Kumparan Logo

Mantan CEO Google: Teknologi AI China Bisa Salip AS

kumparanTECHverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eric Schmidt, mantan CEO Google. Foto: Patrick T. Fallon / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Eric Schmidt, mantan CEO Google. Foto: Patrick T. Fallon / AFP

Mantan CEO Google, Eric Schmidt, memperingatkan bahwa Amerika Serikat (AS) berisiko kehilangan keunggulannya dalam persaingan kecerdasan buatan (AI) menyusul kemajuan pesat yang ditunjukkan China, terutama dalam penerapan praktis teknologi tersebut.

Schmidt mengatakan AS masih memiliki keunggulan, namun dominasi China dalam AI terapan dan model open-source semakin menjadi ancaman serius bagi ekosistem teknologi Amerika.

"Mereka (China) tidak mengejar strategi AGI (artificial general intelligence) yang gila sebagian karena keterbatasan perangkat keras yang telah diberlakukan AS, tetapi sebagian karena kedalaman pasar modal mereka tidak ada," kata Schmidt, berbicara di All In Podcast, mengutip The Economic Times.

Perbedaan utama, menurut Schmidt, terletak pada pendekatan kedua negara. Perusahaan teknologi AS cenderung menyukai sistem yang dibangun di atas model sumber tertutup (closed-source) dan bobot tertutup.

Sedangkan, China justru mengadopsi bobot terbuka dan data pelatihan terbuka (open-source). Hal ini membuat model kecerdasan buatan mereka lebih mudah diakses dan diadopsi secara global.

Ilustrasi bendera AS dan Tiongkok. Foto: Dado Ruvic/Reuters

"Negara-negara di seluruh dunia semakin banyak mengadopsi model China karena hal ini (model sumber terbuka dan bobot terbuka)," ujar Schmidt.

Model AI open-source adalah sistem yang tersedia secara bebas untuk digunakan, dipelajari, dimodifikasi, dan dibagikan oleh siapapun tanpa memerlukan izin. Sementara itu, bobot terbuka mengacu pada rilis parameter atau set data terlatih model yang dipelajari AI selama pelatihan, dan dapat diakses publik oleh siapapun.

Schmidt menilai upaya perusahaan Barat seperti OpenAI yang merilis model kecil dengan bobot terbuka untuk perangkat konsumen merupakan langkah positif. Namun ia menegaskan bahwa AS tidak boleh terjebak hanya pada proyek besar seperti AGI.

"Kita juga sebaiknya bersaing dengan China dalam hal-hal sehari-hari, seperti aplikasi konsumen, robot, dan sebagainya," kata Schmidt.

Reporter: Muhamad Ardiyansyah