Kumparan Logo

Industri Gaming Tumbuh Subur saat Pandemi, Bagaimana Kesiapan Indonesia?

kumparanTECHverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
com-Ilustrasi seseorang yang sedang main bareng (mabar) game online. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi seseorang yang sedang main bareng (mabar) game online. Foto: Shutterstock

Industri game sudah bertransformasi penuh. Awalnya, industri ini hanya dilihat sebagai hiburan untuk menghabiskan waktu luang. Namun kini, dunia melihat perubahan dari industri gaming menjadi sebuah kompetisi besar berskala internasional.

Pandemi corona yang melanda seluruh dunia juga turut berperan dalam transformasi ini. Sebagai contoh, game Among Us menyerap jutaan pemain hingga menjadi tren baru akibat lockdown dan pembatasan sosial di seluruh negara.

Selain itu, transformasi besar industri e-sport juga bisa dilihat dari besarnya investasi yang dikucurkan untuk industri ini. Co-Founder EVOS, Hartman, mengungkapkan bahwa ekosistem e-sport Indonesia sudah tumbuh cukup baik setelah memperoleh dukungan dari pemerintah.

Peran pemerintah juga tidak terbatas pada pemberian dukungan dan kesempatan bagi developer untuk tumbuh. Penyediaan infrastruktur dan layanan yang mumpuni juga menjadi tanggung jawab pemerintah jika ingin membuat industri ini terus tumbuh subur.

“Dalam kondisi pandemi ini, para atlet perlu difasilitasi kelengkapannya saat mereka berlatih dan bertanding di rumah,” ujar Ohm Srukhosit dari Activision Blizzard. “Hal ini termasuk untuk jaringan dan utilitas agar dapat bermain secara online.”

Go Global Strategy

Pertumbuhan yang dimaksud tidak hanya mengacu pada jumlah pemain, namun juga kesiapan developer game di Indonesia. “Banyak game developer dari Indonesia telah bertumbuh dan siap secara kapabilitas untuk berkompetisi dengan developer global,” ujar Head of Garena Indonesia, Hans Saleh, pada kegiatan “i360 on Gaming: Unleashing Indonesia’s Potential”.

Strategi yang perlu dilakukan demi memenuhi potensi ini adalah dengan masuk ke pasar global. Pasalnya, publisher skala internasional tentu memiliki akses pasar yang lebih luas dibandingkan publisher game lokal di Indonesia.

Namun, developer game tetap perlu melakukan riset terkait portofolio dan track record suatu publisher sebelum benar-benar menjalin kerja sama. Selain itu, keunikan pada game baru juga akan menjadi faktor penentu kesuksesan suatu game.

Game buatan Indonesia, Tirta Foto: Agate

Co-Founder Another Indie, Vladyslav Tsypljak, juga menyebut pentingnya seorang Public Relation atau Social Media Specialist dalam menjangkau pasar. Suatu developer dapat dengan cepat meningkatkan eksposur perusahaan lewat posisi tersebut.

Selain media sosial dan riset pasar, bidang pemasaran juga menjadi elemen yang sangat krusial pada industri gaming. Penonton e-sport tahun 2019 – 2023 diprediksi akan meningkat sebesar 9 persen dan akan didominasi oleh anak muda.

Salah satu perusahaan yang sudah dengan baik melihat potensi ini adalah Pop Mie. Beberapa liga e-sport di Indonesia telah didukung oleh perusahaan makanan tersebut. Selain menguntungkan bagi Pop Mie, tentu para atlet dan developer juga merasakan keuntungan ini.

Di sisi lain, tim e-sport besar asal Indonesia, RRQ, juga memanfaatkan kesempatan ini dengan menarik dukungan dari perusahaan besar di Indonesia. RRQ mencari dukungan finansial hingga teknis dengan timbal balik berupa eksposur dan engagement dengan audiens yang besar.

TikTok juga telah menjadi platform yang membantu RRQ mendongkrak nilai pemasarannya. Kondisi pandemi juga turut mempermudah dan meningkatkan keberhasilan usaha kolektif ini.

Investasi di Dunia Gaming, Bagaimana Potensinya?

Investasi menjadi bagian yang integral bagi pertumbuhan suatu industri, tidak terkecuali gaming. Peran investor dalam memberikan akses bagi atlet mengembangkan kemampuan, memberikan karir yang baik, serta mendukung dalam setiap perjalanan kompetisi menjadi sangat penting.

COO T1 Entertainment & Sports dari Korea Selatan, John Kim, mengutarakan bahwa ini adalah saat yang paling tepat untuk berada di industri game, terutama e-sport, karena audiens dan stakeholder semakin meningkat.

T1 sendiri merupakan salah satu joint venture e-sport terbesar di Korea Selatan yang memegang kendali tim T1 League of Legends (LoL) Champions. T1 telah berhasil memperoleh sponsorship gold dari Nike, Samsung, dan beberapa perusahaan raksasa lain.

Menurut Kim, lanskap industri e-sport semakin sehat karena jaringannya terus meluas. Strategi franchise juga menurutnya dapat dijadikan sebuah opsi yang baik untuk meningkatkan publisitas dan revenue.

Jika investor berfokus pada rencana pertumbuhan jangka panjang, perusahaan publisher akan berfokus pada engagement dengan pasar, proses penghasilan keuntungan, dan lain-lain. Perbedaan ini perlu dipahami oleh developer game untuk bisa tumbuh.

“Strategi praktikal untuk mendapatkan funding bagi games adalah perkenalan yang hangat, membangun rasa percaya, dan menjalani kesepakatan yang disetujui oleh kedua belah pihak dengan investor,” ungkap CEO TouchTen Games, Rokimas Soeharyo.

Developer game juga perlu memberikan added value dalam produk yang dikembangkan. Sebuah pembeda yang kuat akan bisa membuat seorang publisher dan investor yakin akan potensi game yang sedang dikembangkan oleh developer.

Developer, publisher, dan investor juga perlu membuat kerja sama dalam kerangka visi dan nilai yang cocok. Profit Sharing dan IP Ownership menjadi hal yang sangat penting bagi publisher. Sementara valuasi dan kepemilikan menjadi entitas yang utama bagi para investor.

i360 on Gaming Foto: istimewa

Sebuah venture capital di industri gaming lain, IndoGen Capital, membagikan tips untuk memilih perusahaan atau agensi e-sport yang benar-benar baik dan mumpuni. Menurut mereka, perusahaan yang akan sukses ditentukan oleh tiga kriteria, yaitu:

  • Perusahaan yang dapat mengapitalisasi tren-tren makro;

  • Revenue yang dihasilkan berasal dari bisnis yang berpusat pada fans; dan

  • Memiliki portofolio sponsor yang beragam.

Selain itu, bagi mereka yang ingin memulai investasi di industri game, IndoGen mengungkap 4 hal krusial yang perlu diperhatikan. Keempatnya adalah:

  • Menemukan founder yang memahami pasar gaming di suatu daerah;

  • Mencari retensi dan client charm menggunakan matriks yang tepat;

  • Menilai intangible assets, brand, dan komunitas; serta

  • Berfokus pada engagement dan hubungan dengan audiens atau fans.

Managing Partner IndoGen Capital, Chandra Firmanto, mengutarakan bahwa pandemi telah memberikan ruang yang lebih besar bagi industri game untuk tumbuh. Jumlah pemain, penonton, hingga platform akan semakin marak di masyarakat.

Tren pasar ini menjadi kunci bagi IndoGen Capital dalam memercayakan investasinya pada masa depan industri game. Komunitas besar juga memiliki peran yang krusial dalam engagement yang berusaha dibangun. Hal ini membuktikan bahwa industri game tidak hanya soal pemain, namun selalu lebih dari itu.

(EDR)