas Nadiem.
Tenant makanan di GoFood Festival (Foto: Luthfa Nurridha/kumparan)
Lebih lanjut, Nadiem berharap ekosistem yang sudah dibangun untuk Go-Food terus dapat tumbuh, karena layanan ini memiliki prospek yang cerah dari segi bisnis.
ADVERTISEMENT
"Omzetnya besar sekali tidak jauh dari kemungkinan omzet Go-Food itu mengalahkan transportasi. Karena mereka sukses kita pun sukses," harap Nadiem.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan