Kumparan Logo

Kongres Partai Komunis Jadi Alasan China Blokir WhatsApp

kumparanTECHverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ikon aplikasi WhatsApp. (Foto: Arivera via Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ikon aplikasi WhatsApp. (Foto: Arivera via Pixabay)

Layanan aplikasi pesan instan WhatsApp untuk kesekian kalinya kembali diblokir oleh pemerintah China. Pemblokiran ini disebut sengaja dilakukan karena adanya Kongres Nasional ke-19 yang bakal digelar oleh Partai Komunis China pada bulan depan di Beijing.

WhatsApp telah lama meresahkan pemerintah China karena perusahaan yang dimiliki oleh Facebook itu punya layanan pesan yang terenkripsi. Pesan enkripsi dikhawatirkan menjadi sarana bagi politikus yang ingin melawan pemerintah.

Itu yang tidak diharapkan pemerintah China ketika melangsungkan Kongres, karena di momen sensitif ini, yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali, pemerintah akan memilih pemimpin baru dan menentukan kebijakan prioritasnya.

Memperketat layanan berbasis Internet memang selalu dilakukan pemerintah China setiap menjelang pertemuan Partai Komunis. Pemerintah bahkan telah lama menjalankan alat penyaring Internet yang dikenal "Great Firewall" yang dipakai untuk menyensor konten yang dianggap berbahaya.

"Biasanya, menjelang Kongres Partai, kami telah melihat pemblokiran, penyaringan, pembatasan di Internet, dan itulah yang kami lihat dalam beberapa bulan terakhir," kata direktur Digital and Cyberspace Policy Program di Council on Foreign Relations, Adam Segal.

Ilustrasi Facebook dan Whatsapp (Foto: Reuters/Dado Ruvic)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Facebook dan Whatsapp (Foto: Reuters/Dado Ruvic)

Pemblokiran WhatsApp tentu saja menjadi pukulan telak bagi Facebook, yang sudah dilarang kehadirannya di Negeri Tirai Bambu sejak 2009 lalu. Berbagai upaya telah dilakukan Facebook dan Mark Zuckerberg yang terus melakukan pendekatan demi bisa menjalin hubungan dengan China.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah meluncurkan aplikasi berbagai foto bernama Colorful Ballons di China, yang didistribusikan oleh perusahaan Youge Internet Technology. Mereka juga membangun alat sensor yang dapat menyembunyikan publikasi yang sensitif di China, dengan harapan pemerintah mau melunak dan mengangkat blokirnya terhadap China.

Pemblokiran WhatsApp ini diprediksi tidak akan terlalu mengganggu bagi masyarakat China. Hal ini dikarenakan mereka masih punya aplikasi pesan instan lokal bernama WeChat. Berbeda jauh dengan WhatsApp yang memilih menjaga kerahasiaan percakapan pengguna, WeChat justru menyuguhkan semua data personal penggunanya ke pemerintah China. WeChat saat ini memiliki 963 juta pengguna aktif.