Mengenal Somantri Ahmad, Pria 62 Tahun yang Jago Bikin Foto Lucu di FB

Konten receh kerap menjadi pelarian bagi netizen di tengah hiruk pikuk informasi hoaks atau berbagai konten negatif di media sosial. Berbagai akun lawak sudah menjadi konsumsi sehari-hari bagi para pengguna Twitter dan Instagram yang butuh tertawa.
Di Instagram, netizen mengandalkan akun seperti @awreceh atau @recehtapisayang untuk asupan humor receh mereka. Sementara di Twitter, ada akun @hati2dimedsos hingga @budesumiyati yang selalu menyediakan konten bermuatan lawakan tiada henti.
Lalu bagaimana dengan netizen Facebook, yang jika kita lihat kebanyakan penggunanya adalah generasi baby boomer alias orang tua?
Mungkin konten receh cenderung lebih dicintai oleh generasi milenial dan selanjutnya, namun bukan berarti tidak satu pun orang tua yang mampu membuat konten receh yang bisa menyenangkan netizen dari semua kalangan.
Seperti sosok Somantri Ahmad, pengguna Facebook yang hobi edit foto hingga kelucuan tingkat absurd, yang kontennya viral di berbagai media sosial. Ternyata, bapak-bapak berusia 62 tahun ini memang rutin memposting konten lucu di akun Facebook-nya.
Kalau dilihat dari hasil editannya, Somantri benar-benar tidak memiliki konsep lain selain tujuannya menghibur para netizen Facebook. Ia sendiri mengaku, inspirasinya dalam membuat konten-konten kocak itu hanyalah untuk membuat teman-temannya tertawa.
“Inspirasinya satu aja, bikin joke, itu aja. Bikin orang terhibur, bikin orang tertawa,” kata Somantri, saat dihubungi kumparan.
Berawal dari hobi fotografi, Somantri kerap membagikan foto-foto terbaiknya di Facebook. Namun, karyanya itu ternyata tidak mendapatkan banyak perhatian dari kawan-kawannya. Hingga akhirnya, pada 2015 ia memutuskan untuk mengeksplorasi kreativitasnya dengan mengedit foto menjadi konten lawak yang ternyata mendapatkan banyak reaksi.
“Beberapa kali saya posting di FB ada yang foto hasil editan fotografi sepertinya karya fotografi yang mengemukakan seni, tapi reaksi teman-teman di FB biasa saja. Tapi setelah saya coba upload foto ngocol yang joke itu tahun 2015 ternyata reaksi teman-teman luar biasa. Sejak saat itu mulai. Saya ingat tanggal 14 Mei 2015 itu mulai,” cerita Somantri.
Tentu saja, karya Somantri ini menjadi penyegaran bagi para pengguna Facebook yang mencari konten lawak, tidak seperti Twitter dan Instagram. Ia pun bahagia melihat kontennya dapat menghibur banyak orang, sehingga ia tidak keberatan menjadikan kegiatan edit foto kocak jadi rutinitasnya setelah pensiun.
“Senang sekali-lah karena kan setelah pensiun enggak ada kerjaan jadi kerjaannya seperti itu. Anak-anak netizen itu bilang orang tua gabut,” ujar pria berusia 62 tahun tersebut.
Pakai alat sederhana
Ya, meski usianya sudah tidak lagi muda, ayah dari dua anak ini mampu mengikuti selera humor generasi kekinian yang tidak kalah kocaknya dengan berbagai meme yang diproduksi kaum muda. Padahal, tool yang dia gunakan juga sederhana, yaitu kamera digital, tripod dan Photoshop.
Ia bercerita bahwa skill editing yang ia miliki saat ini merupakan hasil belajar dari tabloid PC Plus. Saat itu, a membaca artikel berjudul Tutorial dan Trik Adobe Photoshop yang ditulis oleh Vincent Bayu tapa Brata.
“Itu tulisan yang saya jadikan acuan sampai sekarang itu. Itu jadi inspirasi saya sekarang kalau edit foto. Jadi tool-tool di PC Plus ini sangat real, sangat detail, sangat jelas," ungkapnya.
Selain itu, Somantri yang merupakan pensiunan guru SD di Dinas Pendidikan Bogor, mengatakan bahwa ia merasa beruntung karena pernah diberi tanggung jawab sebagai sekretaris Kepala Sekolah. Gara-gara itu, ia mendapatkan kesempatan untuk mempelajari komputer, di saat orang lain di generasinya belum mengetahui keberadaan teknologi tersebut.
“Jadi dulu di sekolah tahun 1998 itu, sudah ada komputer Windows 98, sayalah yang ditunjuk untuk mempelajari komputer. Kebetulan saja jadi saat itu kenal komputer, kenal aplikasi komputer pas yang lain mungkin masih tidak tahu komputer, saya sudah tahu komputer. Itu keberuntungan saja di situ. Sampai sekarang gadget ini populer, saya sudah adaptif dengan teknologi,” cerita Somantri.
Tak sedikit juga mantan muridnya yang membeberkan sosok Somantri saat masih menjadi guru. Mereka cukup terkejut melihat mantan gurunya tersebut beraksi kocak hingga viral di internet. Padahal, Somantri dianggap sebagai sosok pendiam dan cuek saat masih mengajar.
“Beberapa komentar anak murid yang sekarang ada di Twitter mereka bilang ‘ini aneh guru saya dulu waktu ngajar sangat jaim pendiam cuek, tiba-tiba sekarang jadi ngocol’,” kata Somantri.
“Aslinya saya pendiam, saya enggak humoris sama sekali, enggak. Jadi untuk bikin humor itu butuh plot. Jadi untuk bikin foto seperti yang kemarin itu, yang angkat motor, jadi pertama plotnya itu gombal,” lanjutnya.
Viral di media sosial
Meski kontennya laris manis, Somantri hanya menayangkan hasil foto editan kocak setiap Sabtu. Hal itu dikarenakan sulitnya merealisasikan ide liarnya ke dalam sebuah foto lucu dalam sekejap. Ada prosesnya untuk melahirkan ide-ide terbaru baginya.
“Kalau sedang tidak punya gambar, foto untuk di-upload biasanya jokes-jokes seperti itu (tulisan saja). Karena tidak setiap hari ada kan. Joke-joke lain yang sifatnya cerita pendek, tidak ditentukan harinya. Bisa kapan saja, kecuali hari Jumat. Kalau hari Jumat enggak berani untuk bikin joke,” jelas Somantri.
Di sisi lain, semakin melejitnya popularitas Somantri di dunia maya, tak sedikit netizen yang justru mengkritik hasil karyanya tersebut. Ada berbagai komentar yang berdatangan dari netizen. Namun, Somantri mengatakan kalau dirinya tidak ambil pusing soal itu. Menurutnya, itu hanyalah perbedaan selera humor.
“Di internet banyak yang komen, banyak yang komen editannya kurang halus, tidak rapi dan sebagainya. Sebetulnya substansinya bukan itu, karena ini bukan karya fotografi, ini hanya joke shitposting,” jelasnya
Selain itu, Somantri juga bercerita soal bagaimana ia harus beradaptasi dengan cara para netizen milenial mengungkapkan kekaguman pada candaannya. Ia mengakui, generasi milenial dan kekinian cenderung melontarkan kalimat kasar ketika mereka dihadapkan dengan konten receh yang menggelitik.
“Untuk menyatakan kekaguman mereka bilang ‘gila banget’ padahal itu kan menyatakan kekaguman. ‘Ini bapak-bapak anjing amat’ atau ‘bangsat receh amat’ tetapi saya pahami bangsat itu kekaguman juga. jadi ya menghadapi yang seperti itu biasa saja, tidak merasa tersinggung,” ceritanya.
Karena kegigihannya mencari ide dan mengedit foto menjadi konten yang menghibur masyarakat internet, kini Somantri sudah memiliki lebih dari 20.000 pengikut di Facebook. Foto-foto lucu buatannya bisa mendapatkan lebih dari 1.000 reaction dan ratusan komentar.
Ke depannya, Somantri akan terus melakukan kegiatan yang ia sukai ini untuk mengisi hari-hari pensiunnya. Dia senang dapat menghibur orang banyak melalui karya-karyanya.
