Kumparan Logo

Melihat Polusi Udara Jakarta lewat Hashtag #SetorFotoPolusi di Twitter

kumparanTECHverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Cover Story Konten Spesial:  Polusi Udara Jakarta. Foto: Jamal Ramadhan dan Putri Sarah Arifira/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Cover Story Konten Spesial: Polusi Udara Jakarta. Foto: Jamal Ramadhan dan Putri Sarah Arifira/kumparan

Hari Selasa, 25 Juni 2019, adalah hari ketika Jakarta menjadi kota dengan polusi udara terburuk di dunia, menurut data aplikasi pemantau polusi harian kota-kota besar di dunia, AirVisual.

Sejumlah warga Jakarta kecewa mengetahui fakta ini. Sebuah kekecewaan juga dituangkan oleh seorang fotografer, Pio Kharismayongha (40) lewat sebuah foto bidikannya yang menggambarkan polusi Jakarta yang dinilainya sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Pio bukan warga Jakarta. Ia tinggal di Ciledug, Tangerang. Sebagai fotografer lepas, ia sering pergi ke pusat Jakarta untuk bekerja. Mau tidak mau, harus menghirup emisi asap kendaraan yang menjadi salah satu penyumbang terbesar polusi di Jakarta.

“Masker adalah benda wajib bagi saya. Sampai sekarang 'sih jadi benda wajib pakai setiap beraktivitas di Jakarta, khususnya siang hari,” ceritanya kepada kumparan.

Pemandangan Jakarta akibat polusi udara. Foto: Budiono Darsono/kumparan

Ia juga menyesalkan tidak ada aturan dari pemerintah yang seharusnya melarang kendaraan-kendaraan dengan gas buang asap tebal. Kendaraan macam ini masih diizinkan beroperasi di jalan raya. Berdasarkan pengamatan, Pio melihat masih banyak warga yang tidak mengetahui betapa berbahaya udara yang ada di ibukota bagi kesehatan.

Bersama temannya, Aulia Masna, seorang warga Indonesia yang bekerja di Singapura, mereka punya semangat meningkatkan kesadaran publik Jakarta dan sekitar soal polusi udara ini. Caranya, dengan berbagai foto di Twitter yang memperlihatkan wajah kota Jakarta dengan awan yang seakan berkabut, padahal itu adalah polusi udara. Netizen diajak berbagi foto tema serupa dengan hashtag #SetorFotoPolusi.

X post embed

X post embed

X post embed

Dalam sekejap, hashtag itu mendapat banyak perhatian dari netizen di Jakarta dan sekitarnya. Cukup banyak yang turut membagikan foto kebulan polusi di awan Jakarta.

"Harapan saya itu cuma warga jadi lebih peduli bahwa polusi di udara sudah seburuk itu dan bisa lebih memaksimalkan angkutan umum dalam beraktivitas. Paling tidak mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi," harapnya.

Berikut ini adalah foto-foto yang diunggah netizen di Twitter dengan hashtag #SetorFotoPolusi:

X post embed

X post embed

X post embed

X post embed

X post embed

X post embed

X post embed

X post embed

Pada pukul 8 pagi hari Selasa kemarin, 25 Juni 2019, Jakarta tercatat oleh AirVisual sebagai kota di urutan pertama dengan tingkat polusi udara tertinggi. AirVisual mencatat air quality index Jakarta sebesar 240. Rentang nilai dari AQI adalah 0 sampai 500. Semakin tinggi nilainya, maka semakin tinggi tingkat polusi udara di wilayah tersebut.

Nilai ini dirangkum dari data-data yang didapat dari tujuh alat pengukur kualitas udara yang tersebar di DKI Jakarta. Satu terpasang di Jakarta Barat, tiga di Jakarta Pusat, satu di Jakarta Timur, dan dua di Jakarta Selatan.

Jakarta jadi kota dengan polusi udara terburuk di dunia. Foto: AirVisual

AirVisual mengatakan nilai AQI 240 untuk Jakarta menunjukkan kondisi udara di ibu kota sangat tidak sehat (very unhealthy). Kondisi udara yang buruk dengan nilai AQI berada di rentang 201-300 ini dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat pada umumnya.

Setelah Jakarta, ada kota Lahore di Pakistan, Hanoi di Vietnam, Dubai di Uni Emirat Arab, serta Wuhan di China, yang masuk lima besar kota dengan tingkat polusi udara tertinggi dunia pada hari itu.

AQI adalah sebuah indeks yang menggambarkan tingkat keparahan kualitas udara di suatu wilayah. Menurut AirVisual, AQI dihitung berdasarkan enam jenis polutan utama, seperti PM 2,5, PM 10, karbon monoksida, asam belerang, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.

Cover Story Konten Spesial: Polusi Udara Jakarta. Foto: Putri Sarah Arifira/kumparan

Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan BMKG, Nasrullah, membenarkan bahwa belakangan hari ini kondisi udara di Jakarta memang buruk. Terutama pada pagi hari di musim kemarau seperti ini.

Kondisi udara akan lebih bersih ketika musim hujan tiba. Ketika hujan turun, kotoran di udara akan larut di dalam air hujan itu.

“Kalau musim kemarau gini, itu partikel-partikel yang ada di permukaan (Bumi) itu belum dinaikkan ke atas oleh udara, karena masih mengambang di permukaan. Pada saat ada Matahari, maka (barulah) partikel udara akan naik,” jelas Nasrullah, saat dihubungi kumparanSAINS, Minggu (23/6).

Dengan kondisi udara yang buruk, warga Jakarta sebaiknya menggunakan masker saat di luar ruangan, memakai alat pembersih udara di rumah, tidak membuka jendela rumah, dan menghindari berolahraga di luar rumah.