Google Luncurkan Gemini 3, Diklaim Jadi Model AI Paling Canggih
·waktu baca 2 menit

Google kembali tancap gas di persaingan AI. Perusahaan tersebut baru-baru ini resmi merilis Gemini 3, model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terbaru sekaligus tercanggih yang mereka miliki. Model ini langsung bisa digunakan melalui aplikasi Gemini dan antarmuka pencarian berbasis AI mereka.
Peluncuran ini datang tujuh bulan setelah Google meluncurkan Gemini 2.5. Dengan kemampuan yang jauh lebih kuat, Google menempatkan Gemini 3 sebagai LLM (large language model) terbaik yang pernah mereka buat, sekaligus pesaing serius untuk gelar AI paling canggih di pasar saat ini.
Hadirnya Gemini 3 membuat persaingan artificial intelligence semakin menarik, karena diluncurkan kurang dari seminggu setelah OpenAI merilis GPT 5.1, dan dua bulan sejak Anthropic meluncurkan Sonnet 4.5. Ini juga bisa menggambarkan betapa cepatnya perkembangan model AI kelas atas saat ini.
Dilansir Techcrunch, Google juga menyiapkan versi yang lebih kuat dan lebih fokus pada penelitian, yakni Gemini 3 Deepthink. Model ini akan tersedia untuk pelanggan Google AI Ultra dalam beberapa pekan ke depan, setelah melewati rangkaian pengujian keamanan tambahan.
“Dengan Gemini 3, kami melihat lompatan besar dalam kemampuan penalaran,” ujar Tulsee Doshi, Head of Product Gemini, Google. “Model ini memberikan respons dengan kedalaman dan nuansa yang belum pernah kami lihat sebelumnya.”
Peningkatan kemampuan itu juga terlihat pada berbagai tolok ukur independen. Gemini 3 meraih skor 37,4 pada benchmark Humanity’s Last Exam, rekor tertinggi yang pernah dicatat untuk pengujian penalaran umum dan tingkat keahlian. Sebagai pembanding, pemegang skor tertinggi sebelumnya adalah GPT-5 Pro dengan skor 31,64.
Di platform LMArena, benchmark berbasis penilaian manusia yang mengukur kepuasan pengguna, Gemini 3 juga berhasil menduduki peringkat teratas.
Google mengatakan aplikasi Gemini saat ini memiliki lebih dari 650 juta pengguna aktif bulanan, dan sebanyak 13 juta developer telah memanfaatkan model ini dalam workflow mereka.
Bersamaan dengan model utamanya, Google turut memperkenalkan Google Antigravity, sebuah antarmuka coding berbasis Gemini. Tool ini memungkinkan gaya kerja multi-pane layaknya agentic IDE modern seperti Warp atau Cursor 2.0.
Antigravity menggabungkan jendela prompt ala ChatGPT, terminal command-line, dan jendela browser yang langsung menampilkan dampak perubahan yang dibuat oleh agen coding tersebut.
“Agen ini bisa bekerja bersama editor Anda, di seluruh terminal Anda, hingga browser Anda untuk memastikan semuanya mendukung Anda membangun aplikasi dengan cara terbaik,” ujar Koray Kavukcuoglu, CTO DeepMind.
