Mempertimbangkan Proyek Roket Antarnegara Elon Musk

Teknologi telah mengizinkan manusia untuk pergi ke tempat yang lebih jauh. Kehadirannya jelas meredefinisi konsep jarak. Jarak, yang sebelumnya menjadi biang keladi atas terhambatnya segala macam transaksi, kini berubah menjadi faktor kecil yang mudah saja diatasi manusia.
Dahulu, upaya mencapai ujung dunia hanya dianggap sebagai satu retorika imajiner dari para pembual cerita. Namun, kini, kita telah menyaksikan bahwa umat manusia tidak saja mampu menembus antartika. Lebih jauh lagi, manusia bahkan telah mampu menembus puluhan ribu kilometer antariksa, meninggalkan jejak kedua kakinya di atas bulan.
“One small step for a man, one giant leap for mankind,” begitu ucap Neil Armstrong, 48 tahun yang lalu.
Tapi manusia tak pernah puas. Kita tak lagi menunggangi seekor kuda, keledai, ataupun unta seperti yang terjadi ratusan tahun lalu. Namun, kehadiran transportasi modern macam sepeda motor, mobil, kereta api, kapal laut, hingga pesawat terbang pun juga tak cukup memuaskan untuk rasa lapar akan hadirnya sesuatu yang lebih mutakhir, lebih ringkas, lebih cepat.
Pun demikian dengan seorang industrialis asal Amerika Serikat, Elon Musk. Pria kelahiran 28 Juni 1971 ini memandang bahwa umat manusia harus memiliki satu alat transportasi yang lebih cepat daripada apa yang sudah ada. Tidak main-main, ia, dengan begitu optimis, menggagas roket sebagai alat transportasi antarnegara di masa depan.

Elon Musk sendiri bukanlah nama yang asing di dalam proyek teknologi futuristik dunia. Musk, sebagaimana yang diketahui, merupakan pendiri dari perusahaan raksasa Tesla Motors, Paypal, hingga yang paling muktahir, SpaceX. Gagasan mengenai roket sebagai alat transportasi masa depan inilah yang menjadi salah satu prioritas di SpaceX.
Bertempat di Hawthorne, California, Amerika Serikat, SpaceX (Space Exploration Technologies Corporation), memiliki visi untuk tak hanya mengurangi biaya transportasi ruang angkasa, tetapi juga mencita-citakan agar umat manusia dapat hidup di planet lain.
Bila dibandingkan dengan perusahaan lain, SpaceX menjadi perusahan swasta satu-satunya yang mampu melakukan penerbangan ruang angkasa. Pasalnya, selama ini penerbangan ruang angkasa hanya dapat dilakukan oleh NASA milik pemerintah Amerika Serikat, Roscosmos milik pemerintah Rusia, dan beberapa proyek lain yang bersumber pada APBN negara.

Sembilan tahun lalu, SpaceX pertama kali meluncurkan roket buatannya, tepatnya pada 29 September 2008. Kala itu, roket yang dinamakan Falcon 1 berhasil mencapai orbit bumi. Kesuksesan Falcon 1 inilah yang memotivasi Musk untuk terus bekerja lebih keras mengembangkan proyek antariksanya.
Pada gilirannya, perjalanan antarnegara juga tak lepas dari perhatian Musk. Ia menggagas transportasi cepat antarnegara dengan menggunakan roket. Musk menyatakan bahwa idenya itu sebetulnya sangat sederhana. Ia hanya ingin memanfatkan sistem yang sebelumnya sudah dimiliki roket antarplanet, untuk diterapkan pada perjalanan antarnegara di bumi.
“Jika kami menciptakan roket ini untuk pergi ke Bulan dan Mars, maka mengapa tidak sekalian pergi ke tempat lain di bumi?” ujar Musk, dalam International Astronautical Congress (IAC) di Adelaide, Australia, (29/11) sebagaimana dikutip dari The Guardian.
Musk memiliki skenario bahwa para penumpang dapat melakukan perjalanan antarnegara, di manapun di dunia, hanya dalam waktu tiga puluh menit. Soal harga tiket, Musk juga menjamin bila nilainya akan setara dengan harga tiket pesawat terbang kelas ekonomi.
Dalam sekali meluncur, disebutkan bila roket ini nantinya mampu membawa 80 sampai 200 orang. Sementara dari sisi kecepatan, roket antarnegara itu diklaim dapat menempuh kecepatan 27.000 km per jam. Artinya, kecepatan ini puluhan kali lebih cepat bila dibandingkan dengan kecepatan suara yang normalnya sekitar 1.238 km per jam.
Roket yang melampaui kecepatan suara itu diberi kode nama BFR (Big F*cking Rocket). Adapun, cara kerjanya terbilang unik: ia akan terbang ke luar atmosfer bumi, untuk kemudian kembali lagi menuju lokasi tujuan. Disebutkan bila pertama-tama, roket akan terbang melintasi orbit di sekitar bumi, kemudian roket itu akan menjatuhkan dirinya, mendarat tepat di kota yang dituju.
Dalam video ilustrasi yang beredar, digambarkan bila para penumpang dari New York akan diarahkan menuju laut. Di sana telah terdapat sebuah dermaga tempat roket memarkirkan dirinya. Para penumpang kemudian akan dipersilakan masuk ke dalam roket tersebut.
Alih-alih menuju ke planet lain, roket itu akan memisahkan sebagian tubuhnya saat tengah berada di luar atmosfer bumi. Kemudian, ia akan mendaratkan bagian yang tersisa di sebuah dermaga di kota lainnya, Shanghai.
Hanya butuh 39 menit untuk melakukannya. Waktu tempuh pesawat normal? 15 jam 10 menit.
Di dalam skema hitung-hitungan yang ada, dijelaskan waktu tempuh dari Hongkong ke Singapura akan memakan waktu 22 menit. Sementara, dari London ke Dubai akan memakan waktu 29 menit. Kita juga dapat membayangkan bila musim haji tiba, para jamaah haji dari Jakarta dapat tiba di Makkah sekitar 30 menit saja. Durasi ini jelas begitu fantastis, mengingat jarak antarnegara tersebut terpisah ribuan kilometer.
Namun, antusiasme itu agaknya masih harus diperam terlebih dahulu. Untuk saat ini, Musk memaparkan bahwa roket baru tersebut masih sebatas hitung-hitungan di atas kertas. Meski demikian, Musk optimis bila ia akan memulai konstruksi roket tersebut enam sampai sembilan bulan ke depan.
Sebagai sebuah optimisme, proyek Musk ini patut diapresiasi. Musk mengajarkan bahwa mimpi dan imajinasi adalah upaya menciptakan kehidupan yang lebih baik. Meskipun begitu, bukan berarti ide Musk ini hadir tanpa cela dan kritikan. Apa yang ditawarkannya menyisakan satu hal penting yang harus ditelaah, yaitu soal uji coba dan standar keamanan para penumpang di dalamnya.
Selama ini, roket yang diterbangkan oleh SpaceX merupakan roket tanpa awak. Belum pernah ada manusia yang ikut menunggani roket-roket uji coba itu sama sekali. Selama itu pula, roket itu hanya mengirimkan kargo ataupun satelit ke Stasiun Luar Angkasa (ISS).
Sementara, bila melihat jejak rekam dari SpaceX sendiri, terlihat bahwa roket tanpa awak pun tidak selalu aman ketika diterbangkan. Beberapa kali, roket tersebut meledak, bahkan ketika baru hendak diluncurkan.

Dua tahun lalu, tepatnya pada 28 Juni 2015, bertempat di Cape Canaveral Air Force Station, Florida, AS, kapsul robotik Dragon mengudara menggunakan Roket Falcon 9. Awalnya peluncuran roket itu berjalan sesuai rencana, tetapi selang 2 menit kemudian, Roket Falcon 9 jatuh dalam kondisi terbakar. Peristiwa itu berlanjut dengan ledakan yang cukup besar. Beruntung tidak ada korban jiwa pada insiden tersebut.
Satu tahun setelah peritiwa itu, lagi-lagi Roket Falcon 9 mengalami ledakan saat melakukan uji coba di tempat yang sama. Peristiwa nahas itu terjadi tepat pada 1 September 2016. Asap tebal pun menyelimuti lokasi kejadian.
Dalam sebuah twitnya, Musk menyebut bahwa ledakan tersebut dipicu oleh tangki oksigen bagian atas yang terjadi selama pengisian bahan bakar. Hal itu diakui memang luput dari pengamatan SpaceX.
Padahal, kala itu, misi yang diemban Roket Falcon 9 adalah membawa satelit Amos 6 milik Facebook. Tujuannya mulia, yaitu dalam rangka penetrasi program internet.org, yang menyediakan akses internet buat mereka di belahan bumi Afrika.
Kekecewaan tidak dapat dipendam oleh CEO Facebook, Mark Zuckerberg. Ia begitu menyayangkan kegagalan peluncuran roket tersebut. Terlebih ia kehilangan Rp 2,5 triliun atas meledaknya satelit yang dibahwa oleh Roket Falcon 9.
“Saya sangat kecewa mendengar kegagalan peluncuran SpaceX yang menghancurkan satelit kami, padahal satelit itu dapat menyediakan konektivitas bagi begitu banyak pengusaha dan orang lain di seluruh benua,” tulis Zuckerberg dalam laman Facebook miliknya.
Renteten ledakan yang terjadi dua kali dalam 15 bulan terakhir itu pada akhirnya menghasilkan investigasi bersama antara SpaceX, FAA, NASA, Angkatan Udara AS, hingga para praktisi industri. Kala itu sempat berhembus kabar bila ada sabotase dari perusahaan lain yang ingin menghancurkan nama SpaceX.
Meskipun demikian, kabar akan sabotase tersebut tidak pernah terbukti. Fokus investigasi justru diarahkan pada tangki oksigen cair. Lebih spesifik lagi, investigasi diarahkan pada sistem helium kriogenik di dalam tangki oksigen cair.
Empat bulan investigasi dilakukan, diketahui bahwa pemantik ledakan tersebut terjadi karena adanya kegagalan satu dari tiga tutup composite overwrapped pressure vessels (COPVs) di dalam tangki oksigen cair.
Yang jadi persoalan kemudian adalah, SpaceX dianggap masih belum siap untuk menerbangkan manusia secara massal. Kegagalan SpaceX dalam mendeteksi secara dini mengenai kesalahan kecil, menandakan ada kemungkinan celaka buat para penumpang yang bisa saja terjadi kapan saja.
Kecurigaan semacam itu yang dikemukakan oleh seorang ahli astrofisika, yang sekaligus merupakan pembawa acara National Geographic Channel StarTalk, Dr. Neil deGrasse Tyson. Dalam wawancaranya dengan The Verge, pada 24 November 2015, ia menyatakan bahwa membayangkan SpaceX sebagai moda transportasi luar angkasa adalah sesuatu yang delusional.
Dalam pandangannya, selain kritik atas model bisnis yang digunakan oleh SpaceX hingga soal biaya perjalanan luar angkasa yang kerap tak masuk akal, alasan keamanan jelas menjadi pertimbangan bagi Tyson. Baginya, membawa manusia melintasi orbit bumi adalah sesuatu yang berbahaya.
"Mereka akan bertanya, 'Apakah itu berbahaya?' Anda akan berkata, 'Ya, orang mungkin akan mati,' "kata Tyson pada The Verge.
Menanggapi berbagai macam kekhawatiran atas keselamatan penerbangan Roket, Musk menyatakan bila pada dasarnya, SpaceX dirancang untuk melebihi tingkat keamanan maskapai penerbangan yang telah ada saat ini. Ada banyak penyempurnaan yang terus dilakukan di setiap harinya.
“Desain mesin penerbangan semakin lebih ringan dan kencang, dan sangat fokus pada kehandalan armada. Tujuannya adalah untuk memenuhi atau melampaui tingkat keselamatan penumpang penerbangan (yang sudah ada sekarang)," ujar Musk seperti dikutip dari Futurism.
=============== Simak ulasan mendalam lainnya dengan mengikuti topik Outline!
