Kumparan Logo

Khusus Garap AI, Pendiri Google Kerja Lagi Setiap Hari Setelah Sempat Pensiun

kumparanTECHverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sergey Brin, Pendiri dan Presiden Alphabet. Foto: Getty Images/Bloomberg
zoom-in-whitePerbesar
Sergey Brin, Pendiri dan Presiden Alphabet. Foto: Getty Images/Bloomberg

Salah satu pendiri Google, Sergey Brin, memutuskan untuk bekerja lagi "hampir setiap hari" di perusahaannya setelah sempat memutuskan pensiun. Dia membantu Google mengembangkan produk AI di tengah persaingan ketat generative AI.

Dalam konferensi Google I/O 2025, Selasa, 20 Mei 2025, Brin tampil pada sebuah sesi bincang-bincang. Dia tampil bersama CEO DeepMind Demis Hassabis dan dimoderatori oleh Alex Kantrowitz dari Big Technology. DeepMind adalah anak perusahaan Alphabet, sebagai laboratorium penelitian di balik proyek-proyek AI Google, termasuk generative AI, Gemini.

Dalam kesempatan ini, Brin mengungkapkan keterlibatannya dalam upaya pengembangan AI Google sejak 2023, untuk membantu melatih model-model terbaru Gemini.

Dia sempat meninggalkan pekerjaan harian di Google pada 2019, tetapi memutuskan untuk kembali setelah peluncuran ChatGPT oleh OpenAI pada tahun 2022, yang menciptakan gelombang AI ke seluruh sektor industri.

Sejujurnya, siapa pun yang berprofesi sebagai ilmuwan komputer, tidak boleh pensiun saat ini.

- Sergey Brin, Pendiri Google -

Pernyataan Brin di atas mengacu pada momentum era AI yang menurutnya adalah "waktu yang sangat unik dalam sejarah."

Moderator Kantrowitz kembali bertanya, apakah kembalinya dia hanya tentang bersaing dengan para kompetitor yang tengah berupaya mengembangkan sistem AGI (Artificial General Intelligence)? Brin mengatakan bahwa itu bukan hanya tentang perlombaan dalam AI, karena ke depan bakal terbuka tantangan dan peluang yang sangat besar.

Tidak pernah ada tantangan dan peluang yang lebih besar —pada titik puncak teknologi yang besar ini.

- Sergey Brin, Pendiri Google -

Brin adalah seorang yang menyaksikan evolusi teknologi dunia. Itu dimulai dari Web 1.0, atau dikenal sebagai era internet statis, sebagai generasi pertama World Wide Web (WWW) pada awal 1990-an. Pria berusia 51 tahun ini, menilai, revolusi kecerdasan buatan "jauh lebih menarik" daripada kemajuan teknologi sebelumnya dan yakin AI akan memberi dampak lebih besar pada dunia daripada apa pun yang pernah dialaminya dalam karier selama puluhan tahun.

Kembalinya Brin bukan hanya tentang bagaimana Google mengimbangi OpenAI dengan ChatGPT yang mendapat sambutan besar dan saat ini memimpin perlombaan. Keterlibatan langsungnya dalam pelatihan LLM (large language model) punya tujuan ambisius mendorong Gemini menerobos batasan kemampuan AI.

"Kami sepenuhnya bermaksud menjadikan Gemini menjadi AGI pertama di dunia," kata Brin.

AGI, atau Artificial General Intelligence, mengacu pada kecerdasan umum buatan sebagai tonggak di mana mesin dapat menyelesaikan tugas manusia di berbagai domain kehidupan.

Ilustrasi chatbot AI Google Gemini. Foto: Shutterstock

Dalam sebuah kesempatan bincang-bincang di All-In Summit pada September 2024 di Los Angeles, AS, Brin menjelaskan bahwa Google secara historis menggunakan model AI yang lebih kecil dan spesifik untuk tugas tertentu. Menurutnya, hal itu saat ini telah bergerak, menuju "tren dengan model yang lebih terpadu."

Brin saat ini bekerja dan mendanai sejumlah proyek ambisius, termasuk startup pembuat pesawat LTA Research, lalu mendanai penelitian untuk penyakit Parkinson, dan berinvestasi dalam real estate.

Brin sempat memimpin divisi Google X yang mengerjakan penelitian ambisius Google, termasuk proyek mobil otonom Waymo hingga kacamata pintar Google Glass. Mobil otonom sekaligus layanan ride-hailing Waymo sukses diimplementasi di 3 kota AS; Francisco, Phoenix, and Los Angeles, sementara Google Glass dinilai gagal.