Jeff Bezos Turun Gunung di Era AI, Jadi co-CEO Startup AI Project Prometheus
ยทwaktu baca 2 menit

Pendiri Amazon, Jeff Bezos, dikabarkan kembali ke industri teknologi dengan menjadi co-CEO dari perusahaan kecerdasan buatan (AI) baru bernama Project Prometheus, yang telah mengumpulkan dana sebesar 6,2 miliar dolar atau Rp 103 triliun.
Hal ini menandai peran operasional Bezos yang paling signifikan sejak ia mengundurkan diri sebagai CEO Amazon pada 2021.
The New York Times melaporkan Bezos akan berbagi posisi tersebut dengan Vik Bajaj sebagai co-CEO dan co-founder Project Prometheus, yang sebelumnya memimpin dan ikut mendirikan divisi ilmu hayati Google.
Bajaj juga turut mendirikan Verily, sebuah perusahaan rintisan (startup) bioteknologi milik Alphabet, dan merupakan salah satu pendiri Foresite Labs, afiliasi perusahaan investasi Foresite Capital yang berfokus pada AI.
Startup ini disebut akan membangun produk AI untuk rekayasa dan manufaktur di berbagai bidang , seperti komputer, kedirgantaraan, dan otomotif, yang menunjukkan akan keterlibatan erat dengan startup Bezos lainnya, yaitu perusahaan eksplorasi antariksa komersial, Blue Origin.
Project Prometheus berfokus pada AI untuk ekonomi fisik, menurut laman resmi di LinkedIn-nya.
Laporan tersebut mencatat pekerjaan mereka akan menyerupai pekerjaan Periodic Labs, yang sedang membangun teknologi untuk mempercepat penelitian ilmiah dengan mensimulasikan dunia fisik untuk melatih model AI.
Project Prometheus tercatat sudah memiliki hampir 100 staf, termasuk peneliti dari perusahaan AI, seperti Meta, OpenAI, dan Google DeepMind.
Kembalinya Bezos, dilihat dari prediksi dan pernyataan publik yang baru-baru ini disampaikan tentang AI, menunjukkan ia sedang menepis kekhawatiran tentang gelembung AI dan masih melihat ruang yang signifikan bagi teknologi untuk membentuk kembali kehidupan sehari-hari.
Visi Bezos untuk masa depan melampaui sekadar mengembangkan AI yang lebih cerdas. Ketika berbicara di Italian Tech Week 2025 belum lama ini, ia meyakini akan ada ada jutaan orang yang tinggal di luar angkasa dalam beberapa dekade mendatang.
Hal ini menekankan bahwa robotika dan AI canggih tidak hanya akan memungkinkan kehidupan di luar planet, tetapi juga bentuk-bentuk tenaga kerja dan kreativitas baru.
"Jika Anda perlu melakukan pekerjaan di permukaan bulan atau di mana pun, kita akan dapat mengirim robot untuk melakukan pekerjaan itu, dan itu akan jauh lebih hemat biaya daripada mengirim manusia," kata Bezos, mengutip Fortune.
Reporter: Muhamad Ardiyansyah
