Tekno & Sains
·
7 Mei 2021 2:23

Ketika Bos Zoom Curhat Capek Meeting Zoom dan Minta Pegawai Balik ke Kantor

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Ketika Bos Zoom Curhat Capek Meeting Zoom dan Minta Pegawai Balik ke Kantor (945000)
searchPerbesar
CEO Zoom Eric S. Yuan. Foto: Carlo Allegri/Reuters
Kalau kamu pernah merasa capek meeting atau rapat online lewat Zoom, kamu enggak sendirian. Ternyata, pendiri Zoom juga pernah merasa capek karena meeting melulu di platform yang dia buat atau populer dengan istilah 'Zoom fatigue'.
ADVERTISEMENT
Dalam sebuah acara Wall Street Journal CEO Council Summit yang dihelat Selasa (4/5), CEO Zoom Eric Yuan ditanya oleh deputi editor Wall Street Journal, apakah dia pernah mengalami Zoom fatigue? Yuan pun menjawab bahwa ia pernah kelelahan pada satu hari di mana dia meeting sampai 19 kali.
"Ya," aku Yuan. “Saya dapat memberi tahu Anda pada April (tahun) lalu, pada hari tertentu, saya memiliki total 19 pertemuan Zoom. Saya sangat lelah dengan itu, jadi saya benar-benar memiliki kelelahan rapat.”
Yuan pun mengaku bahwa dia tak pernah lagi mau menjalani meeting terus-terusan. “Saya merasa saya jauh lebih nyaman,” kata dia.
Ketika Bos Zoom Curhat Capek Meeting Zoom dan Minta Pegawai Balik ke Kantor (945001)
searchPerbesar
Ilustrasi Zoom. Foto: Dado Ruvic/Reuters
Zoom fatigue sendiri merupakan istilah baru yang merujuk kepada kondisi lelah karena melakukan rapat online di Zoom terus-terusan setiap hari.
ADVERTISEMENT
Menurut Jeremy Bailenson, profesor komunikasi dari Stanford University sekaligus direktur pendiri Virtual Human Interaction Lab (VHIL), kelelahan saat meeting di Zoom disebabkan oleh kontak mata yang terlalu intens dengan orang lain, perasaan tidak nyaman melihat diri sendiri lama-lama, kurangnya gerak saat meeting online, hingga kerja kognitif yang lebih tinggi saat ngobrol lewat fitur chatting.
"Konferensi video adalah hal yang baik untuk komunikasi jarak jauh, tetapi pikirkan tentang medianya. Hanya karena Anda dapat menggunakan video, bukan berarti Anda harus melakukannya," kata Bailenson, yang penelitiannya soal penyebab Zoom fatigue terbit di jurnal Technology, Mind, and Behavior pada 23 Februari 2021.

Zoom minta karyawan balik ke kantor

Tak cuma mengaku pernah capek rapat di platform yang dia buat, Yuan juga berencana untuk meminta karyawannya kembali ke kantor. Menurut laporan The Independent, Yuan mengindikasikan bahwa Zoom mungkin meminta karyawannya untuk kembali ke kantor selama dua hari seminggu dan bekerja dari rumah di hari sisa seminggu itu.
ADVERTISEMENT
Dalam sebuah kolom opini di CNN, Yuan juga menyebut bahwa platform-nya tak dimaksudkan untuk mengganti pertemuan tatap muka sepenuhnya.
“Seperti segala sesuatu dalam hidup, moderasi sangat penting, dan ketika Zoom didirikan 10 tahun yang lalu, tujuannya tidak pernah menggantikan interaksi secara langsung sama sekali,” tulis Yuan di kolom opini tersebut.
“Bagaimanapun, pandemi telah menunjukkan bagaimana kelelahan, terutama kelelahan video meeting, dapat memengaruhi produktivitas, kepuasan kerja, dan keseimbangan kehidupan kerja. Itulah mengapa para pemimpin harus menemukan cara untuk membuat rapat lebih mudah dikelola karena karyawan terus bekerja dari jarak jauh,” sambungnya.
Yuan juga menambahkan beberapa tips agar kantor bisa mencegah pegawainya mengalami Zoom fatigue. Tips tersebut di antaranya seperti “akhiri rapat lebih awal untuk memberi semua orang jeda untuk pulih secara mental di antara rapat” dan “gunakan chat atau email sebagai pengganti rapat.”
ADVERTISEMENT
Zoom fatigue memang tak cuma mengganggu kesehatan fisik seseorang, tetapi juga mental.
Pada April 2021, Stanford University merilis sebuah penelitian yang mengungkap bahwa perempuan melaporkan Zoom fatigue yang lebih tinggi daripada laki-laki. Peneliti menjelaskan, ada lebih banyak tekanan yang didapat perempuan selama rapat Zoom ketimbang laki-laki.
"Wanita, misalnya, cenderung menampilkan lebih banyak ekspresi wajah daripada pria seperti lebih banyak tersenyum dengan bukti yang menunjukkan bahwa perbedaan ini terkait dengan kesadaran saat diamati dan merasakan kesadaran diri,” tulis para peneliti dalam studi tersebut, yang belum melalui tahap peer-review.
"Konferensi video dapat meningkatkan beban kognitif yang terkait dengan mekanisme nonverbal ini lebih banyak untuk wanita daripada pria.”
***
Saksikan video menarik di bawah ini:
ADVERTISEMENT