Kumparan Logo

Harga HP Naik hingga Tahun Depan, Memori Jadi Komponen Termahal

kumparanTECHverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Industri smartphone. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Industri smartphone. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock

Kenaikan harga smartphone global diperkirakan belum akan berhenti dalam waktu dekat. CEO Nothing, Carl Pei, memperingatkan bahwa harga handphone (HP) akan terus naik hingga tahun depan, karena biaya memori kini telah melampaui komponen lain seperti prosesor dan layar.

Pei menyebut memori telah menjadi komponen paling mahal dalam sebuah HP. Bahkan, pada beberapa model, biaya memori dapat menyumbang lebih dari 50 persen dari total biaya perangkat keras.

Menurut Pei, biaya memori untuk Nothing Phone (4a) meningkat dua kali lipat sejak tahap perancangan hingga peluncuran. Setelah produk meluncur, biaya tersebut kembali melonjak dua kali lipat. Ia pun memperingatkan bahwa harga HP diperkirakan masih akan terus naik hingga 2026.

"Saya sudah membahas hal ini pada awal tahun. Kini dampaknya mulai terlihat, bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan," tulis Pei di akun X pribadinya, dikutip kumparan, Selasa (22/6).

Harga HP terus naik dan tren ini akan berlanjut hingga tahun depan.

- CEO Nothing, Carl Pei -

Salah satu pendiri dan direktur OnePlus, Carl Pei, meluncurkan OnePlus 7 dan OnePlus 7 Pro terbaru mereka dalam acara peluncurannya di Bangalore, pada 14 Mei 2019. Foto: Manjunath Kiran / AFP

AI Biang Kerok Harga Memori Naik, Pasokan Terbatas

Fenomena tersebut terjadi seiring meningkatnya permintaan chip memori untuk industri kecerdasan buatan (AI). Pabrikan memori, seperti Nanya, Winbond, Micron, SK Hynix, hingga Samsung Electronics, kini lebih banyak mengalokasikan kapasitas produksi untuk kebutuhan server AI dan data center, sehingga pasokan memori DRAM dan NAND untuk perangkat konsumen menjadi lebih ketat.

Lembaga riset Counterpoint Research menunjukkan bahwa krisis memori global telah memaksa mereka 'meralat' proyeksi pengiriman smartphone dunia pada 2026. Pengapalan smartphone global diperkirakan turun 2,1 persen, sementara proyeksi sebelumnya direvisi turun sebesar 2,6 poin persentase.

Counterpoint memperkirakan biaya produksi smartphone (bill of materials/BoM) masih akan meningkat 10 hingga 15 persen pada kuartal kedua 2026. Kenaikan tersebut pada akhirnya akan diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual perangkat. Rata-rata harga smartphone global diperkirakan naik sekitar 7 persen, dengan HP segmen entry-level menjadi yang paling terdampak.

Berdasarkan penelusuran sejumlah data, harga DRAM (Dynamic Random-Access Memory) pada Q1 2026 meningkat hingga 93-98% secara kuartalan (QoQ), sementara harga DRAM sepanjang 2026 diproyeksikan naik hingga 125% dibanding tahun sebelumnya (YoY) dan NAND Flash meningkat hingga 234% secara tahunan (YoY). Secara keseluruhan, total kenaikan biaya memori mencapai sekitar 130% dibandingkan 2025.

Kemudian, hasil analisis Gartner menyebut harga gabungan DRAM dan SSD diperkirakan melonjak hingga 130 persen pada akhir 2026. Dampaknya, harga smartphone secara global berpotensi meningkat sekitar 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Ilustrasi Chip Smartphone. Foto: Scharfsinn/Shutterstock

Kondisi tersebut juga mulai memengaruhi strategi produsen. Nothing bahkan dilaporkan membatalkan peluncuran ponsel CMF generasi terbaru karena sulit mempertahankan harga terjangkau di tengah lonjakan biaya RAM.

Sejumlah analis memperkirakan tekanan harga ini dapat berlangsung hingga 2027. Selama permintaan memori untuk AI terus meningkat dan kapasitas produksi baru belum tersedia, konsumen kemungkinan harus bersiap menghadapi era smartphone yang semakin mahal.

Strategi Jaga Nilai bagi Konsumen

Kondisi ini membuat ekspektasi konsumen terhadap smartphone ikut bergeser. Konsumen saat ini tidak lagi hanya membandingkan spesifikasi semata, tetapi mulai mempertimbangkan pengalaman penggunaan secara keseluruhan.

Faktor seperti fitur AI, keamanan perangkat, durabilitas, dukungan pembaruan perangkat lunak juga keamanan yang sangat panjang kini menjadi pertimbangan penting sebelum membeli smartphone baru. Selain itu, layanan aftersales yang baik juga patut jadi pertimbangan konsumen dalam membeli sebuah smartphone.

Nilai sebuah perangkat tidak lagi hanya diukur dari spesifikasi saat pertama kali dibeli, melainkan dari seberapa lama perangkat tersebut dapat memberikan pengalaman penggunaan yang optimal. Samsung, misalnya, punya program kepemilikan yang fleksibel. Perusahaan juga berupaya menghadirkan banyak pilihan metode pembayaran demi membuat produknya mudah dijangkau publik.

Samsung Galaxy A57 5G. Foto: Muhammad Fikrie/kumparan

Andi Airin, Head of MX Marketing & Demand Generation Samsung Electronics Indonesia, menekankan bahwa fokus utama mereka adalah memberikan pengalaman yang bebas rasa khawatir dan kenyamanan bagi konsumen, dengan menghadirkan solusi jangka panjang melalui keamanan, pembaruan sistem operasi, dan layanan purnajual yang luas.

"Untuk Samsung, komitmen itu kita tuangkan dalam OS update sampai 6 kali. Security update sampai dengan 6 tahun. Itu salah satu yang kita lihat kebutuhan konsumen. Jadi bukan yang one off (sekali pakai)," kata Andi Airin kepada kumparan pada 18 Juni 2026.

"Kalau pun mereka di tengah jalan mau menjual HP-nya, tadi kita siapkan program trade-in. Trade-in ini sebenarnya untuk assurance juga untuk konsumen bahwa kalau mau upgrade lagi ke device kita, jaminan trade-in, we give you the best value. Kita akan kasih best value, sehingga ketika mereka mau beli device baru, harganya jadi lebih terjangkau."

Di tengah krisis memori yang bikin harga smartphone meroket, menjadi konsumen yang reaktif hanya akan menguras dompet. Jadilah konsumen yang rasional. Berhenti memandang smartphone sebagai barang sekali pakai, dan mulailah berinvestasi pada perangkat yang menghargai waktu, uang, dan data Anda hingga bertahun-tahun ke depan.