Konflik Hamas-Israel Hancurkan Industri Teknologi Palestina
·waktu baca 4 menit

Industri teknologi Palestina, terutama di Gaza, hancur gara-gara konflik Hamas-Israel yang memanas dalam beberapa hari terakhir. Kehancuran fisik, ekonomi, dan sosial yang diakibatkan oleh perang membuat masa depan industri teknologi di sana menjadi tidak jelas.
Meski termasuk salah satu wilayah dengan tantangan ekonomi paling parah di dunia, Gaza telah menjadi rumah bagi talenta berbakat dan perusahaan rintisan (startup) potensial di bidang teknologi. Salah satunya berkat kehadiran Gaza Sky Geeks (GSG) sejak 2011.
Gaza Sky Geeks merupakan pusat teknologi (hub) dan akselerator startup pertama dan satu-satunya di Gaza yang didukung oleh Mercy Corps dan Alphabet, induk Google. Mereka menyediakan investasi awal, pelatihan, dan sumber daya teknologi untuk warga Gaza di Palestina. Sebanyak 5.000 developer dari Tepi Barat dan Gaza telah lahir dari program GSG per 2022.
Sementara itu, Palestina juga memiliki sejumlah startup lokal dengan pertumbuhan tinggi, seperti Mena Analytics (analisis data), Olivery (logistik), Coretava (loyalitas karyawan dan pelanggan), dan SellEnvo (solusi e-commerce).
Namun serangan militer Israel di Jalur Gaza, yang diklaim sebagai balasan terhadap Hamas yang menyerang duluan wilayahnya, memberikan dampak buruk yang signifikan bagi industri teknologi di sana. Kondisi tersebut diperparah dengan Israel memblokade air, listrik, dan BBM di Gaza.
"Apa yang terjadi pada teknologi di Gaza adalah bahwa Israel sedang menghancurkannya. Melenyapkannya," kata salah satu sumber di Gaza kepada TechCrunch.
Ryan Sturgill, seorang warga AS dan mantan kepala GSG, mengatakan situasi di lapangan tampak mengerikan. Gelombang penembakan yang dilakukan oleh militer Israel telah meluluhlantakkan bangunan GSG.
Area di sekitar gedung Mercy Corps, yang menampung Gaza Sky Geeks, telah diratakan. Strukturnya berdiri tetapi hancur. Bagian depannya agak rusak.
- Ryan Sturgill, mantan kepala Gaza Sky Geeks -
"Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Kantor hancur, jalur fiber hancur. Universitas hancur. Tiga universitas utama di Gaza yang menghasilkan seluruh lulusan ilmu komputer diratakan," ujarnya.
Sebelum serangan balasan militer Israel, industri teknologi Palestina disebut Sturgill mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Banyak perusahaan dari Arab Saudi mendirikan kantor pusat di Palestina untuk pengembangan startup dan aplikasi baru.
Selain itu itu, Nvidia, Apple, dan perusahaan teknologi internasional lainnya telah membuka operasional outsourcing di sana. Microsoft bahkan memiliki unit research and development (R&D).
Sturgill menambahkan, selain Gaza yang dihujani rudal Israel, situasi di Ramallah juga sangat menegangkan. Dia merasa kondisi di Ramallah akan menjadi jauh lebih buruk dalam beberapa pekan ke depan.
Di lain pihak, pendiri dan CEO Manara Iliana Montauk mengatakan konektivitas telah menurun signifikan dalam 24 jam terakhir. Kebanyakan orang kehilangan koneksi seluler dan akses internet sepenuhnya, atau hanya memiliki akses ke jaringan 2G di HP mereka.
Penyebabnya gara-gara pemadaman listrik di seluruh jalur Gaza. Infrastruktur penyedia jasa internet dan menara jaringan seluler juga hancur dibom.
"Sektor teknologi hampir sepenuhnya tidak dapat berfungsi di Gaza saat ini."
"Listrik tidak lagi tersedia bahkan untuk beberapa jam sehari, dan masyarakat kehabisan bahan bakar untuk generator mereka," aku Montauk kepada TechCrunch.
Manara yang diinvestasi oleh Y Combinator hingga Seedcamp saat ini memiliki sekitar 100 software engineer di Gaza. Beberapa karyawannya bekerja dari jarak jauh (remote) untuk perusahaan teknologi di Silicon Valley, AS, dan Eropa.
Kondisi serupa juga disampaikan oleh warga Palestina bernama Mohammad Alnobani. Dia adalah pendiri The Middle Frame, platform stok gambar Arab berbasis AI.
Alnobani yang kembali dari One Young World Summit di Belfast, Irlandia, tidak bisa pulang karena perbatasan ditutup. Berdasarkan cerita dari koneksinya di Gaza, dia mengatakan rumah rekannya sesama entreprenuer hancur akibat serangan udara, dengan beberapa di antaranya tidak dapat dijangkau karena listrik padam.
"Menghadapi situasi sambil mencoba yang terbaik untuk melanjutkan pekerjaan kami adalah tantangan sehari-hari," kata Alnobani.
Perang antara Israel dan Hamas, yang berkuasa di Gaza, pecah sejak 7 Oktober 2023. Itu dimulai dari serangan mendadak Hamas ke Israel.
Israel membalas dengan meluncurkan serangan udara ke Gaza. Akibatnya ribuan orang dari kedua belah pihak kehilangan nyawa.
