Komdigi Pasang Internet Satelit Satria-1 di 10 Lokasi Banjir Aceh-Sumatera
ยทwaktu baca 2 menit

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memasang 10 titik internet berbasis Satelit Republik Indonesia 1, atau Satria-1, di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Langkah ini mempercepat pemulihan konektivitas di wilayah yang terdampak banjir bandang.
Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komdigi, bersama dengan BNPB, tim SAR, dan TNI telah mengirim perangkat ke lokasi. Seluruh titik ditargetkan aktif dalam waktu dekat.
Daftar lokasi pemasangan Satria-1 mencakup area vital, berikut daftar lengkapnya:
Bandara Pinangsori/Dr. Fredric Lumban Tobing, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara
SMAN 1 Plus Matauli Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara
Dekat Masjid Baitul Gafur, Kabupaten Aceh Utara, Aceh
Command Center, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh
Kantor Wali Kota Lhokseumawe, Kota Lhokseumawe, Aceh
Kota Langsa, Aceh
Kabupaten Aceh Timur, Aceh
Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh
Jorong Bukik Malanca, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat
UPT BNPB Regional Sumatera Barat, Kota Padang, Sumatera Barat
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan pemulihan akses komunikasi menjadi prioritas pemerintah. Layanan darurat berbasis satelit Satria-1 diharapkan dapat membantu warga kembali tersambung.
Ketika jaringan komunikasi terputus, Satria-1 hadir sebagai penyelamat.
- Meutya Hafid, Menkomdigi -
"Dengan cara ini, warga dapat kembali terhubung meskipun infrastruktur konektivitas sedang mengalami gangguan," ujar Meutya dalam pernyataan resmi.
Satria-1 merupakan satelit berteknologi Very High Throughput Satellite (VHTS) dengan frekuensi Ka-Band. Dia dibangun menggunakan platform SpaceBus NEO dengan kapasitas internet yang disediakan mencapai 150 Gbps, membuat Satria-1 menjadi satelit terbesar di Asia dan nomor lima di dunia dari sisi kapasitas untuk kelas di atas 100 Gbps.
Satelit meluncur pada Juni 2023 dan dirancang untuk menjangkau wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) dan daerah yang sulit diakses. Teknologi ini, kata Meutya, menjadi solusi cepat ketika infrastruktur darat mengalami gangguan.
